kuping kiri

Arang Bambu Betung Bisa Jadi Komponen Baterai, Ini Penjelasannya

Arang Bambu Betung Bisa Jadi Komponen Baterai, Ini Penjelasannya

Cirebonplus.com (C+) – Anda punya kebun bambu jenis betung? Bisa jadi aset yang Anda miliki tersebut memiliki nilai ekonomi lebih besar ketimbang jual lepas saat ini, bila Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bisa mendorong pengembangan hasil penelitian tentang pemanfaatan bambu betung menjadi bahan baterai.

Riset tersebut dilakukan Balai Riset dan Standardisasi (Baristand) Industri yang mampu berinovasi menjadikan arang bambu sebagai komponen baterai. Untuk diketahui Baristan merupakan salahsatu elemen Kemenperin dalam bidang penelitian dan pengembangan agar menghasilkan inovasi yang dibutuhkan oleh pelaku industri.

“Arang bambu ini sebagai pengganti grafit pada komponen baterai. Bambu yang digunakan adalah bambu betung yang merupakan potensi alam yang ada di Indonesia,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara di Jakarta, pekan lalu.

Ngakan menjelaskan, selama ini komponen baterai kering yang umum digunakan berasal dari bahan grafit. Sedangkan grafit sendiri merupakan mineral tambang alam yang bersifat tidak dapat diperbaharui.

“Potensi tambang grafit di Indonesia terdapat di Pulau Sumatera dengan sisa produksi tambang sekitar 2 juta ton atau dengan luasan area 30 hektare,” ungkap dia.

Karena itu, untuk mengurangi konsumsi karbon yang bersumber dari mineral alam, perlu dicari bahan baku yang bersifat lestari, seperti bambu. Penelitian pun langsung dilakukan oleh Baristand.

“Bambu sebagai tanaman yang dapat dibudidayakan yang memiliki waktu tanam sekitar 4-5 tahun. Selain itu, bambu memiliki komponen lignoselulosa tinggi sehingga kadar karbon dan oksigen melebihi 90 persen dari berat keseluruhan,” papar Ngakan.

Arang bambu dibuat melalui metode pirolisis, harus dilakukan karbonisasi pada suhu 500-600 derajat celsius menggunakan peralatan khusus. Selanjutnya, arang yang dihasilkan diaktivasi memakai bahan kimia asam dan basa serta diberikan tambahan logam untuk menaikkan kapasitas listriknya. Logam yang digunakan adalah logam seng (Zn) dan nikel (Ni).

“Kemudian, dibuat partikel nano menggunakan high energy mechanic (HEM) berbasis Ball Mill. Karbon yang dihasilkan diuji struktur dan sifatnya menggunakan Pressure Swing Adsorption (PSA), Scanning Electron Microscopy (SEM),  X-ray diffraction (XRD), dan konduktivitas,” ujarnya.

Ia meyakini, arang bambu akan mempunyai nilai atau kapasitas listrik yang lebih optimal apabila dapat dibentuk partikel ukuran nano. Pada tahap ini, masih dilakukan pengembangan lanjutan. Daya Hantar Listrik (DHL) paling tinggi diperoleh pada arang bambu betung dengan aktivator KOH dan di-dopping oleh logam Zn dengan nilai DHL 7,02 mS/cm.

Potensi pengembangan bahan baku baterai ini seiring pula dengan tingginya penggunaan smartphone atau gadget lain. Merujuk data Kementerian Komunikasi dan Informatika, konsumen smartphone di Indonesia pada tahun 2018 akan melampaui 100 juta orang atau menjadi negara pengguna aktif ponsel pintar terbesar keempat di dunia.

“Digitalisasi teknologi menjadi ciri dari masuknya sebuah negara ke era digital, termasuk Indonesia. Apalagi, Indonesia merupakan pangsa pasar yang sangat besar dengan total penduduk hingga 267 juta orang. Untuk itu, kita perlu menjadi tuan di negeri sendiri dengan menggunakan produk dan komponen lokal,” pungkas Ngakan dalam siaran pers Humas Kemenperin. (*)

Laporan: Redaksi C+

Related posts