kuping kiri

Kiai Makhtum, Simbol Perlawanan Rakyat dan Pemersatu Umat

Kiai Makhtum, Simbol Perlawanan Rakyat dan Pemersatu Umat

CIREBON (Ci+) – KH Makhtum Hanan telah wafat, Sabtu pagi sekitar pukul 07.00. Dedikasi dan jasanya yang besar bagi umat, membuat banyak kalangan merasa kehilangan.

Salahsatunya adalah Prof DR Jamali Sahrodi MAg, direktur Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Atas nama akademisi dan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (NU) Kota Cirebon, Kang Jamali, sapaan akrabnya, menyampaikan duka cita atas berpulangnya Kiai Makhtum ke rahmatullah.

“Sesepuh Pondok Pesantren Ciwaringin ini meninggalkan kita. Para sarjana NU berduka, mengingat almarhum merupakan tokoh berpengaruh baik di wilayah III Cirebon maupun nasional,” tutur Kang Jamali kepada cirebonplus.com.

Menurut Kang Jamali, bila dilihat dari perjuangannya, beliau termasuk perintis berdirinya lembaga pendidikan Madrasah Hikamus Salafiyah (MHS) dan tim pendirian Madrasah Aliyah Model Ciwaringin. Di samping itu, ada beberapa lembaga pendidikan di tempat lain yang mendapat rekomendasinya.

Gagasan beliau, lanjut Kang Jamali, juga diakomodir dalam perumusan Nilai Dasar Pergerakan (NDP) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Kiai hikmah yang pernah didekati mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini pernah menjadi salah seorang anggota Ahlul Halli wal Aqdi  (AHWA) pada saat Muktamar XXX NU  di Jombang, Jawa Timur.

Peran AHWA saat itu sangat besar dalam memutuskan pemilihan rois Syuriyah PBNU. “Sehingga martabat rais Syuriyah lebih terhormat, tidak seperti pemilihan ketua tanfidziyah maupun ketua-ketua partai,” kata pria yang tinggal di Majasem, Kota Cirebon itu.

Dalam bidang tarekat, sambungnya, kiai kharismatik ini pernah mendirikan Jamaah Hadiyu di lingkungan Pontren Babakan Ciwaringin. Selanjutnya jamaah ini berkembang di wilayah III Cirebon. Kegiatan ini dapat menjadi perekat antara para kiai dengan umat, aparat, para tokoh masyarakat, dan para pejabat yang berminat.

Dikatakan, kemampuannya dalam ilmu hikmah, juga diakui. Kiai yang sederhana ini dapat mendampingi para petani, pedagang, dan nelayan dalam melakukan bisnis di bidangnya masing-masing.

“Beliau tidak hanya didekati para pejabat, tetapi juga memiliki perhatian lebih kepada nasib rakyat kecil. Ketika kompleks pesantren akan tergusur menjadi jalan tol Cipali oleh pihak Kementerian PU, beliau maju tampil di depan memimpin perlawanan rakyat,” ujarnya.

Peringatan keras dari pihak Kementerian PU saat itu, justru dihadapi bersama rakyat untuk terus memperjuangkannya. Hingga akhirnya berhasil dan jalan tol digeser, tidak membelah pesantren.

Selain itu, kata dia, beliau sangat ramah dalam menyatukan umat bila terjadi perbedaan di kalangan para kiai, ulama, dan pejabat (umara). Kekuatan silaturahminya menjadikan beliau sangat dikenal dan akrab dengan para santri, kiai, dan kolega.

“Beliau lebih mengutamakan ukhuwwah daripada kepentingan pribadi atau golongan. Itu keteladanan dari Kiai Makhtum untuk generasi saat ini. Kami merasa kehilangan. Beliau insya Allah husnul khotimah, amin,” pungkasnya. (*)

Laporan: Hamdi Muntadir

Related posts