kuping kiri

Keraton Gebang, Didirikan Pangeran Sutajaya dan Peran Strategis dalam Penyerbuan Batavia

Keraton Gebang, Didirikan Pangeran Sutajaya dan Peran Strategis dalam Penyerbuan Batavia

Cirebonplus.com (C+) – Minggu (9/12), berbagai elemen di Kecamatan Gebang tumpah ruah di jalanan. Mereka memperingati Maulid Nabi, dan terutama haul tokoh besar di zamannya, Pangeran Sutajaya.

Sejumlah bukti otentik kiprah Pangeran Sutajaya masih ada hingga saat ini salahsatunya adalah bangunan seperti rumah elit tempo dulu dan beberapa bangunan simbolis yang menggambarkan kebesaran masa lalu. Dulu, bangunan itu adalah keraton, tempat mengelola “pemerintahan” dan aktivitas keluarga pemimpinnya.

Tidak seperti keberadaan Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, Keraton  Kaeprabonan, dan Tamansari Gua Sunyaragi yang hingga kini terus terawat. Bahkan makin “mengkilap” dengan sejumlah bangunan tambahan sebagai pelengkap kemegahan bangunan utama. Keraton Gebang kondisinya begitu-begitu saja, bahkan seiring waktu makin terhimpit oleh bangunan permukiman warga, yang lambat laun bisa menutup keberadaan bangunan bernilai sejarah itu.

Nanang Saptono, seorang arkeolog, dalam catatannya yang diberi judul Peninggalan Masa Kejayaan Islam di Cirebon yang Terlupakan, menyebut kondisi Keraton Gebang dengan kata tragis. Terutama untuk menggambarkan minimnya perhatian masyarakat dan elemen lainnya.

Bagaimana sejarah mula Keraton Gebang dan kondisinya saat ini? Berikut cirebonplus.com menyajikannya untuk pembaca sesuai dengan catatan Nanang Saptono.

Keraton Gebang terdapat di Dusun Krapyak, Desa Babakan Kulon, Kecamatan Babakan. Pada tahun 1689, wilayah Gebang ditetapkan sebagai daerah Protektorat Kompeni yang meliputi daerah pantai Cirebon di utara hingga Cijulang di selatan. Sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Kesultanan Cirebon dan sebelah timur dengan Kesultanan Mataram. Dan, Pangeran Sutajaya diberi hak untuk memerintah wilayah-wilayah atau suku-suku di daerah Kepangeranan Gebang.

SIAPAKAH PANGERAN SUTAJAYA?

Pangeran Sutajaya adalah putra Aria Wirasuta, cucu Pangeran Paserean, cicit Susuhunan Gunung Jati. Keraton Gebang didirikan oleh Pangeran Sutajaya sebagai pusat pemerintahan Gebang dan juga difungsikan sebagai gudang logistik Kesultanan Mataram dalam rangka penyerbuan ke Batavia.

Jan Pieterzoon Coen mengetahui hal ini kemudian mengirim pasukan untuk menghancurkannya. Setelah peristiwa ini, Pangeran Sutajaya menikahkan putrinya yang bernama Ratu Agung dengan Pangeran Sujatmaningrat atau Pangeran Pengantin dari Kesultanan Kanoman. Pada tahun 1860 Pangeran Sujatmaningrat mendirikan keraton baru sebagai pengganti keraton yang dihancurkan oleh Belanda yang hingga sekarang masih berdiri dan disebut Keraton Gebang.

KONDISI KERATON GEBANG

Kompleks Keraton Gebang berada pada lahan di sebelah utara jalan kampung. Jalan masuk utama berada di bagian tengah sisi selatan dilengkapi bangunan gerbang beratap genting. Jalan masuk lainnya berada di sebelah timur jalan masuk utama.

Bagian halaman depan terbagi dua, bagian timur merupakan bagian memanjang dari depan ke belakang. Halaman depan bagian barat terbagi lagi dalam dua bagian yaitu depan dan belakang. Halaman depan barat bagian depan cenderung terbuka tanpa ada bangunan. Pada pembatas halaman barat depan dan belakang terdapat bangunan panggung yang dihias dengan gunungan dan wadasan di kanan dan kirinya.

Di depan (selatan) bangunan panggung ini terdapat patung gajah berwarna putih. Di samping kanan dan kiri bangunan panggung terdapat jalan memasuki halaman bagian dalam. Di kanan dan kiri masing-masing jalan masuk terdapat taman dengan motif wadasan.

Di sebelah barat bagian halaman ini terdapat halaman yang merupakan bagian dari halaman depan sisi barat. Pada bagian ini, terdapat bangunan musala kecil. Di sebelah barat sedikit ke utara bangunan musala, terdapat bangunan dengan atap berbentuk pelana. Bangunan ini terdiri tiga ruangan. Ruangan paling selatan merupakan kamar mandi dengan bak mandi dari bahan keramik berbentuk bundar.

Ruang tengah difungsikan untuk menyimpan becak dan pedati kuna serta beberapa tiang untuk panji dan bendera. Ruangan paling utara merupakan tempat makam dua anggota keluarga. Makam tersebut berjirat persegi, agak tinggi dari bahan batu. Nisan berbentuk pipih bergaya Demak-Troloyo.

Bangunan utama Keraton Gebang bergaya Indisch Empire, berdiri pada batur yang ditinggikan berada di tengah halaman bagian dalam. Gaya bangunan merupakan perpaduan antara arsitektur lokal dan Eropa.

Bagian keraton paling depan merupakan serambi terbuka, terdapat pilar bergaya tuscan sebanyak 8 buah. Pilar bagian depan berjajar sebanyak 6 buah. Pada ujung barat dan timur (sudut barat daya dan tenggara) masing-masing terdiri satu pilar yang menyatu dengan kolom dinding, sedang pada bagian tengah terdapat dua kelompok pilar masing-masing terdiri dua pilar. Pada sudut barat laut dan timur laut serambi terdapat kamar. Pada sudut tenggara kamar di sebelah barat dan sudut barat daya kamar sebelah timur terdapat pilar bergaya tuscan.

Pintu masuk ke ruang utama terdapat pada bagian di antara dua kamar serambi, diapit jendela. Di belakang pintu masuk terdapat rana berukir krawangan motif relung-relungan dan pinggir awan. Pintu masuk ini menuju ruang tengah. Di kanan dan kiri ruang tengah terdapat kamar masing-masing terdiri dua ruangan. Ruang serambi belakang, pada ujung kanan dan kiri terdapat semacam kamar atau gudang. Di sebelah utara kamar bagian barat terdapat sumur dan kamar mandi. (Abdul Bari)

Related posts