kuping kiri

KH Usamah: Kiai Makhtum Ulama Sufi yang Teguh Pendiriannya

KH Usamah: Kiai Makhtum Ulama Sufi yang Teguh Pendiriannya

CIWARINGIN (Ci+) – Kharisma dan integritas almarhum KH Makhtum Hannan diakui banyak orang. Sehingga kepergiannya menyisakan duka yang mendalam. Seperti dirasakan Rois Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cirebon, KH Usamah Manshur.

Kepada cirebonplus.com, Kang Usamah, sapaan akrab KH Usamah Manshur menuturkan, Kiai Makhtum merupakan sosok panutan yang sulit dicari padanannya. Beliau adalah ulama yang melebur dengan umat tanpa batas, melayani doa dan istighotsah tanpa kenal waktu, serta disegani dan dihormati.

Di mata Kang Usamah, Kiai Makhtum juga ulama besar yang nilai sufismenya tinggi, kharismatis, serta peduli dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan pondok pesantren. “Beliau orang tua dan guru kita semua,” ujar Kang Usamah.

Suatu ketika, sambung Kang Usamah, dalam sebuah obrolan Kiai Makhtum mengungkapkan keresahannya melihat fenomena remaja dan muda-mudi saat ini. Mereka makin jauh dari norma agama Islam.

“Betapa beliau mengungkapkan kegerahanya melihat fenomena anak-anak muda dan remaja yang makin jauh dari norma,” kata dia.

Kiai Makhtum juga pernah menyoroti dunia pesantren yang dinilai lebih banyak pendidikan formalnya. Pesantren dianggap kurang konsen terhadap pendidikan diniyah.

“Beliau pernah mengakui sering dibilang kiai yang keras. Bahkan ada yang memyebutnya sebagai kiai galak. Saya langsung mengomentari bahwa untuk seorang Kiai Makhtum harus keras dan galak menghadapi fenomena generasi yang makin carut marut dan tidak berakhlaq,” tambah dia.

Dengan segala kelebihan itulah, Kang Usamah merasakan duka yang mendalam. Kehilangan sosok ulama panutan.

“Rosulullah SAW bersabda yang artinya, barang siapa yang tidak menyesal atas wafatnya orang ‘alim, maka ia adalah orang munafik. Semoga husnul khotimah dan ditempatkan di dalam surge-Nya, amin,” pungkas dia. (*)

Laporan: Mahrus Ali

Related posts