kuping kiri

Tari Topeng Losari Menghentak Panggung Megah Amerika (Bagian 1)

Tari Topeng Losari Menghentak Panggung Megah Amerika (Bagian 1)

NORTHCAROLINA (Ci+) – Sabtu pagi (28/1) pukul 07.30 WIB atau Jumat malam (27/1) waktu Amerika, Tari Topeng Losari menghentakkan kaki di panggung negeri Paman Syam. Adalah Nur Anani atau masyhur di jagat seni dengan nama Nani Sawitri, yang membawa seni khas Kabupaten Cirebon itu di panggung internasional.

Ini untuk kesekian kalinya seniwati asal Astanalanggar, Kecamatan Losari itu menunjukkan karya besar Topeng Losari di hadapan penikmat seni dunia. Bagaimana ceritanya hingga bisa tampil di negaranya Donald Trump itu? Berikut wawancara cirebonplus.com bersama Nani Sawitri via ponsel.

Nani, sapaan akrab Nani Sawitri menceritakan bagaimana kesempatan tampil di University of North Carolina, salahsatu universitas besar dan bergengsi di Amerika Serikat. Undangan tampil datang langsung dari direktur universitas, yang memang punya program pementasan tari-tari terbaik dan unik di dunia secara berkala.

“Saya diundang langsung atas nama direktur University of North Carolina, Amerika Serikat mas. Mereka meminta saya untuk tampil di sana,” kata perempuan dengan sederet penghargaan seni tingkat nasional itu.

Ceritanya panjang, kata Nani. Saat itu, tepatnya setahun yang lalu ia sedang membawa para penari junior ke Jogjakarta untuk pementasan di acara bertajuk Asia Tri.

Even tersebut ternyata disaksikan rombongan Profesor Emil J Kang, executive diector for The Art Carolina Performing Art Department of Music dan Carl W Ernest (William R Kenan Jr Distinguished Profesor), director Carolina Center. Saat itu mereka dalam agenda keliling Indonesia guna menyeleksi jenis kesenian yang menarik dan dianggap layak untuk dipentaskan di universitasnya.

“Saya ditelepon Bu Amna, istri Maestro Sardono W Kusumo, seniman hebat kelas dunia dari Solo. Bu Amnah juga pemilik Yayasan Kelola. Beliau bilang dihubungi Pak Prof Syal Murgianto yang merekomendasikan saya supaya bisa presentasi langsung di depan perwakilan University of North Carolina,” ujarnya menjelaskan.

Karena diminta segera, bermodal flashdisk musik Tari Topeng dan alakadarnya, Nani pun segera mengiyakan setelah sebelumnya mencari tempat yang pas untuk presentasi.

“Om Djaduk Ferianto membantu saya meminjamkan tempat di Padepokan Bagong Kusudiardjo. Karena saat itu saya sedang berada di Jogja. Di situlah mereka meminta saya mempresentasikan Tari Topeng Losari,” cerita Nani.

Tak dinyana, usai pentas presentasi mereka tiba-tiba menangis. Mereka mengatakan Tari Topeng Losari “aneh”. Tetapi dengan keanehan itu, mereka kagum.

Mereka pun langsung memutuskan agar Tari Topeng Losari hisa dipentaskan di University of North Carolina. Mendengar keputusan tersebut, perasaan Nani campur aduk, antara bingung, terharu dan bangga.

“Tari Topeng Losari yang mereka pilih (dari sejumlah tari yang dipresentasikan saat itu). Saya bingung dan terharu saat mereka memutuskan kami yang dipilih,” tuturnya seraya mengatakan, saat itu juga pihak University of North Carolina menyodorkan kontrak yang langsung ditandatangani manajemen.

Di panggung tersebut Nani ditonton 1.000 pemilik tiket yang mayoritas akademisi, serta pegiat dan penikmat seni. “Deg-degan mas sebelum tampil, padahal sudah biasa manggung. Minta doanya biar lancar mas,” tambahnya.

Di panggung tersebut Nani penampil tunggal. Ia diberikan waktu selama 1,5 jam untuk mementaskan lima tarian khas Topeng Losari antara lain Tari Pamindo Panji Sutrawinangun, Tari Patih Jayabadra, Tari Kili Paduganata, Tari Tumenggung, dan Tari Kalana (bersambung)

Laporan: Kalil Baejeh

Related posts