kuping kiri

Memasuki Musim Pancaroba, Dinas Damkar Imbau Warga Waspada Potensi Kebakaran Akibat Hujan-Angin

Memasuki Musim Pancaroba, Dinas Damkar Imbau Warga Waspada Potensi Kebakaran Akibat Hujan-Angin

SUMBER (Ci+) – Wilayah Kabupaten Cirebon yang luas akan menjadi kendala pelayanan kepada masyarakat. Karena itu kehadiran unit pelayanan menjadi keharusan untuk lebih dekat kepada warga.

Salahsatu yang membutuhkan unit layanan terdekat adalah Pemadam Kebakaran (Damkar). Jumlah unit dan armada yang ada saat ini masih jauh dari ideal.

Hal itu diakui Kepala Dinas Damkar Kabupaten Cirebon, DR H Iis Krisnandar MSi kepada cirebonplus.com, Selasa (31/1). Lalu berapa idealnya jumlah kantor unit dan armada yang disiagakan?

Menurut Iis, sapaan akrab Iis Krisnandar, jika ingin memberikan pelayanan terbaik, idealnya Kabupaten Cirebon memiliki 15 pos unit pelayanan. Dengan jumlah kendaraan Damkar masing-masing 2 unit.

“Saat ini hanya ada 9 pos pelayanan dengan jumlah kendaraan armada Damkar 12 unit. Dengan rasio kecamatan ada 40, jumlah pos dan kendaraan kurang,” kata mantan kepala Dinas Perhubungan (Dishub) itu.

Dikatakan, untuk potensi kebakaran, musim hujan ini yang perlu diwaspadai adalah gardu listrik. Kini memasuki pancaroba, angin dan cuaca tidak menentu.

Untuk itu, saran dia, seluruh masyarakat diminta selalu waspada dan mengantisipasi kebakaran. “Perubahan musim biasanya menyebabkan angin kencang dan potensi terjadinya kebakaran tetap ada,” ujar Iis.

Iis menambahkan, bulan depan sudah memasuki musim kemarau. Untuk mengantisipasi kebakaran, semua harus selalu waspada.

“Standar kebakaran musim hujan itu di gardu kalau musim kemarau di rumah. Kami juga senantiasa melakukan upaya mengeliminir terjadinya kebakaran,” lanjut dia.

Untuk tahun sekarang, pihaknya akan mencegah kebakaran jangan sampai terjadi. Di antaranya melakukan sosialisasi melalui media berupa pengarahan antisipasi dan pencegahan kebakaran.

Pihaknya juga melakukan kerjasama Memorandum of Understanding (MoU) dengan pihak swasta dalam penananganan kebakaran, terutama aspek sosialisasi dan simulasi. Misalnya dengan Hotel Aston, petani tebu, dan PT Indofood.

“Kami kerap kewalahan bila peristiwa kebakaran terjadi, sebab hanya punya pakaian tahan panas. Belum punya pakaian anti api,” tambah Iis. (*)

Related posts