kuping kiri

Misi Besar Mengubah Citra Kawasan Kriyan, Salahsatunya Mewujudkan Kampung Batik

Misi Besar Mengubah Citra Kawasan Kriyan, Salahsatunya Mewujudkan Kampung Batik

Cirebonplus.com (C+) – Selama ini, tidak sedikit masyarakat Kota Cirebon yang mengonotasikan kawasan Kriyan sebagai daerah kumuh, tempat pejudi, marak penggunaan narkotika, perdagangan manusia, banyak anak putus sekolah, kekerasan seksual, dan lainnya. Tak mau citra tersebut terus melekat, sejumlah elemen bergabung untuk memberikan perhatian yang lebih kepada kawasan Kriyan.

Untuk mengubah citra buruk daerah Kriyan, salahsatunya melalui pelatihan membatik dengan pewarna alami kepada warga setempat. Targetnya, lima tahun mendatang satu kampung batik tercipta di daerah tersebut.

“Kami ingin mengubah citra kumuh kampung ini hingga nantinya bisa menjadi daerah unggulan di Kota Cirebon,” ungkap Ketua Harian P2TP2A Kota Cirebon, dr Siska mengungkapkan di Basecamp Pelatihan Seni Membatik RW 17 Kriyan Barat, Kelurahan Pegambiran, Kecamatan Lemahwungkuk, Selasa (9/10).

Program tersebut merupakan hasil kerjasama lembaganya bersama Korea Arts and Culture Education Service (KACES), Sinau Art, dan Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon di bidang seni budaya, sehingga dipilihlah pelatihan membatik untuk anak-anak dan warga di kawasan Kriyan.

Batik yang dibuat, kata dia, memiliki ciri khas sendiri, yaitu menggunakan pewarna alami. Bahan-bahannya diambil dari pepohonan yang banyak terdapat di daerah Kriyan, bisa daun kelor, daun mengkud, daun suji, maupun pewarna alami lainnya.

“Penggunaan pewarna alami tidak akan mencemari lingkungan,” ujar Siska seraya mengatakan, dunia saat ini lebih menyukai yang alami dan harga jualnya juga lebih tinggi.

Tidak hanya penggunaan bahan yang alami, ciri khas lainnya dari batik Kriyan adalah terletak pada motifnya. Pihaknya membebaskan mereka membuat motif apa pun.

Dikatakan, pihak KACES tidak memaksakan motif-motif tertentu untuk dibuat. Karena pada dasarnya, batik memiliki filosofi yang salahsatunya berasal dari daerah pembuat batik itu sendiri, sehingga warga Kriyan dibebaskan untuk membuat sejumlah motif yang nantinya diharapkan bisa menjadi ciri khas dari batik produksi Kriyan.

Ke depan, warga Kriyan juga diminta untuk melakukan penanaman pohon yang berguna sebagai pewarna alami batik mereka. Nantinya pembatik juga akan membeli pohon dari mereka, sehingga perekonomian warga juga akan tumbuh.

“Lima tahun ke depan kami berharap daerah Kriyan bisa menjadi kampung batik yang maju di Kota Cirebon. Kampung di mana semua warganya menjadi perajin dan pengusaha batik, bukan buruh batik. Tanggal 15 Oktober nanti 85 karya seni batik dari Kriyan ini sudah harus dibawa ke Korea,” papar Siska.

Sementara itu, Ketua Umum P2TP2A Kota Cirebon, Ir DR Hj Irawati MSi menyambut baik adanya program kerjasama. Apalagi ini dilakukan selama lima tahun.

“Ini merupakan langkah awal yang baik, karenanya Ira juga meminta kepada semua pihak di Kota Cirebon untuk ikut mendukung program tersebut. Apalagi kita juga dipantau oleh Kementrian Luar Negeri dan Kementrian Perdagangan,” ujar Ira.

Ira juga mengaku sangat senang melihat antusiasme yang diperlihatkan warga Kriyan dalam pelatihan membatik ini. Baru satu hari, tapi hasilnya luar biasa.

“Mereka sangat senang, tekun dan penuh semangat mempelajari teknik dan cara membatik ini. Selanjutnya warga akan terus dibimbing hingga 5 tahun ke depan,” ungkap Ira.

Pimpinan Sinau Art, Nico Permadi berharap agar program ini tidak hanya sebatas seremoni belaka. Karena lima tahun itu waktu yang panjang, sehingga yang terpenting konsistensi dari teman-teman di sini. Ia juga sangat berharap wajah kawasan Kriyan bisa berubah seiring dengan keberadaan kampung batik ini.

Sementara itu, ketua Yayasan Pengembang Batik, Sri Kholifah mengungkapkan, tidak mudah bagi satu daerah untuk menemukan motif dan corak batiknya sendiri. Namun akan terus digali, sehingga akan tercipta corak khas daerah sini dan mudah untuk dikenang.

Penggalian tersebut bisa dimulai dari asal muasal kampung Kriyan, kehidupan sosial dan budaya mereka sehari-hari. Sri pun yakin jika masyarakat Kriyan memiliki semangat untuk membatik yang bisa mengubah hidup mereka ke depannya. (Ril/C+2)

Related posts