kuping kiri

Refleksi Akhir Tahun, Nuruzzaman: Kelompok Intoleran Suburkan Ideologi Kekerasan

Refleksi Akhir Tahun, Nuruzzaman: Kelompok Intoleran Suburkan Ideologi Kekerasan

Cirebonplus.com (C+) – Sikap toleransi saat ini dianggap barang mahal. Tak hanya mulai terbuka menyinggung isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), mulai banyak juga orang menghujat sesama pemeluk agama, hanya karena sering berinteraksi atau turut menciptakan rasa aman bagi kegiatan agama lain.

Yang sering menjadi sasaran ujaran kebencian terkait sikap toleransi terhadap agama lain adalah Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Menurut Ketua PP GP Ansor yang juga Komandan Densus 99 Banser, H Muhammad Nuruzzaman MSi khawatir bila masalah it uterus terakumulasi, maka bisa menimbulkan gesekan.

Pernyataan itu disampaikan mantan ketua GP Ansor Kabupaten Cirebon itu dalam diskusi Refleksi Akhir Tahun: Keberagaman dan Toleransi di Wilayah Cirebon yang digelar Fahmina Institute di Hotel Prima Cirebon, Sabtu (30/12). Sejumlah narasumber lain dihadirkan dalam kegiatan tersebut, seperti KH Husen Muhammad, Rosyidin, dan Alamsyah M Dja’far.

Kang Zaman, sapaan akrab H Mohammad Nuruzzaman, menegaskan bahwa menjaga kebersamaan dengan kelompok agama lain di Indonesia sudah menjadi keyakinan GP Ansor dan Banser. Di antara yang dilakukan adalah membantu menjaga gereja saat Misa Natal.

Dikatakan, tradisi menjaga Misa Natal sebenarnya bukan tradisi GP Ansor. Hal itu dilakukan, hanya bila ada pihak yang meminta dibantu untuk berjaga.

“Sejak tahun 2000 kami ikut bantu jaga gereja. Dan kami tegaskan, tidak ada satu pun anggota kami yang masuk Kristen hanya karena menjaga gereja,” kata pria yang tinggal di lingkungan Pondok Pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon itu.

Ia memaparkan, sikap intoleransi yang muncul di Indonesia berasal dari kelompok-kelompok muslim transnasional yang dikenal sebagai aliran Wahabi. Mereka dianggap sebagai bagian dari yang ikut menyuburkan ideologi kekerasan di Indonesia.

Sementara itu, Direktur Fahmina Institute, Rosyidin mengungkapkan, di Cirebon dalam beberapa tahun ke belakang kelompok intoleran seolah dibiarkan oleh pemangku kebijakan seperti Polres. Namun, dia melihat ada sedikit perubahan, aparat sudah mulai mengantisipasi.

Di Cirebon, lanjutnya, ada tiga antisipasi yang harus dilakukan untuk membangun toleransi dan perdamaian. Bila tiga hal itu dilakukan, diyakini akan menghasilkan kondisi yang lebih baik.

“Pengakomodiran terhadap keinginan kelompok masyarakat yang mayoritas. Sudah banyak komunitas yang bertema perdamaian dan cinta NKRI, dan sudah mulai terjalinnya komunikasi yang baik antara kelompok-kelompok keagamaan tertentu,” paparnya. (*)

Koresponden: Ayub Al Ansori

Related posts