kuping kiri

Waspada Politik Badut Anti-Ideologi!

Waspada Politik Badut Anti-Ideologi!

Catatan: Bakhrul Amal

IKAT pinggang dari politik adalah ideologi. Dia bisa dilonggarkan ataupun dikencangkan, tergantung daripada tuan dan jenis celana yang dipakainya. Politik tanpa ideologi artinya politik yang secara sengaja hendak memelorotkan celana di muka umum.

Abad ke-20, seperti kita sepakati bersama, adalah abad teknologi. Abad di mana semua kegiatan kita, secara sadar dan tak sadar, terintegrasi pada data-data komputerisasi. Sifatnya universal dan terbuka. Semua bisa mengakses secara bebas. Untuk beberapa hal, dengan keadaan macam itu, manusia tentunya memilah-milih tampilan yang paling menarik yang ada padanya untuk disuguhkan pada khalayak.

Politik yang sunatullahnya menjadi anak asuh zaman, tentu tidak bisa tidak, terpangaruh pula pada zaman itu. Politik yang semula tampil di atas mimbar dan sobekan-sobekan kertas, kini beralih muka menjadi tampilan menarik penuh warna-warni di layar komputer.

POLITIK GLOBALISASI
Bagi manusia politik dan keberlangsungan politik itu sendiri, mereka tentunya dimudahkan dengan era ini. Ide serta gagasan bisa didesemiasikan secara luas dan mampu dijangkau oleh lebih banyak orang. Ideologi yang menjadi ikat pingganya pun dipoles dengan baik melalui kata-kata yang lebih gampang dipahami. #Indonesiahebat #saveKPK #Kamitidaktakut #Turuntangan dan #melawanasap adalah bentuk penyebaran politik yang kemudian kita kenal dengan istilah penyebaran viral sensation.

Selain melalui kata-kata yang mudah tersebut, politik pun tidak luput dari shortmovie yang minimalis, namun berimbas maksimalis. Pilihan ini dilakukan karena masyarakat abad ini, sebagai subjek sekaligus objek yang dipolitikkan oleh manusia politik, lebih suka hal yang singkat, namun sarat makna. Maka munculah gambaran seorang yang turun ke permukimam kumuh, gambaran seorang yang kuat menunggangi kuda, gambaran kesedihan kisah-kisah masa lalu, hingga aksi heroik perihal pilihan “atas nama rakyat”.

Pada beberapa kasus hal ini perlu kita akui efektif. Teroris yang semula dianggap sebagai ancaman kini berubah menjadi lelucon. Gagasan yang dahulu rumit kini dirangkum dengan dokumentasi kerja sebagai aksi nyata yang melampaui teori. Kesibukan di balik meja tidak lagi dianggap lebih mulia dari aksi turun ke bawah yang ditampilkan berulang-ulang.

Keberhasilan-keberhasilan itu secara pasti membuat alur dan pandangan terhadap politik menjadi berubah. Politik yang berorientasi pada kekuasaan, tentu kunci utama kemenangannya adalah simpati rakyat. Saat ini, simpati rakyat sedang berada pada politik gaya viral sensation tersebut, bukan lagi politik gaya mati-matian memperjuangkan gagasan seperti Bung Karno, Che Guevara, atau juga Hugo Chavez. Lalu, bisakah ideologi tetap hidup pada zaman yang bergantung dengan kebutuhan pasar?

YANG POLITIK dan YANG VISUAL
Telah kita sepakati bersama, yang politik saat ini telah berubah pada yang visual. Yang visual itu tentu berbeda dengan yang politik. Yang visual mengacu pada tuntutan pasar yang sifatnya komoditas, bukan pada ideologi. Ideologi belum tentu disukai dan tidak memiliki paksaan sedikit pun untuk disukai. Sedangkan yang visual, memiliki tuntutan agar selalu disukai, semakin disukai pasar semakin mahal nilai jualnya. Tidak peduli itu baik atau buruk, itu sandiwara atau nyata.

Imbasnya, ideologi sebagai ikat pinggang politik tidak lagi lebih penting dari tampilan apik yang disenangi konsumen. Tidak heran jika kemudian kita melihat orang berbicara “saya sosialis” ketika di layar kaca, tetapi pada tataran kebijakannya orang tersebut amatlah kapitalis. Kemudian juga jangan lagi kaget andaikan ada orang yang bermanis wajah di media sedangkan dalam kenyataannya dia adalah “penjagal”. Mereka melakukan itu karena politik telah berganti yang visual sehingga tidak ada lagi aktor politik, yang ada hanyalah badut. Badut yang bisa membuat masyarakat suka padanya yang bersandiwara.

Aktor politik yang semula disematkan pada kemampuan meramu ideologi (Nabi Muhammad, Paz Estenssoro, Fidel Castro, Tan Malaka) telah berubah menjadi seorang badut pemeran opera yang menantikan tepuk tangan. Badut itu tidak ditentukan oleh pertempuran tesis, anti-tesis, dan sintesa. Tetapi badut, menurut Robertus Robet, diatur oleh skenario, pencahayaan, mimik wajah, skema panggung, yang dibuat sedemikian rupa agar disukai. Pada menit sekian mereka harus muncul, menit selanjutnya melambai tangan, selanjutnya lagi menari-menari, dan penutupnya dibubuhi senyum agar penonton bahagia. Ideologi pun menjadi bahan tertawaan yang semakin dilupakan.

PENUTUP
Akhirnya, sekarang politik tidak lagi memiliki tujuan, tidak lagi jelas apa yang hendak dipertaruhkan. Ideologi menjadi nomor sekian dalam politik karena yang dikejar oleh politik saat ini adalah tuntutan pasar. Jikalau sudah begitu, maka kita kembali pada paragraf pertama. Artinya, politik penganut badut atau badutism yang terjangkit oportunis tingkat akut itu, tidak ubahnya seperti tuan yang bodoh karena memelorotkan celana di depan umum. (*)

Penulis Adalah Dosen UNU Indonesia asal Cirebon

Related posts