kuping kiri

Timsus 1901 Juara Anggap Kampanye Negatif karena Calon yang Didukung Tak Punya Kelebihan

Timsus 1901 Juara Anggap Kampanye Negatif karena Calon yang Didukung Tak Punya Kelebihan

Cirebonplus.com (C+) – Terungkapnya kampanye hitam yang diduga dilakukan 3 perempuan yang menghasut warga dengan cara door to door di Karawang menimbulkan keprihatinan berbagai pihak. Salahsatunya Ketua Timsus 1901 Juara Kabupaten Cirebon, Masyhuri Abdul Wahid yang mengaku turut menyesalkan peristiwa tersebut.

Menurut Uyi, sapaan akrabnya, kampanye hitam yang dilakukan tiga perempuan tersebut justru menjadi metode andalan dari  pihak-pihak tertentu. “Fenomena kampanye hitam ini muncul karena banyak faktor. Yang paling utama adalah tidak kuatnya profil calon yang didukung, sekaligus sangat kuatnya calon lawan,” ujar Uyi.

Dua hal tersebut, lanjutnya, terjadi bersamaan sehingga efeknya tim di lapangkan menemui kebuntuan dan tidak memiliki krativitas. “Tim lapangan menjadi tidak kreatif karena kelebihan calon yang didukung relatif tidak ada, sementara calon kompetitor sangat kuat. Kebuntuan inilah yang melahirkan kampanye hitam,” kata dia.

Sedangkan di Timsus 1901 Juara,  pihaknya sudah punya SOP dalam melakukan Door to Door Campaign (DTDC). Seluruh koordinator kecamatan dan desa sudah mendapat pembekalan memadai mengenai materi yang akan disampaikan ke masyarakat.

“Rambu-rambu pertama adalah fokus pada calon yang diusung. Ibarat sales, kami ‘jualan’ menyampaikan kelebihan yang ada di pasangan 01 dan tidak membahas kompetitor. Ini jauh lebih mudah karena banyak program dari Jokowi yang sudah dirasakan masyarakat hingga ke tingkat bawah,” paparnya.

Jadi, menurut Uyi, di Timsus 1901 sendiri mengandalkan metode kampanye positif. Kalaupun tim lapangan bertemu dengan pendukung lawan, pihaknya menghindari perdebatan. Karena yang dicari adalah simpati masyarakat, bukan menang-menangan debat.

Metode kampanye positif, menurut Uyi sangat baik bagi peningkatan kualitas pemilu itu sendiri. Masyarakat akan tercerahkan dengan program dan visi misi masing-masing calon.

“Selain itu, kampanye positif juga menjadi pendidikan politik bagi pemilih untuk menjatuhkan pilihan secara rasional, bukan semata-mata emosional fanatis. Ujung-ujungnya, Pemilu menjadi berkualitas, masyarakat menjadi cerdas dan demokrasi akan semakin bernas,” pungkasnya. (Muhamad Surya)

Related posts