kuping kiri

Februari Kasus DBD Naik Lebih dari 100%, Warga Diminta Jaga Lingkungan Masing-masing

Februari Kasus DBD Naik Lebih dari 100%, Warga Diminta Jaga Lingkungan Masing-masing

Cirebonplus.com (C+) – Masyarakat diminta  waspada terhadap serangan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang diakibatkan nyamuk aedes aegypti. Seiring makin tingginya intensitas hujan, jumlah kasus DBD juga makin bertambah.

“Kalau kita bandingkan dengan bulan yang sama pada tahun kemarin 2018 Januari hanya 22 kasus, namun, sekarang mencapai 62 kasus. Itu pun merata, hampir semua kabupaten se-Jawa Barat,” ujar Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon, Sartono saat ditemui Cirebonplus.com, Kamis (7/2).

Sartono menjelaskan, siklus DBD semakin meningkat mulai Desember akhir 2018 hingga rentang lima bulan pertama di tahun 2019. Semua diminta waspada. Sedangkan bulan Juni sampai November, masa-masa penguatan di bawah dalam pemberantasan nyamuk.

Meskipun demikian, di Kabupaten Cirebon setiap tahunnya kasus DBD trennya semakin menurun. Dalam lima tahun terakhir menunjukkan penurunan penderita DBD yakni tahun 2014 ada 865 kasus , 1.274 di tahun 2015, tahun 2016 mencapai 1.877 kasus, di tahun 2017 ada 274 kasus, dan terakhir tahun 2018 hanya 215 kasus.

Atas kondisi tersebut Dinkes Kabupaten Cirebon, gencar melakukan berbagai upaya mulai dari fogging atau pengasapan hingg sosialisasi kepada masyarakat untuk pencegahan dan pemberantasan nyamuk Aedes Aegypti penyebab penyakit DBD.

“Melalu jejaring Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di bawah naungan Dinkes, setiap hari Jumat diwajibkan menyelenggarakan pencanangan pemberantasan nyamuk. Intinya kita melakukan kegiatan 3M dan setia Puskesmas atau kecamatan wajib melakukan hal yang sama,” lanjut Sartono.

Menurutnya, gerakan 3M yang dimaksud yakni menutup, menguras dan mengubur. Kegiatan ini akan terus disosialisasikan kepada masyarakat oleh pihak Dinkes.

“Bagaimana caranya? Kita memahamkan masyarakat agar rutin melakukan kegiatan 3M. Karena kegiatan itu adalah cara yang sangat efektif dalam memberantas sarang nyamuk,” ungkap Sartono.

Dikatakan, dalam pencegahan DBD tidak cukup hanya dilakukan oleh Dinkes. Masyarakat juga harus melakukan hal yang sama, minimal di lingkungannya masing-masing.

“Dalam pencegahan DBD kami sangat membutuhkan bantuan dari warga. Karena masyarakat kunci penting dalam pemberantasan nyamuk,” tandas Sartono.

Sartono menilai, pemberantasan nyamuk menggunakan fogging sangat tidak efektif dan berbahaya bagi pernapasan. Karena yang dikeluarkan oleh asap fogging adalah zat kimia yang sangat bahaya bila terhirup manusia. Apalagi fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, bukan jentiknya. (M Surya)

Related posts