kuping kiri

Petahana Tak Butuh Dukungan, tapi Kritikan

Petahana Tak Butuh Dukungan, tapi Kritikan

Oleh: Abu Romul

PROSES pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) sudah mulai menggelinding. Tidak lama lagi akan masuk penetapan calon bupati (cabup). Siapa-siapa saja gerangan calon bupati Cirebon periode depan? Banyak spekulasi bahwa petahana akan maju lagi. Beredarlah slogan Kang Sunjaya Sepisan Maning. Ada perkiraan maju juga beberapa calon lain mulai dari H Rahmat sampai dengan Ustadz Mamang Khaeruddin.

Konon survei mengunggulkan elaktabilitas petahana atas calon lain. Diperkirakan PDIP, partai besar, akan mengusungnya. Mungkin tanpa koalisi. Petahana diprediksi akan unggul. Dengan kekuasaan mengontrol anggaran daerah dan prestasinya sejauh ini yang aman dari jerat hukum alias tidak terjaring operasi tangkap tangan (OTT), petahana bakal menjadi calon yang paling dikenal dan dirasakan kiprahnya di mata masyarakat.

Dengan kondisi di atas, petahana praktis tidak menggantungkan suaranya pada dukungan kelompok atau kekuatan massa. Walaupun petahana adalah jebolan pesantren besar di Cirebon misalnya, petahana tidak mau berkeringat menarik dukungan almamaternya. Petahana pun tidak sawer untuk massa yang mungkin diharapkan dukungannya. Begitupun petahana tidak membangun aliansi dengan kelompok-kelompok penekan atau kepentingan. Petahana seperti terlihat sejauh ini lebih asyik menggalang dukungannya melalui kekuasaannya sendiri: anggaran, birokrasi, dan mobilitas.

Tidak ada jaminan bahwa optimisme petahana untuk memimpin satu periode lagi akan terwujud dengan mulus. Politik selalu dinamis. Jika tidak pandai menghadapi dan mengelolanya, kekuatan petahana boleh jadi akan anti-klimaks. Alih-alih menang, kekalahan yang dialami. Belajarlah dari pengalaman Ahok di mana tren kekalahannya muncul pada saat injury time, waktu kritis.

Lalu apa yang dibutuhkan petahana agar ambisinya aman? Sekali lagi bukan dukungan. Petahana hanya butuh kritikan. Ini adalah kekuatan yang ia perlukan agar elektabilitasnya terjaga dan bisa mengantarkannya tetap di kursi bupati untuk satu periode lagi. Mengapa kritikan?

Pertama, kritikan diperlukan agar petahana selalu dalam kesadaran bahwa kinerjanya selama ini belum dirasakan memuaskan dalam segala bidang. Faktanya, daya kompetisi Kabupaten Cirebon tidak secemerlang daerah lain yang berhasil. Dengan kritikan, petahana akan memanfaatkan sisa waktu kepemimpinannya pada periode ini dengan optimal untuk memperbaiki kinerja dan pada gilirannya meningkatkan kepercayaan publik.

Kedua, kritikan dibutuhkan untuk menambah wawasan petahana ihwal bagaimana Cirebon musti dibangun dan dikembangkan. Cirebon ke depan harus punya greget. Para kritikus bisa berbagi ide dan usulan bagaimana konsepsi pembangunan Cirebon dalam bidang-bidang strategis seperti pengentasan kemiskinan, pendidikan, kesehatan,  pariwisata, dan lainnya. Ting bating, petahana berkuasa lagi dia punya konsep lebih matang dalam menahkodai pembangunan Cirebon ke depan.

Dan ketiga, kritikan dibutuhkan agar popularitas petahana terus menanjak. Dengan kritikan, nama petahana menjadi item perbincangan luas dan terus menerus yang menembus jutaan pasang telinga warga. Dalam alam demokrasi, para kritikus adalah “pengusung” petahana yang ikhlas. Semakin petahana dikritik, semakin ia bertambah populer. Dengan demikian, apakah penulis juga “pengusung” petahana? Suka-suka.

Penulis Adalah Pegiat Sosial, Tinggal di Babakan, Ciwaringin (Bacicir)

Related posts