kuping kiri

Awalnya Nyamar, Yoyok Akhirnya Jadi Pengusaha Sungguhan

Awalnya Nyamar, Yoyok Akhirnya Jadi Pengusaha Sungguhan

CIREBON (Ci+) – Tak banyak yang tahu ternyata sebelum menjadi bupati Batang, Provinsi Jawa Tengah, Yoyok R Sudibyo pernah menjadi pengusaha sukses. Kebanyakan mengira Yoyok memilih pensiun dini dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebelum mencalonkan diri sebagai bupati dari jalur independen.

Bukan pencalonan yang menyebabkannya pensiun diri sebagai tentara. Pilihannya untuk berhenti menjadi prajurit dengan pangkat terakhir mayor, dilakukan jauh sebelum berkompetisi di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Batang.

“Sebelum nyalon bupati, saya jadi pengusaha di Papua. Membuat tokoh dari 1, 2, 3, hingga 64 toko dibangun di sana,” ungkap Yoyok mengisahkan perjalanan hidupnya di hadapan peserta Talkshow Revolusi Mental yang diadakan Fahmina Institute di Gedung Negara, Krucuk, Cirebon, Senin (19/12).

Ada cerita menarik bagaimana akhirnya Bupati Yoyok menjadi pengusaha sukses. Ada keterkaitan dengan penugasannya sebagai anggota TNI.

Saat itu, kata Yoyok, berpangkat mayor saat konflik dengan separatis ditugaskan menyamar jadi pedagang di Aceh. Selang beberapa lama, ternyata adiknya yang sedang menempuh pelatihan kesatuan Brimob Polri juga mendapatkan penugasan yang sama di Aceh. Bahkan tempatnya berdekatan.

“Mungkin karena tidak boleh ada dua orang bersaudara bertugas di satu lokasi. Akhirnya saya pindah ke Papua dengan tugas penyamaran yang sama,” sambung lulusan Akademi Militer (Akmil) itu.

Tak disangka, lama kelamaan penyamaran bisnisnya sukses besar hingga punya 64 toko. Pada saat kondisi inilah kegalauan muncul untuk memilih salahsatunya, tentara atau businessman, sebab tak bisa memilih kedua-duanya.

Suatu ketika dia teringat perkataan relasi bisnisnya. Tak hanya dekat, sang mitra bisnis itu ternyata punya kepercayaan sangat besar sehingga bisa menaruh barang jualan dengan cara berhutang.

“Beliau bilang, kalau kamu mau maju jangan taruh kakimu di dua kapal yang berbeda. Taruh kakimu dengan sempurna di satu kapal, terserah mau melaju dengan kecepatan berapapun,” kata dia, seraya mengatakan, dari situlah akhirnya memilih menjadi wirausahwan. (Ci+111)

Related posts