kuping kiri

Bawaslu Gandeng Santri Awasi Money Politics dan Ujaran Kebencian

Bawaslu Gandeng Santri Awasi Money Politics dan Ujaran Kebencian

Cirebonplus.com (C+) – Satu bulan jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Cirebon gencar melakukan sosialisasi pengawasan partisipatif kepada kelompok masyarakat. Bila sebelumnya menggandeng beberapa komunitas perempuan untuk mengawasi Pemilu 17 April 2019 nanti, kali ini Bawaslu menggandeng sekelompok santri dari berbagai pondok pesantren di Kabupaten Cirebon untuk aktif menjadi pengawas Pemilu.

Sosialisasi pengawasan partisipatif kepada santri dilaksanakan di Hotel Sutan Raja Tuparev, Kabupaten Cirebon, Selasa (05/3). Ratusan santri mewakili berbagai pondok pesantren yang digandeng Bawaslu untuk mengawasi peserta pemilu, terutama pemilihan calon anggota legislatif.

Ketua Bawaslu Kabupaten Cirebon, Abdul Khoir mengatakan, santri termasuk bagian dari tim pengawasan pemilu untuk mengawasi peserta pemilu dalam berkampanye. Juga diharapkan mampu menjadi pengawas partisipatif melawan money politics (politik uang) dan menghindari ujaran kebencian.

Dikatakan, Bawaslu Kabupaten Cirebon sengaja mengundang dan melibatkan santri dalam rangka sosialisasi pengawasan partisipatif, karena nilai-nilai di pondok pesantren ada kesamaan dan serupa dengan Bawaslu. Yang dimaksud ada kesamaan dan serupa ini mampu mewarnai pengawasan partisipatif dalam rangka melawan money politics.

“Juga tentunya menghindari ujaran kebencian dan materi-materi kampanye lainnya yang disebut dilarang oleh pasal 280 misalnya Undang-Undang (UU) No 7 Tahun 2017,” sambung Khoir kepada Cirebonplus.com usai membuka acara sosialisasi, Selasa (5/3).

Khoir menganggap, santri menjadi komunitas khusus. Mereka serupa dengan siswa, tapi merupakan santri. Khoir juga mengakui, Bawaslu telah lakukan sosialisasi di kalangan para siswa, tapi berbeda dengan santri.

“Santri ini menjadi komunitas khusus, yang artinya bahwa mereka merupakan siswa tapi juga santri. Di kalangan siswa juga kita pernah melibatkan siswa-siswa SMK maupun tingkat SMA. Sedangkan yang santri ini, mungkin perlu kita beri edukasi dan perlu diberikan pencerahan terkait bagaimana perlunya pemahaman terkait undangan-undang maupun regulasi tentang pemilu itu sendiri,” papar Khoir.

Sementara itu, pemateri sosialisasi, Khairul Wahidin menilai, langkah Bawaslu mengadakan sosialisasi pengawasan kepada santri merupakan hal yang sangat tepat.

 

“Di pesantren itu kan biasanya tidak ada televisi dan telepon genggam. Melalui sosialisasi ini santri mengerti bagaimana pelaksanaan Pemilu 2019,” katanya.

Menurutnya, untuk meningkatkan partisipasi pemilu di pesantren, sosialisasi bisa disampaikan oleh ustad. Sehingga para santri mengerti dan paham hal-hal yang dilarang dan harus dihindari dalam Pemilu. (Muhamad Surya)

Related posts