kuping kiri

Hasil Investigasi LP2IL Ijoan di Perairan Cirebon Beracun, Nelayan Diimbau Stop Panen

Hasil Investigasi LP2IL Ijoan di Perairan Cirebon Beracun, Nelayan Diimbau Stop Panen

SURANENGGALA (Ci+) – Nelayan di perairan Cirebon diimbau untuk tidak memanen kerang hijau. Pasalnya, kerang dengan cangkang berwarna hijau di pesisir Cirebon dinyatakan beracun.

Kepastian tersebut didapat berdasarkan hasil uji laboratorium dan investigasi
Loka Pemeriksaan Penyakit Ikan dan Lingkungan (LP2IL) Serang, Banten terhadap kerang hijau (ijoan) di wilayah Kabupaten Cirebon. Kamis sore (26/1), LP2IL menyosialisasikan hasil riset tersebut kepada para nelayan bertempat di balai Kecamatan Suranenggala.

Para peneliti dihadirkan dalam agenda tersebut. Mereka antara lain peneliti dari UPTD Laboratorium Pengendalian dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan Lampung dan peneliti dari Balai Pengujian dan Pembinaan Mutu Hasil Perikanan (BPPMHP) Cirebon.

Hadir dalam sosialisasi, para nelayan, peternak kerang hijau, perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Dinas Kesehatan (Dinkes), anggota DPRD, UPT Puskesmas, Muspika, para kuwu, mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, sesuai hasil investigasi, pihak LP2IL menyimpulkan bahwa kerang hijau di wilayah Cirebon mengandung saksitoksin yang termasuk dalam toksin PSP. Zat ini bisa menimbulkan dampak kelumpuhan terhadap konsumen kerang hijau dan berdampak kematian apabila dikonsumsi dalam jumlah besar.

Tim LP2IL menyebut fenomena tersebut sebagai blooming atau masa berkembangbiaknya plankton PSP yang mengakibatkan keracunan. Karena alasan itu, mereka meminta, selama proses blooming, diharapkan nelayan dan peternak tidak panen kerang hijau.

Apakah kerang hijau yang mengandung zat saksitoksin bisa dikonsumsi? Menurut pengakuan Camat Suranenggala, Dra Indra Fitriani MSi berdasarkan keterangan pihak LP2IL, ijoan tersebut bisa dikonsumsi dengan syarat telah melalui proses pasteurisasi.

“Pasteurisasi ini caranya adalah dengan memanaskan ijoan ke dalam air dengan suhu lebih dari 120 derajat. Bukan hanya direbus biasa karena panasnya hanya 100 derajat, tetapi di-pasteurisasi. Masalahnya alat untuk pasteurisasi mahal,” beber Camat Fitri menirukan presentasi investigator LP2IL. (*)

Laporan: Mahrus Ali

Related posts