kuping kiri

Alissa Wahid: Gus Dur Berlebihan Mencintai Bangsa Ini, Sehingga Orang Mencintainya

Alissa Wahid: Gus Dur Berlebihan Mencintai Bangsa Ini, Sehingga Orang Mencintainya

Cirebonplus.com (C+) Sewindu Haul Gusdur dan Kiai-kiai Cirebon diperingati di kampus Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Jalan Swasembada, Majasem, Cirebon, Jumat (12/1). Penyelenggaranya ISIF, Pelita, komunitas Gusdurian Cirebon , dan Fahmina Institut.

Sejumlah mata acara diadakan, antara lain pelatihan pembuatan shoot movie untuk toleransi serta perdamaian dan media sosial yang diikuti kalangan mahasiswa dan santri di Cirebon. Acara pamungkas juga diisi tahlil dan testimoni-testimoni mengenang sang pejuang demokrasi itu.

Dalam acara pamungkas tampak hadir putri sulung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Alissa Wahid, KH Husein Muhammad, KH Syakur yasin, Ketua Lakpesdam PBNU Dr Rumadi Ahmad PBNU dan Sekretarisnya KH Marzuki Wahid, Rois Syuriah PCNU Kabupaten Cirebon KH Wawan Arwani, dan Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Cirebon KH Aziz Hakim Syaerozi, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon dari PKB Hj Yuningsih. Tampak pula tokoh lintas agama di Cirebon mulai dari Budha, Katolik, Protestan, Hindu, Konghucu, dan para pecinta Gus Dur.

Alissa Wahid yang diberikan kesempatan pertama menyampaikan sambutan mengenang Gus Dur mengaku senang bisa berkumpul bersama tokoh dan pecinta Gus Dur di Cirebon. Menurutnya, Gus Dur suka berkumpul dan mengumpulkan banyak orang dari berbagai latar belakang.

“Berkumpul ini adalah tradisi yang diwariskan Gus Dur. Ia menghormati siapa saja, karena bagi Gus Dur semua orang sama terhormatnya,” ujar Alissa membuka sambutannya.

Menurutnya, tidak terasa delapan tahun berlalu. Rasanya baru kemarin tanggal 30 Desember 2009 mengebumikan jenazah beliau di tempat kelahiran di Jombang.

“Saya sempat menangis sejenak, namun berubah seketika melihat hujan bunga. Rupanya banyak orang yang dating membawa bunga, tapi karena padat orang dan susah mendekat ke makam, maka dari kejauhan masyarakat menaburkannya, hingga hujan bunga,” cerita Alissa.

Gus Dur, sambungnya, mungkin terlalu berlebihan mencintai bangsa ini. Sehigga hingga saat ini orang juga mencintainya dan namanya terus muncul dalam momen-momen penting bangsa ini.

Saat kondisi politik tidak karuan namanya disebut. Saat bangsa ini mengalami kebuntuan dalam proses demokrasi orang ingat Gus Dur. Pada saat orang-orang berebut kekuasaan, orang rindu Gus Dur. Saat minoritas kembali dipojokkan, banyak yang ingat Gus Dur.

“Kalau istilah anak zaman now masih trending topics. Mengapa demikian?

Ia ingat kata orang bijak, yang tertinggal dari pemakaman hanyalah jasa. Sosok suri tauladan seorang pemimpin akan pulang bersama peziarah, dan tetap hidup sebagai inspirasi, di zaman yang penuh kobaran dan kebencian, penuh rasa saling curiga, penuh perebutan kekuasaan, penuh sikap benar sendiri banyak yang menjadi teringat kepada almaghfurlah Gusdur.

“KH Maimun Zubair pernah bertanya kepada KH Mustofa Bisri, sahabat Gus Dur. Gus Dur itu amalannya apa sih, kok banyak orang berziarah tak putus-putus. Kata Gus Mus, Gus Dur mencintai manusia, maka manusia mencintainya,” kata dia yang disambung dengan pembacaan puisi karya Zawawi Iimron saat wafatnya Gus Dur. (*)

Laporan: Khoiron Yasir

Related posts