kuping kiri

Belajar dari Keikhlasan Nyai Hj Fatmah, Pembela Alquran Sebenarnya dari Cirebon

Belajar dari Keikhlasan Nyai Hj Fatmah, Pembela Alquran Sebenarnya dari Cirebon

Al Kalamu utawi kang aran kalam. Huwa hiya kalam. Allafdzu iku lafadz. Al murokkabu kang den susun. Al mufidzu tur kang maedahi. Bil wadl’i kelawan den seja.

Feature by Bakhrul Amal

NENEK lanjut usia (lansia) itu masih dengan fasih dan lancar memaknai Kitab Nahwu Jurumiyah, panduan gramatika dasar bahasa Arab, dengan bahasa Jawa. Sebagaimana kekhasan pengajian di pesantren-pesantren Nahdlatul Ulama (NU) di Jawa.

Perempuan itu duduk di kursi tuanya dengan menebar senyum. Suaranya masih lantang saat menceritakan apa yang diingatnya saat diajar uwaknya, almarhum KH Abas Buntet. Perempuan yang penuh semangat itu adalah Nyai Hj Fatmah.

Nyai Hj Fatmah merupakan putri dari almarhum KH Bakrie Kasepuhan. Kia besar yang merupakan keturunan Raja Muhammad dari Kasultanan Kasepuhan. Beliau juga merupakan mantan pemimpin tarekat Tijaniah.

Usia Nyai Hj Fatmah kini telah mencapai kepala sembilan. Tidak banyak yang tahu berapa tepatnya, karena pada zaman dahulu kala catatan soal hal semacam ini belum tersusun dengan rapih.

Saat ditanya usia pastinya, beliau hanya sedikit memberi ancer-ancer. Nyai Hj Fatmah mengalami masa perang sebelum dan sesudah kemerdekaan.

Pada masa-masa itu beliau menjadi juru masak bagi tentara. Di kalangan masyarakat Desa Kasepuhan, utamanya ibu-ibu, Nyai Hj Fatmah dikenal sebagai guru ngaji. Dia juga didaulat sebagai pimpinan Majelis Reboan, sampai saat ini.

NGAJAR NGAJI
Sedari kecil, Nyai Hj Fatmah memang memiliki hobi mengaji. Siang, sore, bahkan sampai larut malam selalu dilalui tanpa lupa membaca Alquran. Saking cintanya dengan Alquran, kakak-kakaknya kemudian “menyumpahi” bahwa beliau akan menjadi guru ngaji dan penjaga Alquran.

“Tanggung jawabmu gede Fat. Tapi Insya Allah semuanya mudah,” kakaknya Kiai Juk mengatakan itu.

Benar saja, pada tahun 70-an Nyai Hj Fatmah tanpa sadar dan rencana, telah memulai karirnya sebagai guru ngaji secara sukarela. Menurutnya, itu adalah ibadaj semenjak tinggal di Kasepuhan.

Mulai dari satu, dua, hingga puluhan masyarakat kemudian berdatangan ingin diajari ngaji oleh Wa Pat, panggilan akrab Nyai Hj Fatmah. Saat itu baru beberapa tahun pindah dari Buntet.

Melihat murid yang semakin banyak, rumah bagian belakangnya kemudian disulap menjadi tajug. Tajug itulah yang nantinya menjadi tempat dia mengajar mengaji, mengadakan debaan, tarawih bersama, dan barzanjian hingga sekarang.

Kampung Kasepuhan pun menjadi berwarna semenjak kehadiran Nyai Hj Fatmah. Ibu-ibu yang mungkin umumnya biasa bergosip, pagi sekadar ke pasar, dan malam nonton televisi, mulai memiliki kebiasaan baru. Mereka menjadi semangat mengaji dan terorganisir dalam hal agama.

Nyai Hj Fatmah pun memberikan kesibukan mereka untuk saling keliling setiap hari Rabu, dari rumah satu ke rumah lainnya. Demi agenda membaca kitab kuning dan salawatan jamiyah ibu-ibu.

Dari sepanjang perjalanannya, tidak terhitung sudah berapa ribu pemudi dan ibu-ibu di daerah Kasepuhan, Pengampon, Banjarmelati, Cangkol, hingga kawasan Jalan Siliwangi yang ngaji. Murid yang semula buta sama sekali dengan Alquran berhasil khatam di tangan Nyai Hj Fatmah.

Semua yang telah dilakukannya itu tidak lantas membuatnya ingin dikenal seperti ustad atau ustadzah kekinian, yang baru hafal seayat langsung naik panggung, bahkan sering kali berani mengafirkan. Tidak pula mengomersialisi, karena tidak ada pungutan ketika hendak belajar mengaji kepada beliau.

Nyai Hj Fatmah justru berpesan dengan kerendahan hatinya. “Carilah kemuliaan (untuk) akherat jangan (untuk) dunia,” tuturnya.

Beliau juga berpesan kepada kaum mida. “Aja gemek dadi artis, engkoe males ngaji,” kata dia dalam bahasa Cirebon yang artinya jangan kepingin cepet-cepet jadi “artis”, nanti malas mengaji.

SAKIT MATA
Sskitar tiga minggu lalu Nyai Hj Fatmah baru sembuh dari sakit mata. Beberapa kawan dekatnya yang masih hidup, melihat matanya berkaca-kaca kemudian bertanya.

“Wa Pat, napa sih sedih banget. Lebih sedih dari pas pernah kena stroke dulu?”. Nyai Hajah Fatmah kemudian menjawab. “Isun wedi lamun ana apa-apa karo mata, watir beli bisa nerusaken ibadah nguruk ngaji (saya takut kalau menyangkut mata, takut tidak bisa mengajar ngaji lagi),” lanjut beliau.

MEMBELA ALQURAN

Pelajaran yang luar biasa. Hingga usianya 90 tahun lebih, beliau masih aktif mengajar ngaji dan mengkhatamkan Alquran bagi para ibu-ibu.

Di akhir perbincangan, mantan Ketua Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kota Cirebon itu, Nyai Hj Fatmah berpesan kepada yang muda-muda bahwa membela Alquran itu dengan mengaji, meresapi artinya, dan kemudian mengamalkan. Itulah intisari dari membela kesucian Alquran. (*)

KETERANGAN FOTO: Nyai Hj Fatmah bersama sesepuh Pondok Pesantren Buntet Cirebon, KH Nahduddin Abbas dalam satu kesempatan.

Related posts