kuping kiri

Kran Impor Garam Industri Dibuka Lebar, Ini Alasan Pemerintah

Cirebonplus.com (C+) – Dibukanya kran impor garam dianggap pemerintah sebagai langkah yang mendesak. Besarnya kebutuhan dunia industri dianggap sebagai penyebab utamanya.

Untuk diketahui, garam merupakan salahsatu bahan baku pokok yang dibutuhkan sebagian industri dalam negeri untuk keberlanjutan produksinya. Terlebih, manufaktur yang mengonsumsi garam industri merupakan sektor andalan penopang pertumbuhan ekonomi nasional dan menyerap tenaga kerja tidak sedikit, sehingga perlu dijaga ketersediaan bahan bakunya.

Kondisi itu diakui Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto. Menurutnya, garam sebagai komoditas strategis, juga dapat mendukung rantai pasok dan meningkatkan nilai tambah sejumlah industri dalam negeri.

“Jadi, sama pentingnya dengan bahan baku lainnya seperti baja dan produk petrokimia. Penggunaan garam ini sangat luas, antara lain di industri kimia, aneka pangandan minuman, farmasi dan kosmetika, hingga pengeboran minyak. Bahkan, tanpa garam, industri kertas tidak berproduksi, dan kontak lensa tidak bisa jadi,” papar Airlangga dalam rilis Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Senin (19/3).

Sektor manufaktur yang membutuhkan garam industri sebagai bahan bakunya tersebut, kata Airlangga, telah beroperasi cukup lama di Indonesia. Bahkan ada yang sudah puluhan tahun. Sehingga pemerintah terus mendorong kontinuitas produksi industri nasional, karena berdampak pada lapangan pekerjaan, pemenuhan untuk pasar domestik, serta penerimaan negara dari ekspor.

Dikatakan, kualitas garam yang digunakan industri tidak hanya terbatas pada kandungan natrium klorida (NaCl) yang tinggi minimal 97 persen. Tetapi, masih ada kandungan lainnya yang harus diperhatikan seperti kalsium dan magnesium maksimal 600 ppm, serta kadar air yang rendah.

Standar kualitas tersebut yang dibutuhkan industri aneka pangan dan industri chlor alkali plan (soda kostik). Sedangkan garam yang digunakan oleh industri farmasi untuk memproduksi infus dan cairan pembersih darah, harus mengandung NaCl 99,9 persen.

“Jadi, pemerintah mengimpor garam untuk kebutuhan bahan baku industri-industri tersebut. Sedangkan untuk garam konsumsi, masih akan dipenuhi oleh industri garam nasional,” jelasnya.

Merujuk pada data data Kemenperin, kebutuhan garam industri nasional tahun 2018 sekitar 3,7 juta ton. Bahan baku ini akan disalurkan kepada industri Chlor Alkali Plant (CAP), untuk memenuhi permintaan industri kertas dan petrokimia sebesar 2.488.500 ton.

Bahan baku garam juga didistribusikan kepada industri farmasi dan kosmetik sebesar 6.846 ton serta industri aneka pangan 535.000 ton. Sisanya, kebutuhan bahan baku garam sebanyak 740.000 ton untuk sejumlah industri, seperti industri pengasinan ikan, industri penyamakan kulit, industri pakan ternak, industri tekstil dan resin, industri pengeboran minyak, serta industri sabun dan detergen.

Ketua Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) Tony Tanduk menyambut baik adanya kebijakan baru yang memastikan mengenai ketersediaan pasokan bahan baku garam industri. “Kami memberikan apresiasi kepada pemeritah karena serius menyelesaikannya. Ini sesuai dengan harapan di kalangan industri dalam negeri yang membutuhkan garam sebagai bahan baku produksinya,” ujarnya.

Direktur PT Asahimas Chemical Eddy S tuirut meyakinkan hal ini. Menurutnya, garam industri merupakan bahan baku utama di sektor industri kimia dasar yang dibutuhkan lebih dari 400 perusahaan nasional.

Kebutuhan garam industri ini juga untuk menopang peningkatan ekspor, salahsatunya pabrik kimia di Cilegon, Banten yang telah melakukan perluasan usaha sejak tahun 2016 dengan nilai investasi lebih dari Rp5 triliun.

Selain itu, sambungnya, ekspansi yang dilakukan dalam rangka mengurangi impor bahan kimia dan mengamankan pertumbuhan industri kimia dan industri-industri turunannya. Maka dari itu, kebutuhan garam industri pun meningkat seiring dengan perluasan investasi tersebut.

Dia memperkirakan, untuk industri-industri kimia sejenis, penggunaan garam industri impor saat ini sekitar 1,8 juta ton per tahun. Untuk industri kimia, garam industri yang diimpor dilakukan langsung oleh industri kimia dan diterima di pelabuhan sendiri dan digunakan sendiri.

“Jadi, tidak ada broker, hal ini untuk menjaga keberlangsungan produksi yang beroperasi 24 jam nonstop dan menjaga cost competitiveness dari produk kimia tersebut untuk kebutuhan di dalam negeri dan persaingan di pasar ekspor,” tuturnya. (*)

Laporan: Redaksi

Related posts