kuping kiri

KH Mustofa Aqil: Di Tangan Wanita Soleha Akan Lahir Pemimpin-pemimpin Besar

KH Mustofa Aqil: Di Tangan Wanita Soleha Akan Lahir Pemimpin-pemimpin Besar

CIREBON (Ci+) – Dari wanita soleha akan lahir pemimpin besar yang bijaksana. Setidaknya itu yang tersirat dan tersurat dari kisah sejarah para pemimpin besar di masa lalu.

Kisah tentang wanita soleha dan pemimpin bijaksana itu disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren (Pontren) Kempek, Gempol, Kabupaten Cirebon, KH Mustofa Aqil Siradj saat pengajian di Majelis Taklim Hidayatullah Gunungsari, Kota Cirebon, akhir pekan lalu.

Menurut Kang Mu, sapaan KH Mustofa Aqil Siradj, yang paling gamblang adalah dalam sejarah para nabi. Nabi Musa misalnya, ia diasuh oleh seorang ibu yang suci, salahsatu istri dari Raja Firaun, Asiyah.

Dalam riwayat sejarah, termasuk Alquran, digambarkan bahwa Asiyah adalah perempuan yang memiliki keimanan kepada Allah SWT yang luar biasa. Bahkan karena keimanannya yang dianggap menyekutukan Firaun, beliau dihukum berat.

Beliau dijaga oleh Allah dijaga kesuciannya sebagai seorang wanita. Meskipun menjadi istri Firaun, tapi kulitnya tak tersentuh. Allah menggantinya dengan mahluk ghoib dengan paras yang sama, saat Firaun ingin menyalurkan hasrat seksualitasnya.

“Dari tangan wanita suci dan soleha itu Nabi Musa menjadi pemimpin besar. Meskipun bukan anak sendiri, beliau merawatnya dengan baik dan mendidik lewat akhlak mulia,” ujar Kang Muh.

Demikian halnya dengan Nabi Isa yang menjadi pemimpin umat karena diasuh oleh Siti Maryam. Bahkan, Rasulullah Muhammad SAW sukses menjadi pemimpin dunia karena dijaga oleh Allah melalui dua ibu suci yakni Asiyah dan Maryam, sebagaimana diceritakan dalam Kitab Barzanji.

Karena itu, Kang Mu meminta ibu-ibu dan perempuan agar terus berusaha menjadi orang yang soleha. Keikhlasan dan kesolehaan wanita dalam menjaga dan mendidik anaknya, akan mampu membawa anaknya menjadi soleh-soleha.

“Coba bayangkan kerepotan seorang ibu sejak mengandung, melahirkan, hingga membesarkannya. Bahkan tak sedikit anak yang mengabaikannya saat sudah dewasa. Tapi keikhlasan itulah yang utama,” tutur Kang Mu menggunakan bahasa Cirebon yang diselingi candaan-candaan segar. (*)

Oleh: Kalil Baejeh

KETERANGAN FOTO: KH Mustofa Aqil Siradj (dua dari kiri) sesaat sebelum berceramah di Majelis Taklim Hidayatullah, Gunungsari, Kota Cirebon akhir pekan lalu.

Related posts