kuping kiri

Tebing Cikanci Longsor, Jarak ke Permukiman Tinggal 10 Meter, 4 Keluarga Mengungsi

Tebing Cikanci Longsor, Jarak ke Permukiman Tinggal 10 Meter, 4 Keluarga Mengungsi

Cirebonplus.com (C+) – Senin (11/3) sekitar pukul 12.30 siang terjadi longsor di Blok Parenca, Desa Gemulunglebak. Tanah tebing yang berada di bantaran Sungai Cikanci terseret abrasi.

Longsor yang terjadi kali ini cukup lebar, sehingga jarak tebing dengan permukiman warga saat ini tinggal 10 meteran saja. Sejumlah pihak menduga tebing longsor karena hujan lebat dan arus sungai yang sangat deras, sehingga memicu terjadinya longsor. Tak hanya itu, kondisi tebing diduga sudah rapuh dan struktur tanahnya labil.

Babinsa Desa Gemulunglebak, Serda Edi Kurnadi mengatakan, dua kali terjadi longsor pada hari Senin siang. Longsor pertama pukul  12.30 dan kedua pukul 15.00.

“Longsor pertama membuat tebing sepanjang 5 meter amblas ke dasar sungai. Longsor kedua sekitar lima meter. Itu karena arus sungai yang deras dan dari atas juga akibat hujan lebat kemarin,” ujarnya melalui pesan singkat kepada Cirebonplus.com, Rabu (13/3).

Edi mengimbau kepada masyarakat agar berhati-hati, karena jarak permukiman terdekat dengan tebing sungai kurang dari 10 meter. Pihaknya mengingatkan kepada masyatakat bahwa saat ini arus sungai memang sedang deras, sehingga harus berhati-berhati dalam beraktivitas.

“Masyarakat sudah kita imbau untuk hati-hati dalam melakukan aktivitas dan jauhi titik terdekat dengan lokasi longsor,” imbuhnya.

Tak hanya di Blok Parenca, longsor serupa juga terjadi di Desa Gemulungtonggoh. Potensi longsornya pun lebih besar. Tetapu, lokasi longsoran tanah jauh dari permukiman.

“Kalau yang di Gemulungtonggoh dari kemarin. Tapi tidak ada permukiman, hanya areal pertanian. Kalau untuk longsorannya lebih besar ketimbang yang di Parenca,” jelasnya.

Edi khawatir longsor susulan. Warga pun khawatir longsor susulan akan terjadi dan lambat laun akan menyeret rumah warga. Akibat, sejak longsor yang terjadi beberapa hari lalu, empat keluarga sudah mengungsi.

Pihaknya menyesali tiga hari pascalongsor tidak ada penanganan berarti dari pemerintah terkait bencana pergerakan tanah di Gemulunglebak.

“Yang di Parenca sebenarnya kami sudah usulkan agar sisa bekas bendungan dijebol, karena menghalangi arus. Jadinya, arus sungai larinya ke pinggir dan mengikis tebing. Jadi longsor kan,” ungkapnya

Selian itu, jembatan yang satu tahun lalu terputus akibat terkikis oleh aliran air sungai saat ini masih belum dibenahi. Bahkan masih menggunakan jembatan darurat. (Muhamad Surya/C+3)

Related posts