kuping kiri

Hoax Politik Jadi Industri Saat Pemilu, Beruntung Rakyat Paham

Hoax Politik Jadi Industri Saat Pemilu, Beruntung Rakyat Paham

Cirebonplus.com (C+) – Dalam beberapa tahun ini, berita bohong (hoaks) telah menjadi bagian dari fenomena politik. Selama muaranya adalah kepentingan politik, maka sejauh ini hoaks belum menjadi ancaman yang sangat serius bagi bangsa ini.

Pendapat tersebut disampaikan akademisi dan peneliti yang juga Sekretaris Jenderal (Sekjen) Lakpesdam Pusat, Dr H Marzuki Wahid dalam kegiatan bertajuk Dialog Terbuka Silaturahmi Kebangsaan bertema Menolak Berita Hoax untuk Persatuan dan Kesatuan Pasca Penetapan Hasil Pilpres 2019 di Sumber, Selasa (23/7).

Marzuki meyakini para pelaku penyebar hoaks paham ada konsekuensi hukum atas tindakannya. Mereka sesungguhnya mengetahui ada Undang-undang (UU) ITE dan lainnya.

“Pertanyaannya, kenapa (mereka) tahu hoak dilarang, tapi tetap melakukannya. Karena jelas ada tujuan politik. Hoaks laku keras saat musim politik. Hoaks jadi industri untuk meraup uang dengan cara mudah, meski dilarang,” papar Marzuki dalam diskusi yang digagas Yayasan Al Fathiriyyah Addharbiyah Assyirbuni.

Marzuki melihat masyarakat lambat laun memahami banyaknya berita hoaks berisi ujaran kebencian yang tidak bisa dipertanggungjawabkan dan ditujukan untuk menghancurkan kredibilitas seseorang atau kelompok tertentu. Fakta hasil Pemilihan Umum (Pemilu) menunjukkan bahwa masyarakat bisa mengalahkan arus hoaks yang digunakan sebagai instrument pemenangan politik.

“Tidak bisa dibayangkan kalau masyarakat kalah oleh hoaks. Sejauh ini membuktikan bahwa hoaks gagal memengaruhi masyarakat secara masif  dalam Pemilu,” lanjut dia.

Berdasarkan hasil investigasi dalam beberapa kasus berita hoaks politik, dapat terungkap adanya tim pemburu isu yang bertugas mencari bahan sesat tentang target sasaran tembak hoax. Berikutnya ada tim produksi yang mengolah isu menjadi informasi atau berita bohong (hoaks).

Tak haya itu, ada juga tim distribusi yang menyebarkan berita hoaks dan ujaran kebencian melalui berbagai saluran media sosial dan portal. Dan terakhir adanya tim yang melakukan counter attack terhadap komentar-komentar kontraproduktif terhadap isu yang diproduksi. Fakta tersebut menunjukkan adanya pengorder konten hoaks.

Pemateri lainnya KH Azis Hakim Syaerozi mengatakan, maraknya hoaks dalam momen politik tak lepas dari adanya tren internasional. Banyak presiden terpilih, termasuk Donald Trump di Amerika Serikat di antaranya berkat hasil kerja masif instrumen hoaks.

Sebagaimana teori yang ada bahwa makin banyak kebohongan disebarluaskan secara terus menerus, maka akan dianggap kebenaran oleh masyarakat. Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cirebon itu menyebutnya sebagai kondisi post truth.

“Kondisi di mana antara berita bohong dan benar menjadi tidak jelas. Ini yang banyak dimainkan di luar negeri sebagai fenomena politik masa kini. Tapi beruntung (eksperimen) itu tidak berhasil di Indonesia,” lanjutnya.

Komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Cirebon, Nunu Sobari SH MH menyampaikan, ada aturan hukum yang mengancam pelaku penyebaran konten berita hoaks. Karena itu, masyarakat hendaknya tidak ikut memproduksi dan menyebarkan berita hoaks.

“Di Kabupaten Cirebon selama Pemilu atau Pilpres 2019 ada dua kasus menonjol yang mengarah pada pidana menyebarkan berita bohong. Pertama terkait dugaan adu domba antara TNI dan Polri dalam Pemilu dan proses penghitungan suara di PPK Plumbon, sekarang dalam proses hukum,” ungkap Nunu.

Narasumber lainnya, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Cirebon, KH Wawan Arwani Amin menegaskan bahwa orang beriman tidak akan menyebarkan dan memproduksi berita hoaks. Penyebar berita hoaks menunjukkan rendahnya kualitas iman seseorang.

Ia juga menyampaikan bahwa berita hoaks secara tegas dilarang dalam agama. Bahkan menganggapnya sebagai sumber dari malapetaka, sebagaimana terjadi dalam perjalanan secara sejak masa lalu hingga saat ini.

Sementara itu Ketua Yayasan Al Fathiriyyah Addharbiyah Assyirbuni, H Iin Masruchin mengatakan, kegiatan ini digelar untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bahaya berita bohong atau hoaks. Diharapkan para peserta yang hadir mulai dari kalangan pejabat, tokoh masyarakat, akademisi, tokoh pemuda, dan perwakilan pelajar dapat ikut bersama-sama memerangi maraknya hoaks di tengah-tengah masyarakat.

Kegiatan yang dimoderatori General Manager (GM) Suara Cirebon, Kalil Sadewo ini juga dihadiri Kepala Kantor Kesbangpol Kabupaten Cirebon, H Zainal Abidin mewakili Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Cirebon, H Imron Rosyadi yang berhalangan. (Abdullah)

Related posts