kuping kiri

Gadis “Suci” Ngarot Bermahkota Bunga Keliling Desa Lelea, Pertanda Musim Tanam Dimulai

Gadis “Suci” Ngarot Bermahkota Bunga Keliling Desa Lelea, Pertanda Musim Tanam Dimulai

Cirebonplus.com (C+) – Kabupaten Indramayu punya tradisi ikonik yang tidak ditemukan di daerah lain. Namanya Adat Ngarot. Setiap tahun, acara adat tradisi di Desa Desa/Kecamatan Lelea itu selalu menyedot ribuan pengunjung.

Rabu (19/12), Adat Ngarot digelar. Ribuan masyarakat tumpah ruah di halaman Balai Desa Lelea. Mereka dating dari berbagai daerag hanya untuk menyaksikan prosesi Adat Ngarot yang telah menjadi kegiatan rutin pemerintah desa (pemdes) setempat.

Jalanan dari berbagai penjuru pun macet karena massa menyemut. Kemacetan mulai terasa sejak Jalan  By Pass Pantura Desa Larangan yang merupakan akses masuk menuju Desa Lelea. Di sepanjang kanan-kiri jalan, ratusan pedagang berjajar menjajakan dagangannya yang membuat kemacetan bertambah parah.

Tradisi Adat Ngarot merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat, berkah dan rezeki kepada petani. Tradisi ini menjadi salahsatu ikon budaya di Kabupaten Indramayu, karena hanya Kota Mangga yang memilikinya.

Dalam masyarakat berkultur agraris seperti Desa Lelea, Adat Ngarot merupakan suatu tradisi untuk memulai masa bercocok tanam di sawah yang dilakukan sejak abad 16 yang lalu dan sampai sekarang di musim penghujan (rendeng). Atas konsistensinya dalam merawat tradisi budaya ini, pada tahun 2015, UNESCO menetapkan Adat Ngarot sebagai bagian dari warisan budaya tak benda (intengible).

Prosesi Adat Ngarot Desa/Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu dimulai dengan pawai puluhan gadis yang bermahkotakan bunga di kepalanya. Dipimpin oleh kepala desa, gadis Ngarot mengelilingi batas-batas desa diiringi para jajaka di belakangnya.

Setelah menyusuri batas-batas desa, barulah gadis dan jajaka itu berkumpul di balai desa untuk mendengarkan wejangan atau petuah dari tetua desa.

Di akhir prosesi, diserahkan sarana pancausaha tani seperti bibit padi, kendi berisi air, cangkul, parang, dan lain-lain secara simbolik kepada perwakilan gadis dan jejaka Ngarot. Penyerahan sarana pancausaha tani itu menjadi penanda dimulainya masa menggarap sawah di musim rendeng yang dilakukan secara masal oleh masyarakat Desa Lelea, untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka selama satu tahun ke depan. Acara ditutup dengan tarian longser.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Indramayu, Drs H Carsim mengatakan, tradisi Adat Ngarot merupakan rangkaian yang panjang dari usaha manusia untuk mengekspresikan rasa syukurnya terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa atas melimpahnya panen padi di tahun sebelumnya. Rangkaian itu yakni didahului oleh sedekah bumi, ngunjung, durugan (mencangkul), lantas Ngarot yang artinya jeda untuk minum.

“Masyarakat Desa Lelea melakukan tradisi adat ini sebagai tanda dimulainya masa menanam padi secara serentak,” katanya.

Carsim menegaskan, pihaknya akan terus merawat, memelihara, dan meneruskan tradisi Adat Ngarot ini sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia. Menurutnya, banyak hal yang positif dari tradisi ini, di antaranya mengedukasi pemuda-pemudi untuk bercocok tanam di sawah sebagai bekal kehidupan mereka.

“Saya kira ini berhubungan dengan ketahanan dan kedaulatan pangan juga. Karena di sisni pemuda dibekali bibit padi dan cangkul sebagai sebuah simbol agar mereka rajin bekerja di sawah untuk memenuhi kebutuhannya, juga mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kita,” tandasnya.

Tradisi Adat Ngarot memang identik dengan gadis bermahkotakan bunga. Daya tariknya ada di situ. Konon mitosnya, kalau gadis-gadis yang ikut pawai itu sudah tidak suci lagi, maka bunga yang ada di kepalanya akan layu.

Mitos ini masih banyak dipercayai oleh masyarakat setempat. “Kalau mereka sudah tidak suci lagi, gadis yang ikut Ngarot akan ketahuan dari bunganya yang layu. Wallahu alam,” kata Rita, warga Lelea. (Dewo/Rls/C+5)

Foto: Istimewa Pemkab Indramayu

Related posts