kuping kiri

Cirebon Lebih Awal Setia NKRI, Menjaganya Melalui Pengamalan Pesan Sunan Gunung Jati

Cirebon Lebih Awal Setia NKRI, Menjaganya Melalui Pengamalan Pesan Sunan Gunung Jati

Cirebonplus.com (Ci+) – Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati. Karena itu, jangan coba-coba merongrong NKRI!

Ultimatum tersebut secara tegas tersirat dalam ikrar bersama kaum muda Kota Cirebon dari berbagai latar belakang. Mereka menamakan dirinya Pemuda Nasional Religius.

Ikrar yang dibacakan di Halaman Masjid Agung Sang Cipta Rasa itu, menjadi komitmen mereka untuk menjaga negara dari rongrongan segelintir oknum bangsa ini. Terutama penganut ideologi yang datang dari mancanegara, baik Barat maupun Timur.

Penegasan komitmen tersebut dirasa perlu, sebab bangsa ini tengah menghadapi tantangan yang tidak kecil, di antaranya adalah keinginan untuk mengganti ideologi negara yang dianggap tidak sesuai dengan kondisi Indonesia. Ada tiga butir kesepakatan yang diikrarkan dalam kegiatan bertajuk Membumikan Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin.

Pertama, kami sebagai bagian dari masyarakat Kota Cirebon setia dan cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kedua, kami sebagai bagian dari masyarakat Kota Cirebon bertekad menjaga dan mengaplikasikan Pancasila, dan ketiga kami sebagai bagian dari masyarakat Kota Cirebon berkomitmen untuk mewujudkan Cirebon sebagai Kota Wali yang religius, berperadaban luhur, berbudaya mulia, penuh toleransi dan menjadi rahmat bagi semua, sebagaimana diwariskan Sunan Gunung Jati.

Demikian ikrar yang dibacakan Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Cirebon, Ahmad Banna, diikuti oleh para pemuda lintas organisasi yang hadir dalam kesempatan tersebut. Sejumlah elemen yang hadir dalam kegiatan tanggal 17 Juni itu antara lain GP Ansor Kota Cirebon, Laskar Macan Ali, PGIS, komunitas Tionghoa, Banser, dan lainnya.

Ketua Pelaksana, Jili Maulana menyampaikan harapannya dari agenda strategis tersebut. Yang paling utama adalah keinginan untuk merekatkan kembali hubungan keagamaan di tengah masyarakat.

Ia melihat, karena penafsiran yang tidak tepat terhadap teks agama, bisa mengakibatkan saling curiga. Kondisi inilah yang secara nyata telah merenggangkan hubungan antarmasyarakat.

Pihaknya ingin masuk lewat budaya untuk kembali menguatkan kebersamaan antarelemen masyarakat. “Bagi kami budaya adalah kunci mempersatukan bangsa,” tandasnya.

Konseptor kesepakatan bersama yang memunculkan tiga butir, Bakhrul Amal juga menjelaskan pandangannya. Pegiat Pancasila dan dosen Unusia Jakarta asal Cirebon itu menegaskan, jangan pernah ragukan kesetiaan masyarakat Kota Cirebon terhadap NKRI.

Dulu, sambung dia, Cirebon adalah kota yang pertama kali mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 16 Agustus 1945. Satu hari sebelum Ir H Soekarno dan H Mohammad Hatta membacakan irar kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta.

Berikutnya, kata dia, sejak zaman Sunan Gunung Jati seluruh elemen masyarakat di Kota Cirebon hidup damai dan emegang teguh keyakinannya secara bebas. Selain itu, juga saling musyawarah dalam menyelesaikan masalah.

“Oleh sebab itu, Cirebon sangat-sangatlah Pancasila. Bangunan masjidnya saja hasil gabungan dari beberapa unsur suku, agama, namun bisa diterima dalam bingkai Islam,” tutur dia.

Yang tak kalah penting, kata dia, masyarakat Cirebon juga harus belajar dari petatah petitih Sunan Gunung Jati. Pertama, wedia ning gusti Allah. Dengan takut kepada Allah, tidak akan merasa paling benar di muka bumi ini.

Yang kedua, den welas asih ing sapapada atau saling menyayangi sesama manusia. Kehidupan yang yakin pada kebesaran Allah, maka akan rukun, akur, dan tenteram.

“Terakhir adalah aplikasinya dalam bentuk titip tajug lan fakir miskin. Dititipi tajug itu maksudnya jangan tinggal salat, ngaji, dan zikir. Dititipi fakir miskin, artinya Sunan Gunung Jati mau seluruh masyarakat Kota Cirebon itu sejahtera, saling kuat menguatkan,” paparnya. (*)

Laporan: Khoirun Yasir

Related posts