kuping kiri

Nanti Malam Tahlil Ketujuh Hari Kiai Makhtum, Ketua Umum PBNU Dikabarkan Hadir

Nanti Malam Tahlil Ketujuh Hari Kiai Makhtum, Ketua Umum PBNU Dikabarkan Hadir

CIREBON (Ci+) Sabtu (28/1) merupakan tahlil hari ketujuh wafatnya KH Makhtum Hannan. Rencananya, Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Nahdlatul Ulama (NU) KH Said Aqil Siraj bersama jajarannya akan ikut tahlil di kediaman almarhum. 

Katib Syuriyah PBNU DR H Sa’dullah Affandi mengungkapkan, telah terkonfirmasi bahwa Kang Said, sapaan akrab KH Said Aqil Siraj, akan hadir. Sejumlah pengurus PB juga akan ikut mendampingi.

“Ya beliau sudah janji akan datang. Kemarin pas wafat beliau baru saja tiba dari kegiatan di Cirebon,” ujar Kang Sa’dun, sapaan akrabnya kepada cirebonplus.com, Sabtu (28/1).

Menurutnya, Kang Said sangat takdzim kepada KH Makhtum Hannan. Selain ada hubungan keluarga, Kang Said juga telah menganggap Kiai Makhtum sebagai orang tua sendiri.

Untuk jajaran pengurus dan ulama lain, sambungnya, meskipun sebelumnya ada yang mengonfirmasi rencana untuk ikut tahlil hari ketijuh, namun Kang Sa’dun belum bisa memastikan siapa saja tokoh PBNU, PWNU Jawa Barat, dan ulama wilayah III Cirebon yang datang. 

Kang Sa’dun sendiri mengaku memiliki banyak kenangan berama Kiai Makhtum. Seminggu sebelum wafat, bertepatan dengan Haul Ke-16 KH Syaerozi, ia menyempatkan diri sowan. Berarti pertemuan tersebut menjadi yang terakhir bersama Sang Kiai Hikmah.

Saat itu beliau dalam kondisi sakit. Terbaring di tempat tidurnya. Walau suaranya lemah, tapi tetap lantang.

Banyak pesan yang disampaikan kepada Kang Sa’dun, di antaranya bila masih ada umur ingin tetap berkhidmat untuk Babakan dan melanjutkan beberapa pembangunan pesantren, madrasah, serta gedung ransit ziarah yang sudah menjadi agenda demi kenyamanan dan keberlangsungan pendidikan pesantren.

Baginya, beliau adalah guru, kiai, dan orang tua. Setiap ada undangan dari menteri, PBNU selalu telepon untuk mendampinginya. Kiai Makhtum juga tidak segan-segan meminta masukan update situasi kekinian baik tentang negara, keagamaan, maupun lain-lain.

“Makanya saya wajib sowan setiap ke Babakan. Kalau tidak pasti ditegur. Karena itu saya sangat bersedih atas berpulangnya beliau,” lanjut dia seraya mengatakan, di antara yang membuatnya sangat hormat adalah tidak pernah mau dikasih salaman tempel, khususnya dari tamu santri atau alnumni yang belum mapan. (*)

Laporan: Mahrus Ali

Related posts