kuping kiri

Butuh Kajian Matang, Mulok Sejarah Cirebon Bisa Meluruskan Informasi yang Salah

Butuh Kajian Matang, Mulok Sejarah Cirebon Bisa Meluruskan Informasi yang Salah

CIREBON (Ci+) – Wacana pelajaran muatan lokal (mulok) sejarah Cirebon terus menggelinding. Sejumlah pihak menyarankan untuk segera berkonsultasi dengan pemangku kebijakan, dalam hal ini pemerintah, dan kajian lebih matang.

Ketua Yayasan Tarbiyyatul Islaamiyyah Al Ghazali Astanajapura, Abdurrohim Muhdi misalnya, sangat setuju bila sejarah Cirebon menjadi mulok di sekokah-sekolah, baik dasar maupun menengah. Hal itu sangat positif agar generasi mendatang tidak putus akar sejarahnya.

“Di yayasan kami ada sekolah sejumalah tingkatan, mulok sejarah Cirebon setuju dan penting. Tetapi tidak mudah prosesnya menjadi mulok. Butuh proses prosedural yang panjang,” ujar

Terpisah, dosen Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon, Mohamad Joharudin MPd berpendapat, mulok sejarah daerah sebenarnya bisa dimasukkan dalam pembelajaran bahasa Cirebon, tetapi konten yang lebih luas dan dalam. Namun, bila ingin lebih formal, harus ada kajian akademik agar konten-kontennya terintegrasi dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

“Praksisnya, akan melibatkan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) IPS. Sampai dengan penulisan buku ajar IPS yang bermuatan tersebut,” kata mantan jurnalis ini.

Baginya, mulok sejarah sangat penting, di antaranya untuk meluruskan sejarah. Sekadar contoh, hingga saat ini masih banyak kalangan, termasuk akademisi sejarah yang menganggap Fatahillah adakah Sunan Gunung Jati, padahal bukan.

Contoh lainnya adalah tentang revolusi sosial yang digagas Sunan Gunung Jati, saat ini yang dikenal hanya Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin. “Itupun lebih banyak direproduksi oleh para politisi dan pimpinan daerah untuk pencitraan mereka,” pungkasnya. (*)

Laporan: Hamdi Muntadir

Related posts