kuping kiri

Sastra Cirebon dalam Genggaman Kaum Santri

Sastra Cirebon dalam Genggaman Kaum Santri

CIREBON (Ci+) – Dunia Islam tidak bisa dipisahkan dengan sastra. Bahkan Alquran sendiri memiliki nilai sastra tinggi. Selain bernilai sastra, Alquran juga diturunkan saat bangsa Arab mengagung-agungkan karya sastra. Saat itu jazirah Arab sedang dilanda “mabuk” sastra.

Sastra telah hidup beratus-ratus tahun di kalangan umat Islam, sejak Rasulullah masih hidup, zaman para sahabat, hingga masa kedatangan Islam di Indonesa dan zaman Sunan Gunung Jati. Banyak sekali tokoh-tokoh Islam yang menghidupkan sastra di zamannya seperti Imam Al Ghazali, Rabiatul Adawiyah, Ja’far Al Barjanji, Wangsakerta beserta tujuh orang santri, Hamka, Ainun Najib, atau Taufik Ismail.

Begitu juga di Cirebon, sastra sangat dengan kalangan santri, terutama era kekinian. Tanpa disadari, atau bisa jadi tidak diakui, bahwa dunia sastra di wilayah pantura timur Jawa Barat digerakkan oleh tokoh yang layak berlabel santri.

Di wilayah Cirebon, tokoh-tokoh sastra khususnya dan dunia seni pada umumnya, mayoritas berdarah santri. Bukan hanya karena kedekatan dengan forum-forum diskusi intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) atau warisan kultural keagamaan garis keluarganya. Lebih dalam lagi, dianggap sangat layak menyandang status santri karena memang pernah nyantri di pondok pesantren.

Sebut saja tokoh sekaliber almarhum Syubbanuddin Alwy. Seniman nyentrik dengan segudang karya sastranya ini lahir dari keluarga santri di Desa Bandengan, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon.

Ayahnya adalah tokoh agama setempat dan memiliki lembaga pendidikan Ma’arif NU. Untuk “menjaga” ke-NU-annya, Kang Alwy pun menikahi salahsatu putri ulama di Pondok Pesantren Balerante, Palimanan, Kabupaten Cirebon. Lalu, status kesantriannya pun disempurnakan dengan menjadi salahsatu penulis dalam buku fenomenal dengan cover yang berjudul NU Miring.

Sepeninggal Kang Alwy, muncul nama Edeng Syamsul Ma’arif. Sebagai satu-satunya “santri senior” di Lingkar Studi Sastra dan Pondok Dua Petak Dewan Kesenian Cirebon (DKC), yang setia mendampingi proses berkesenian Kang Alwy hingga akhir hayat, Edeng telah ditahbiskan alam sebagai pewaris sah.

Saat Kang Alwy masih jumeneng, meskipun Edeng lebih produktif dalam proses berkesenian di tahun-tahun akhir masa hidup, namun tidak bisa menggeser ketokohannya. Kini, dengan konsistensinya dalam berkarya dan istiqomah dalam berkesenian, nama Edeng pun melesat.

Seniman berpenampilan eksentrik, dengan rambut panjang bergelombang tersebut juga layak disebut santri. Selain latar belakang keluarga yang memegang teguh tradisi dan amaliah Nahdlatul Ulama (NU), dari kecil hingga perguruan tinggi Edeng juga besar dalam lingkungan pendidikan keagamaan khas santri.

Ada juga Ahmad Baequni. Salahsatu sastrawan yang lahir di lingkungan Pondok Pesantren Babakan, Ciwaringin, Kabupaten Cirebon.

Perannya dalam menghidupkan kesenian, khususnya sastra santri, tidak bisa dikesampingkan. Pernah menorehkan prestasi membaca puisi 48 jam tanpa berhenti, pria yang akrab disapa Kang Ubay ini memecahkan rekor Musium Rekor Indonesia (Muri).

Kang Ubay juga pernah menerbitkan novel yang ia tulis sendiri berjudul Habib Palsu Tersandung Cinta. Belum lagi kepeloporannya dalam mendirikan dan menghidupkan Komunitas Seniman Santri (KSS).

Nama yang tak kalah beken adalah Akbarudin Sucipto. Mendirikan grup musik tradisi Amparan Jati, Akbar tak hanya menghasilkan karya sastra tapi juga “mendakwahkan” syair-syairnya ke berbagai penjuru.

Selain tokoh-tokoh tersebut, masih banyak lagi santri pegiat sastra yang tak hanya menjadi penikmat, tetapi produktif memproduksi karya sastra seperti puisi, cerita pendek (cerpen), prosa, dan lirik. Sejumlah nama yang aktif antara lain Sobih Adnan, Luthfiyah Handayani, Abdurrahman, dan masih banyak lagi.

Banyak kontribusi santri dalam dunia sastra. Tak ayal mereka yang menghidupkan sastra kemudian dikenal oleh masyarakat atas hasil karya ciptanya.

Ketua Lembaga Bahasa dan Sastra Cirebon, Nurdin M Noer menjelaskan, kalangan sasntri yang berkontribusi  di bidang sastra sangatlah banyak. Namun yang menonjol bisa dihitung seperti KH Musthofa Bisri atau Gus Mus, Emha Ainun Najib (Cak Nun), Ahmad Syuhabudin Alwy,  Farid Maulana, Ustadz Romli, dan teman-teman santri lainnya.

“Sangat disayangkan, mereka tidak menuliskan puisi-pusisi yang kemudian dibagikan dan dijual. Mereka menulis tentang kritik sosial dan cinta, dan sangat sedikit yang menulis tentang Illahiyah. Berbeda dengan zaman sunan Gunung Jati,” kata Kang Nurdin saat ditemui cirebonplus.com di kediamannya daerah Harjamukti, Kota Cirebon dalam satu kesempatan.

Diceritakan, bila menengok zaman dahulu, seperti zaman para sahabat nabi dan ketika Islam masuk Indonesia melalui para wali. Saat itu sastra yang dituliskan lebih banyak berisi tentang Ilahiyah. Walaupun ada yang menuliskan tentang sosialitas, cinta, realitas, dan sebagainya.

Dikatakan, santri tidak akan hilang, begitupun juga karya-karya yang diciptakannya. Jika karya diterima di masyarakat, karya santri ini akan hidup dari zaman ke zaman. Di antara yang fenomenal adalah karya Jafar Al Barjanji.

“Sastra pada saat ini mengalihkan pada realitisme, suryalisme, dan lain sebagainya. Dan sulit dijangkau oleh mereka,” kata Kang Nurdin.

Di era globalisasi ini, sambungnya, kebebasan di segala bidang mulai teknologi, ekonomi, pendidikan, hingga budaya memudahkan pengaruh luar masuk dan diserap masyarakat tanpa memfilter. Namun tidak semuanya negatif. Di dunia sastra, justru dimudahkan dalam mengenal karakteristek sastra luar. Jika itu bagus dan cocok bisa dipakai dan diadopsi oleh kalangan santri, ataupun khalayak umum.

Lahirnya komunitas, lembaga, atau organisasi yang konsens di wilayah sastra oleh kalangan santri, menurut Kang Nurdin, harus dimanfatkan secara maksimal. Tetapi yang harus diingat, membentuk lembaga atau komunitas, harus juga menciptakan karya-karya sastra.

Menghidupkan sastra di kalangan santri, ujarnya, haruslah dengan penuh rasa keyakinan dan percaya diri. Sehingga akan lahir sastrawan-sastrawan berkualitas di kalangan santri, mengikuti jejak Syubbanuddin Alwy, Edeng S Maarif, Baiquni, dan lain sebagainya.

“Santri bisa menghidupkan sastra sebagai media dakwah. Seperti Ja’far Al Barzanji menuliskan sejarah Nabi Muhammad. Jadikanlah pengaruh globalisasi bernilai positif. Artinya, santri bisa melihat karya sastra dari belahan dunia dan itu bisa jadi referensi untuk berkarya,” kata pria yang pernah berkarir di grup Pikiran Rakyat ini. (Ci+/tim)

Ilustrasi: merdeka.com

Related posts