kuping kiri

Ini Cerita Mantan “Pinangan” Bupati Sunjaya, Masih Mesra tapi Rajin Mengkritisi

Ini Cerita Mantan “Pinangan” Bupati Sunjaya, Masih Mesra tapi Rajin Mengkritisi

CIREBON (Ci+) – Cinta keduanya berlabuh sekitar tahun 2007-2008. Saat itu H Sunjaya Purwadisastra, yang saat ini jadi bupati Cirebon, sedang butuh pasangan untuk masuk satu jenjang berikutnya yang lebih serius.

Ia adalah KH Hayyi Imam, pengasuh Pondok Pesantren (Pontren) Gedongan, yang dipinang Sunjaya untuk maju Pemilihan Bupati (Pilbup) 2008. Tanpa mahar dan Kang Hayyi adalah pilihan final, setelah sebelumnya Sunjaya menjajaki sejumlah nama dalam proses pedekate alias pendekatan.

Saat itu, pasangan H Sunjaya-H Hayyi (Sah) bersaing dengan bupati incumbent H Dedi Supardi yang berpasangan dengan H Ason Sukasa (Desa) serta pasangan H Djakaria Mahmud dan PRA Arief Natadiningrat (Damar). Pasangan Desa menang, sementara Sah berada di urutan buncit.

Bagaimana hubungan keduanya saat ini? Kepada cirebonplus.com, Kang Hayyi bercerita tentang hubungan pasca kalah di Pilbup 2008 hingga saat ini. Juga berkisah tentang dinamika politik saat ini, terutama terkait mantan “peminangnya” itu.

Pasca KPU menyatakan kemenangan untuk pasangan Dedi-Ason, hubungan keduanya masih mesra. Saling kontak-kontakan, janjian makan bersama, hingga curhat tentang berbagai hal.

Termasuk saat pencalonan Sunjaya untuk yang kedua kalinya di Pilbup 2013. Sedikit banyaknya diminta pendapat, mulai dari situasi politik saat itu, partai yang pengusung, hingga pasangan yang akan diajak jadi calon wakil bupati.

“Masih komunikasi aktif. Termasuk diskusisi tentang masalah-masalah yang berkembang,” kata kiai yang selalu tampak ceria dan suka bercanda itu.

Bahkan boleh dibilang hubungannya makin dekat. Saking dekatnya beberapa kali makan bersama hanya berempat bersama istri masing-masing.

“Kami dijamu di pendopo dengan menu-menu yang kami suka. Rupanya masih mengingat kesukaan kami dulu waktu di pencalonan Pak Sunjaya pertama,” papar pria yang juga berprofesi sebagai dosen itu.

Apakah hanya sebatas hubungan say hallo dan jamuan makan? Ternyata tidak. Kang Hayyi mengaku sering memberikan masukan-masukan positif kepada sahabatnya itu.

Bahkan, Kang Hayyi beberapa kali juga mengkritik berbagai langkah dan kebijakannya sebagai bupati. Baginya, kritik adalah keharusan untuk pemicu kinerja yang makin baik.

“Kalau kritik saya sering. Kan karakter saya gak mau melihat ketimpangan. Dan Pak Sunjaya mengerti kritik-kritik saya, karena memahami saya orang terbuka,” ujar dia.

Soal kritik masukannya dijalankan atau tidak, Kang Hayyi mengaku bukan urusannya. Tidak ada kewenangan sedikit pun masuk ke wilayah kebijakan yang diambil bupati.

Ditanya soal minat menjadi calon bupati atau wakil bupati, Kang Hayyi tertawa. Dia bilang, jabatan tidak perlu diperjuangkan mati-matian, kalau sudah digariskan oleh Allah, pasti ijabah. (*)

Related posts