kuping kiri

Berkah Milenial, Desa Didorong untuk Melek Ekonomi Digital

Berkah Milenial, Desa Didorong untuk Melek Ekonomi Digital

Cirebonplus.com (C+) – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) melalui Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PDT) gencar memperkenalkan ekonomi digital kepada masyarakat, khususnya yang berada di daerah tertinggal. Selain untuk pengetahuan dan komunikasi, juga dalam rangka mengangkat serta memasarkan produk unggulan desa ke pasar nasional.

Karena itu, dalam acara Deep Dive Series Agritech yang diselenggarakan oleh BLOCK71 Jakarta bekerjasama dengan kementeriannya beberapa hari lalu, Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal Samsul Widodo apresiasi anak-anak muda yang hadir dan telah mengembangkan bisnis start up di Indonesia. Selama ini, aplikasi yang dibuat bisa membantu para petani dan nelayan dalam memasarkan hasil panennya.

“Saya salut dengan generasi milenial ini. Sangat inovatif dan kreatif dalam mengembangkan ekonomi digital,” ujar Samsul dalam rilis Kemndesa PDTT yang diterima cirebonplus.com.

Alumnus FISIP Universitas Jember itu mengatakan, pemerintah harus berperan dalam mendukung berkembangnya bisnis start up di Indonesia. Di antaranya berusaha menciptakan ekosistem agar para pengusaha muda bidang ini bisa tumbuh.

Samsul bersama jajarannya sejauh ini memang sedang gencar memperkenalkan ekonomi digital kepada masyarakat, khususnya yang berada di daerah tertinggal. Sampai dengan saat ini, sejak Januari lalu kurang lebih sudah bertemu 30 perusahaan start up.

“Beberapa di antaranya sudah mulai terlihat hasilnya, seperti pemasaran alpukat Soe melalui RegoPantes dan lain-lain,” kata dia.

Dikatakan, dengan menjual secara online, para petani mendapatkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan menjual kepada pengumpul ataupun pedagang. Persoalan petani selama ini adalah mereka tidak bisa menjual hasil panennya dengan harga tinggi, bahkan tak jarang hasil panen sulit untuk dijual, karena tidak adanya pasar atau pembeli.

“Di Kabupaten Tojo Una Una misalnya, kami sudah kerja sama dengan Hexa Agro sebagai offtaker hasil jagung di sana. Kami juga menggandeng Bank BNI untuk memberikan Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada para petani,” ungkap Samsul.

Dengan demikian, para petani tidak perlu lagi bingung menjual hasil panennya dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan menjualnya ke tengkulak.

“Saya memiliki ambisi setiap 1 kabupaten memiliki 10 produk unggulan yang siap dijual secara online, karena sudah kerja sama dengan BLANJA.com. Di situ sudah disediakan tempat untuk menjual produk-produk dari daerah tersebut,” ujarnya. (*)

Laporan: Redaksi

Related posts