kuping kiri

Titip Rindu Buat Kang Ayip: Mengingat Kecerdasan dan Kepedulian Sosial KH Syarif Usman bin Yahya

Titip Rindu Buat Kang Ayip: Mengingat Kecerdasan dan Kepedulian Sosial KH Syarif Usman bin Yahya

Catatan: SUTEJO IBNU PAKAR

SUFI adalah putra dari zaman dan bangsanya. Itulah kesan mendalam tentang sosok KH Syarief Usman bin Yahya atau Kang Ayip Usman. KH Abdullah Abbas, rois Syuriyah Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Barat pernah menegaskan bahwa Usman itu Ayip dan NU.

Pada kesempatan lain, di sela-sela rapat menjelang keberangkatan rombongan PCNU Kabupaten Cirebon ke arena Muktamar NU Cipasung, beliau kembali menegaskan bahwa Kang Ayip Usman adalag salahsatu modal NU dalam mempersatukan umat. Kalimat  ini menggambarkan kepedulian dan kedekatan Kang Ayip dengan Nahdhiyyin. Mengentaskan kemiskinan warga masyarakat sekitar, melayani kebutuhan semua komunitas beragama, dan menyejehterakan sesama termasuk komunitas hafidzoh (wanita penghafal Alquran) warga Fatayat NU Cirebon adalah amal saleh yang harus diteladani untuk dilanjutkan generasi muda NU Cirebon yang  mengaku dekat dan atau mengidolakannya.

Kang Ayip memiliki kesadaran dan kemampuan menerima fakta-fakta dan realitas dunia (termasuk diri sendiri) daripada menolak atau menghindarinya. Gagasan-gagasan dan tindakannya yang cenderung spontan, bila dilihat atau didengar dari kejauhan, memang  mengejutkan. Kreativitasnya dikenal sangat tinggi dan variatif, meskipun terkadang sulit dipahami atau diikuti. Bahkan dinilai tendensius dan politis oleh sebagian pihak.

Kami merasa sangat dimuliakan karena diperkenalkan dan dilibatkan dalam gerakan sosial (amal saleh) operasi katarak di lingkungan Pesantren Khatulistiwa Kempek, Ciwaringin, Cirebon, bersama-sama dengan kelompok Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Lion Club. Kang Ayip merasakan kebahagiaan ketika usahanya menyejahterakan dan membahagiakan orang lain dapat terlaksana secara nyata. Meskipun harus mengorbankan segala-galanya dan hanya mendapatkan celaan atau kritikan.

KH Ibnu Ubaidillah Syatori, Prof. Dr. Chozin Nasuha dan KH Husen Muhammad adalah tokoh-tokoh intelektual (kyai) yang giat mencerdaskan warga NU Cirebon. Hampir tiap malam kami berempat terlibat diskusi dengan Kang Ayip tentang keilmuan Islam klasik, modern, dan kotemporer. Kecerdasan dan kepekaannya terhadap perkembangan keilmuan kontemporer tidak dapat diragukan oleh siapapun. Pilihan kata dan kalimatnya mencerminkan sistematika berpikir seorang pemikir dan penulis ulung.

Suatu ketika KH Husen Muhammad mengungkapkan kekagumaannya di depan kami bertiga. “Kami heran, Ayip kuh kapan maca bukue, wonge weruan cah, dasar cerdas,”. Itu sepenggal kalimat yang saya ingat meskipun tidak persis sama. Kalimat itu pun diiyakan kedua kiai tersebut.

Pujian tentang kealiman Kang Ayip yang datang dari berbagai kalangan ilmuwan dan akademisi adalah sesuatu yang lazim dan tidak pernah menjadikan pribadinya berubah, apalagi terbuai. Tawadhu’ (proporsional) dan tasamuh (toleran) adalah karakter pribadi bertubuh tinggi besar dan sepintas  “menyeramkan” bagi yang belum mengenalinya secara benar.

Tidak jarang kami berbeda pendapat di depan forum bahkan sampai terlontar guyonan  yang  “memalukan”. Tetapi selesai diskusi kecil kondisi kejiwaan kami dibahagiakan oleh sikap seorang sahabat sejati tempat kami menumpahkan keluh kesah dan perlakukan kasih sayang seorang ayah, tempat kami merajuk dan bermanja-manjaan. Bahkan tidak jarang terlontar ungkapan yang mendewasakan kami. “Jare ente priben?”.

Semua tutur kata, sikap, dan perlakuan yang kami terima sejatinya adalah pendidikan seorang ayah kepada putra yang sangat disayanginya. Kang Ayip tidak pernah merasakan ditinggalkan anak didik atau anak ideiologisnya, karena dia tidak pernah melupakan anak didiknya. “Jo, ente mendi bae,” adalah kalimat pertama yang dilontarkan ketika kami saling jumpa dan bahkan dalam komunikasi via telepon. Tidak jarang, perjumpaan diawali dengan makan bersama, padahal belum ada pembicaraan serius di antara kami.

Rumah dan keluarga Kang Ayip adalah rumah dan keluarga kita bersama. Kami generasi muda Nahdliyyin tidak pernah menyebutnya Bu Nyai atau Ummi kepada istri beliau. Sejak muda sampai dengan sekarang kami menyebut dan memanggilnya mimi dan beliau pun berkenan.

Di dalam pergaulan sosial sehari-hari Kang Ayip memiliki interest khusus dalam memecahkan masalah bersama dan mengutamakan masalah-masalah kemanusiaan, secara cerdas, cepat dan mudah dilaksanakan. Memecahkan masalah  merupakan fokus utamanya dalam melayani dan ngopeni masyarakat.

Intuisinya sudah terlatih sejak semula untuk selalu berdekatan dengan orang lain dan menghargai kehidupan sesama. Kemampuan  melihat segala sesuatu secara objektif terlahir dari ketajaman intuisinya. Perilakunya merupakan cermin internalisasi dan independensinya dari otoritas eksternal tentang nilai-nilai universal Islam  rahmatan lil ‘alamin. (*)

Penulis Adalah tokoh NU Cirebon Penganut Tarekat yang Meyakini Nilai Sufisme Dapat Menjadi Solusi Berbagai Masalah Bangsa

Related posts