kuping kiri

TGB Zainul Majdi: Islam dan Nasionalisme Menyatukan, Bukan Saling Membenturkan

Cirebonplus.com (C+) – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon menggelar Stadium General di Aula BKD Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, Jumat (2/2). Kegiatan tersebut mengambil tema Penguatan Nilai-nilai Nasionalisme dalam Studi Keislaman.

Sejumlah narasumber dihadirkan dalam kesempatan tersebut, di antaranya dua alumni Universitas Al Azhar Kairo Mesir. Yang satu adalah KH Wawan Arwani Amin, pengasuh Pondok Pesantren Buntet Cirebon yang kini memimpin para ulama sebagai rois Syuriah PCNU Kabupaten Cirebon dan kedua H Zainul Majdi, ulama yang saat ini memimpin Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai gubernur.

Tak hanya dihadiri oleh kalangan mahasiswa setempat, tapi juga alumni IAIN Cirebon dan beberapa pemuda dari luar kampus. Tampak pula sejumlah alumni Universitas Al Azhar Mesir.

Dalam kesempatan tersebut KH Wawan Arwani menyampaikan, bicara soal hubungan Islam dengan negara ini adalah sebuah hubungan yang tidak akan pernah selesai sampai kapanpun. Islam telah menyatu dalam diri bangsa Indonesia

“Walaupun demikian, ketika negara dengan Islam seperti hampir sedemikian rupa menyatu, tidaklah apa-apa. Lebih baik lagi bila warga negara memahami ini dengan jelas,” kata dia.

Ia menambahkan, secara spesifik di Indonesia ikatan antara agama dengan negara sudah sangat luar biasa. Bahkan jauh ketika Indonesia belum merdeka.

“Ketika Jepang meghadapi Indonesia misalnya, lupa bahwa salahsatu kekuatan bangsa Indonesia adalah karena ikatan kuat pada agama,” tandas Kiai Wawan.

Sementara itu TGB Zainul Majdi dalam pemaparannya mengatakan, bangsa Indonesia memang selalu berhadapan dengan masalah, tapi masalah harus dihadapi. Seperti sekarang ini ada isu atau masalah yang dari waktu ke waktu menjadi perbincangan publik di bidang akademik atau perguruan tinggi, yaitu hubungan antara agama dan negara.

“Indonesia tidak sama dengan negara-negara bangsa. Justru Indonesia ini adalah penyatuan,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia ketika lahir bukan dihadiahkan, bukan pula dibagi oleh para penjajah. Tetapi adalah hasil jeri payah, darah, dan air mata, serta semua elemen yang menyatu menjadi negara bangsa, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Gubernur Majdi juga menegaskan bahwa Islam dan nasionalisme itu sifatnya menyatukan, bukan saling membenturkan. Antara nilai yang dianut Islam dengan nilai yang dikokohkan dalam konsep nasionalisme tidak ada yang bertentangan.

Menurutnya, teori benturan yang selama ini cenderung melahirkan ketidakharmonisan, kekacauan, dan konflik-konflik, merupakan nilai-nilai yang tidak dianut dalam Islam. “Islam tidak mengenal benturan-benturan itu. Yang dikenal adalah keharmonisan, ketenteraman dan kedamaian,” tuturnya.

TGB menjelaskan, Islam dan nasionalime itu satu dan saling menguatkan, karena sama-sama menganut nilai kebaikan. Nasionalisme yang didorong oleh Islam adalah hubbul wathan atau cinta tanah air dan merdeka dari segala macam bentuk penjajahan.

Justru, lanjut dia, nasionalisme yang dilarang dalam Islam adalah menyombongkan diri, menganggap bangsa sendiri lebih tinggi dan hebat dibanding bangsa lain. Atau menganggap rendah bangsa lain, yang pada akhirnya akan melahirkan benturan dan ketidakharmonisan.

“Islam dan keindonesiaan tidak boleh dipertentangkan dalam tataran konsep. Ia mengajak seluruh anak bangsa untuk secara bersama-sama memastikan bahwa agenda kebangsaan adalah agenda keumatan, agenda keindonesiaan adalah agenda keislaman,” paparnya. (*)

Laporan: Aulia Nurussyifa

Related posts