kuping kiri

Kang Azis: Penguatan Internal Kunci Kesiapan NU Hadapi Tantangan ke Depan

Kang Azis: Penguatan Internal Kunci Kesiapan NU Hadapi Tantangan ke Depan

CIREBON – Tanggal 31 Januari 1926 lalu Nahdlatul Ulama (NU) didirikan. Tahun ini genap berusia 91 tahun. Namun, peringatan hari lahir NU kali ini digelar secara sederhana dan penuh khidmat.

Kompleksnya persoalan keberagamaan dan kebangsaan saat ini menghendaki organisasi Islam terbesar Indonesia itu untuk menyiapkan energi lebih besar ketimbang perayaan seremoni. Utamanya untuk menjaga ke-bhineka-an dan membendung paham radikalisme.

“Kami warga NU memperingati harlah ke-91 dalam suasana kesiapsiagaan dari potensi perpecahan antar elemen bangsa,” kata KH Azis Hakim Syaerozi dalam acara Marhabanan Harlah NU di majelis yang diasuh Ketua Majelis Wilayah Cabang (MWC) NU Kecamatan Plumbon, H Bisri, Rabu malam (1/2).

Kang Azis, sapaan akrab KH Azis Hakim Syaerozi, berpendapat untuk harlah tahun ini menjadi momentum bagi NU dalam memperkokoh komitmen kebangsaan. Sikap dan gerakannya diandalkan oleh negara untuk menjaga kesatuan dan merekatkan kerenggangan antarelemen.

“Tantangan bangsa adalah tantangan NU. Hari ini kita berhadapan dengan masalah SARA, radikalisme beragama, kebebasan informasi produk teknologi, ekonomi, stabilitas politik, dan lainnya,” tambah pengasuh Pondok Pesantren Assalafie Babakan, Ciwaringin itu.

Dalam menghadapi tantangan eksternal tersebut, lanjutnya, yang dibutuhkan adalah kekuatan jamiyah NU dan jamaah nahdliyin. Kuat atau tidaknya menghadapi tantangan, akan bergantung pada seberapa kuat internal NU baik secara ideologi, komitmen kebangsaan dan kerakyatan, ekonomi, tradisi, dan gerakan dakwahnya.

Karena itu, kiai muda yang didorong oleh para ulama untuk memimpin NU Kabupaten Cirebon tersebut berkeyakinan, penguatan internal dalam berbagai aspek di atas adalah kunci utama. Itu yang harus menjadi komitmen dan orientasi kerja dari NU secara organisasi, baik nasional maupun daerah.

“Ideologisasi dan kaderisasi Aswaja sangat vital, membangun ekonomi nahdliyin sangat penting, memperkuat akar tradisi warga NU tak bisa ditawar, intensivitas dakwah ramah juga harga mati. Tanpa itu semja NU akan lemah. Jika NU lemah, maka kekuatan penyangga bangsa ini akan lemah,” ujar kiai yang punya sejumlah kegiatan bisnis itu kepada cirebonplus.com.

Tampak hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua Rabitha Ma’ahid Islamiyah (RMI) Kabupaten Cirebon KH Badrudin Hambali, Anggota Fraksi PKB DPRD Kabupaten Cirebon KH Muntakhobul Fuad, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Cirebon Drs H Imron Rosyadi MAg, pengurus MUI H Mahmudi Abdillah, dan masyarakat setempat. (*)

Laporan: Mahrus Ali

Related posts