kuping kiri

Panglima TNI Akui Kehebatan KH Abbas Abdul Jamil, Pemimpin Perang 10 November

Panglima TNI Akui Kehebatan KH Abbas Abdul Jamil, Pemimpin Perang 10 November

CIREBON (Ci+) – Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jendral Gatot Nurmayanto menyempatkan diri berziarah di makam pendiri, penerus, pejuang, dan para ulama Buntet Pesantren, Sabtu (15/4). Selain menaruh hormat kepada para pendiri dan ulama Buntet, Gatot menyatakan penghormatan khusus kepada sang “panglima” perang dari laskar santri pada pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, KH Abbas Abdul Jamil.

Hal itu diasampaikan dalam ziarah kubro Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren Cirebon. Pada kesempatan itu, Gatot menyampaikan rasa terima kasih atas jasa para ulama dan kaum santri.

Seperti dilansir buntetpesantren.org, Jendral Gatot mengungkapkan, sejarah Indonesia yang tidak bisa dilupakan adalah peran ulama dan santri. Kedua elemen tersebut dengan semangat perjuangan yang dimiliki mampu memerdekakan negara. Berkat peran ulama dan santri, sampai saat ini Indonesia dikenal dengan keragaman suku dan agama.

“Indonesia bisa merdeka karena dipimpin ulama dengan didampingi para santri. Dengan itu, Indonesia menjadi hebat. Semuanya karena Indonesia mayoritas umat Islam. Maka, kemerdekaan diraih berkat ulama dan santri,” papaenya.

Karena itu secara khusus ia menyampaikan terima kasih kepada para ulama Buntet Pesantren Cirebon yang telah mengundang. Itu menjadi bukti bahwa dirinya ternyata masih diingat. Karena ketika TNI bekerjasama dengan ulama dan santri, maka negara dan bangsa akan selalu aman.

 

Menurutnya, pada tanggal 5 Oktober 1945, TNI lahir. Jenderal Sudirman, panglima ketika itu adalah seorang santri. Anak buahnya memanggil dengan sebutan Kiai. Hal itu membuktikan bahwa ulama dan TNI memiliki sinergitas yang kuat dalam upaya perjuangan kemerdekaan Indonesia.

“Saat TNI baru lahir, ternyata masih mengalami kebingungan. Maka, Presiden Soekarno meminta KH Hasyim Asy’ari untuk mendeklarasikan resolusi jihad. Tercetuslah pada 22 Oktober yang saat ini diperingati sebagai Hari Santri. Kiai Hasyim ketika itu menyatakan bahwa membela tanah air adalah jihad,” ucap Panglima yang giat dalam menjaga perdamaian dan keutuhan NKRI itu.

Dengan resolusi jihad itu, lanjut Gatot, tercetuslah Hari Pahlawan pada 10 November. Dalam sejarah perang tersebut, tidak bisa lepas dari peran ulama Cirebon yang memiliki kemampuan lebih, KH Abbas Abdul Jamil.

Saat itu, sambungnya, Kiai Hasyim akan memulai peperangan dengan para penjajah setelah Singa Jawa Barat, KH Abbas Abdul Jamil datang. Pengawal beliau adalah Abdul Wahid.

Dikatakan, saat itu pada pukul 6.30 Kiai Abbas mengenakan jas abu-abu, kain sarung, tongkat, dan sorban. Beliau menyampaikan kepada pengawalnya untuk membawa bakiak. Beliau berangkat dari Cirebon dengan menggunakan kereta api.

Menjelang magrib, cerita Gatot, Kiai Abbas memasuki stasiun Rembang, yakni di pesantren KH Bisri. Kemudian Kiai Hasyim menunjuk ulama Buntet Pesantren Cirebon itu sebagai pimpinan perang.

“Dengan takbir Allahu Akbar dan merdeka, rombongan dari Buntet masuk masjid dan salat sunnlah, usai itu pamit berdoa. kemudian KH Bisri dan KH Hasyim meminta pengawalnya meminum air,” cerita Gatot dengan semangat.

Singkatnya, kata Gatot, Kiai Abbas memiliki karomah yakni kebal dari tembakan Belanda. Sehingga bisa kembali ke Cirebon dengan selamat. Beliau ulama hebat. Sangat pantas saat diberikan penghargaan sebagai pejuang kemerdekaan NKRI.

Ia bangga bisa hadir di tengah-tengah majelis dalam acara Haul Bunter. Terlebih Buntet Pesantren Cirebon telah melahirkan ulama hebat yang mampu memerdekakan Indonesia dan mengusir penjajah Belanda. (*)

Laporan: Redaksi

Foto: Internet

Related posts