kuping kiri

Toleransi, Akar Budaya yang Ditanamkan Pendiri Cirebon

Toleransi, Akar Budaya yang Ditanamkan Pendiri Cirebon

CIREBON (Ci+) – berbagai forum diskusi tentang sejarah Cirebon, selalu saja berbekas kesimpulan tentang suasana rukun damai masyarakatnya. Terutama saat Cirebon telah menjadi kerajaan Islam.

Dalam banyak sumber, baik naskah klasik maupun buku-buku akademik, dikisahkan bahwa dahulu kala Cirebon adalah daerah nelayan. Semakin hari daerah ini semakin berkembang dan maju di berbagai bidang.

Dirasa memenuhi syarat untuk mendirikan pemerintahan mandiri, maka berdirilah Kerajaan Cirebon. Pemerintahannya berbentuk kesultanan yang dipimpin oleh Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati.

Karena terus berkembang menjadi pusat perdagangan, di mana pelabuhan internasional sebagai sentral aktivitasnya, Cirebon pun ramai. Banyak saudagar dari luar, mulai dari China, Campa, India, Gujarat, Arab, Persia, Portugis, Belanda, dan lainnya. Dari sinilah Cirebon dengan keramahannya menerima tamu yang datang, sehingga sehingga tercipta daerah yang rukun, plural, dan terkenal dengan toleransinya.

Saat itulah fondasi nilai-nilai kerukunnnya diletakkan Pangeran Cakrabuana atau Mbah Kuwu Cerbon yang dilanjutkan keponakannya, Syekh Syarief Hidayatullah Sunan Gunung Jati.

Hal ini menjadi luar biasa, karena suasana toleran itu terbangun atas komitmen yang sama dari orang-orang yang berasal dari berbagai etnis, agama, dan latarbelakang ekonomi. Bahkan berasal dari negara yang berbeda.

Kerajaan saat itu, juga membangun secara serius budaya keislaman yang tasamuh atau toleran. Dalam setiap keputusan dan kebijakan, selalu saja tidak memprioritaslkan keuntungan bagi mayoritas atau merugikan minoritas.

Metodologi dakwahnya pun dilakukan bil hikmah, penuh sopan santun, pendekatan budaya, dan menjunjung tinggi akhlaqul karimah. Sehingga dengan mudah masyarakat memeluk Islam.

Bahkan Sunan Gunung Jati memberikan penegasan atas sikap tolerannya dengan menikahi Ong Tien, putri saudagar kaya asal China. Ini artinya, Cirebon punya akar sejarah toleransi yang kuat. Bukan fundamental atau ekstrim kanan. Apalagi ekstrim kiri seperti liberalis, sosialis, atau komunis.

“Itu akar budaya Cirebon yang plural. Karena itu jelas sekali bahwa bibit radikalisme merupakan impor dari luar yang dibawa pendatang,” kata peneliti Fahmina Institute yang juga sekretaris Lakpesdam NU Pusat, H Marzuki Wahid yang diamini tokoh Kristiani, Pendeta Yohanes Muryadi dalam sebuah diskusi.

Belakangan, beberapa kasus yang melibatkan masyarakat Cirebon, seperti pengeboman di Polres Kota Cirebon tahun 2011, dan banyaknya jaringan teroris, di sinilah arus masyarakat mulai berubah yang memberikan kesan intoleran. Seperti disampaikan Pendeta Yohanes.

Dalam pandangan Yohanes, terorisme adalah kejahatan manusia yang dilakukan oleh oknum atau sekelompok orang, bukan atas agama. Karena agama sejatinya adalah kebaikan, kedamaian, dan ketenteraman. Agama tidak mengajarkan kekerasan maupun membunuh sesama manusia.

“Terorisme yaitu kejahatan manusia baik kelompok atau golongan, atau kita sebut oknum. Mereka melakukan itu bukan atas nama agama. Karena agama adalah pembawa kebaikan dan kedamaian bagi manusia,” tegas dia.

Pendeta Yohanes berpesan, setiap agama (pendakwah) dalam setiap dakwah harus membawa kedamaian, kebaikan, serta menjadikan seseorang menjadi sahabat. Tentu dengan tidak memaksakan kehendak mereka dalam melaksanakan ibadah.

“Amalkan agama anda, hayati agama anda, dan lakukanlah kebaikan bagi seluruh umat manusia,” tuturnya.

Dengan permasalahan yang semakin bertambah, aktivis Cirebon pun bersepakat membuat wadah organisasi sebagai media dialog antaragama untuk menciptakan kedamaian dan toleransi. Namanya, Pemuda Lintas Agama (Pelita) Perdamaian.

Organisasi ini bergerak melalui tiga bidang yakni sosial, budaya, dan pendidikan. “Kami bergerak untuk membentuk paradigma yang membangun sikap toleransi antaragama, melalui tiga aspek, yakni sosial, budaya, dan pendidikan,” kata Ketua Pelita Perdamaian, Abdurahman Wahid (Omen) kepada cirebonplus.com.

Sejalan dengan itu, toleransi akan tumbuh bila setiap agama bisa melakukan dialog. Karena melalui dialoglah, semua bisa mengetahui apa yang diyakini, dipercayai, dan dilakukan.

Dia pun menyitir pendapat KH Husein Muhammad dalam buku berjudul Toleransi Islam: Hidup Damai dalam Masyarakat Plural. Bahwa pengakuan atas pluralisme dan dialog antaragama, sesungguhnya adalah sikap mengakui fakta dan realitas akan eksistensi agama-agama yang dipeluk oleh umat manusia yang berbeda-beda dan harus dihormati.

Di antara cara yang dilakukan Pelita untuk menciptakan ruang dialog antaragama adalah dengan mengadakan diskusi rutin bulanan, menggelar acara formal dan nonformal, dan lainnya. (tim)

Related posts