kuping kiri

Panjang Jimat, Prosesi Ritual Menyambut Kelahiran Pembawa Risalah Islam, Nabi Muhammad SAW

Panjang Jimat, Prosesi Ritual Menyambut Kelahiran Pembawa Risalah Islam, Nabi Muhammad SAW

Cirebonplus.com (C+) – Telah menjadi tradisi tahunan dalam peringatan hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW, empat keraton yang ada di Cirebon menggelar acara tradisi Muludan. Karya budaya masa lalu ini diisi dengan berbagai kegiatan ritual bernapas Islam yang dirangkai hingga puncak acara malam Pelal. Atau lazim juga disebut malam Panjang Jimat.

Puncak acara Panjang Jimat di tahun 2018 ini digelar pada Rabu (21/11) dimulai sejak sore hingga malam hari. Empat keraton, yakni Keraton Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Kaeprabonan menggelar tradisi ini. Ribuan warga memadai keempat keraton tersebut. Tetapi, untuk Keprabonan sudah ritual Panjang Jimat digelar lebih dulu, sehari sebelumnya atau Selasa malam (20/11).

Meski digelar malam hari, Panjang Jimat hingga saat ini masih menjadi magnet bagi puluhan ribu warga dari berbagai pelosok negeri. Tak hanya dari wilayah III Cirebon, tetapi juga Jawa dan luar Jawa. Bahkan ada turis mancanegara.

Pantauan di Keraton Kasepuhan, seperangkat jimat diarak dari mulai Keraton Kasepuhan menuju Masjid Agung Sang Cipta Rasa, jaraknya sekitar 300 meter. Ada 16 simbol arak-arakan yang menceritakan drama kelahiran Nabi Muhammad.

Diawali dari rombongan pembawa payung keropak, tunggul manik, lilin, dan damar (lampu) kurung hingga pembawa tujuh nasi jimat di atas piring besar. Ritual itu memiliki makna filosofi yang menggambarkan kesiapan Abdul Mutholib, paman Nabi Muhammad dalam menyambut kelahiran cucunya.

Keindahan puluhan damar kurung warna-warni yang mengawali arak-arakan menjadi daya tarik tersendiri. Prosesi diakhiri dengan pembacaan Kitab Barzanji (Ashrokolan) dan salawat untuk Nabi Muhammad.

Berikutnya, setelah doa-doa, makanan dibagi-bagikan kepada sultan, famili, abdi dalem dan masyarakat. Aneka makanan tersebut antara lain bekasem ikan, nasi tumpeng, nasi uduk, nasi putih, dan nasi jimat. Warga yang sudah menunggu di halaman keraton  pun berebut untuk mendapatkan nasi yang dipercaya mengandung berkah atas doa-doa yang telah dipanjatkan.

Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan, Sultan Raja Raja Arief Natadiningrat mengatakan, 16 iring-iringan dan prosesi yang membawa berbagai benda yang disimpan di atas panjang (piring pusaka) itu memiliki makna filosofis. Lilin yang terdapat dalam iring-iringan pertama menggambarkan bahwa lahirnya Nabi Muhammad terjadi pada malam hari.

“Selain itu lilin yang dibawa juga menggambarkan kesiapan Abdul Muthalib dalam mencari semacam bidan untuk membantu persalinan (kelahiran Nabi). Semua iring-iringan memiliki nilai filosofis, sampai pada pembacaan Kitab Barjanji (sejarah kelahiran Nabi),” ujarnya.

Menurutnya, perayaan Maulud Nabi sebenarnya lebih kepada menggugah masyarakat untuk meneladani perilaku dan sunah Nabi. Meski kental nuansa religi, tradisi Muludan hingga prosesi Panjang Jimat sejatinya peristiwa multidimensi.

“Bukan hanya sekadar tradisi, tetapi peristiwa budaya religi. Juga sosial dan ekonomi,” katanya.

Sehingga, menurut Arief, esensi dari Pelal adalah upaya untuk selalu mengingat sosok Agung Nabi Muhamad SAW dengan selalu meneladani ajaran dan ujar-ujarannya.

Dikatakan, ada dimensi ketauhidan dalam prosesi Pelal, yakni menjadi semacam kekuatan pengingat bagi umat Islam untuk selalu menjaga Syahadat. “Ada juga ruang pertemuan sosial budaya dan ekonomi, sehingga Pelal bukan hanya milik umat Islam tetapi juga agama lain,” kata dia. (Kustano)

Related posts