kuping kiri

Media Online Tumbuh Subur, Apakah Mengancam Eksistensi Radio di Masa Depan?

Media Online Tumbuh Subur, Apakah Mengancam Eksistensi Radio di Masa Depan?

Cirebonplus.com (Ci+) – Pesatnya kemajuan teknologi era modern, telah memengaruhi perkembangan media massa. Terutama kehadiran internet, setidaknya telah melahirkan jenis media baru di antaranya portal berita (online news) dan TV online.

Sejumlah pihak memprediksi, dengan jangkauan yang lebih luas, kehadiran media berbasis internet dapat menggerus media yang telah ada sebelumnya. Sebut saja koran dan radio.

Prediksi tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar. Meskipun media online bermunculan, Kepala Seksi Saluran Pro 2 Radio Republik Indonesia (RRI) Cirebon, Prasetyo Budi Heriyanto optimis radio akan terus bertahan.

Keyakinan itu disampaikan Budi saat disambangi cirebonplus.com di kantornya, Selasa (23/5). Ia belum terlalu mengkhawatirkan masa depan radio, seiring munculnya jenis media massa lain.

Budi optimis radio masih bisa bertahan lama. Baginya, gempuran informasi dari internet dan media sosial, bukan hambatan berarti bagi bisnis radio untuk terus bertahan, bahkan kembali meraih kejayaaannya.

“Kuncinya itu (siap) berkompetisi ya. Semua radio adalah mitra dan posisikan mitra juga sebagai lawan. Biar tetap ada kompetisi, ada yang berbeda. Baik radio, TV, media cetak dan internet, punya kans masing masing,” paparnya.

Disinggung soal banyaknya radio yang pendapatannya menurun, pria yang aktif sebagai pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cirebon itu mengakuinya. Meski demikian, hal itu dianggap sebagai sesuatu yang biasa dalam bisnis.

Tetapi, ia menambahkan, untuk bisa bertahan radio juga tidak boleh stagnan. Harus punya inovasi-inovasi baru supaya kembali bisa mengambil hati para pendengarnya.

“Itu dinamika saja. Untung rugi itu hal biasa dalam usaha,” tandas pria yang supel ini.

Untuk terus maju, sambungnya, pihaknya menekankan pentingnya melakukan survei kepada khalayak pendengar. Terutama untuk mengetahui gambaran segmentasi, sehingga bisa memudahkan dalam membuat inovasi program yang diinginkan pendengar.

“Tidak usah ragu untuk mengganti segmentasi jika dirasa program yang sudah keluar kurang mendapat sambutan di masyarakat. Bagi kami di sini, yang penting tidak menghilangkan unsur informasi, pendidikan, dan hiburan,” ujarnya.

Dikatakan, berdasarkan data yang dikeluarkan konsultan program siaran, Nielsen, radio masih memiliki banyak penggemar. Pada tahun 2016 Nielsen mencatat ada sekitar 20 juta orang Indonesia yang masih mendengarkan radio.

“Pendenhar rata-rata mendengarkan selama 139 menit per hari. Dengan 57 persen di antaranya adalah generasi millenial dan generasi Z,” pungkas dia. (*)

Laporan: Khairul Anwarudin

Related posts