Home Headline 2021, Perkuat Dakwah Narasi Damai Bukan Kebencian

2021, Perkuat Dakwah Narasi Damai Bukan Kebencian

by Redaktur Cirebon Plus
0 comment

CirebonPlus (C+) – Tahun 2020, dinamika dakwah Islam di Indonesia, baik melalui lisan maupun media sosial, masih diwarnai dengan karakteristik pendakwah yang keras, intoleran, eksklusif, menyerang agama lain atau golongan lain, narasi kebencian, dan karakter lainnya yang kontraproduktif. Efeknya, menimbulkan konflik, gesekan, menanamkan kebencian, dan dampak negatif lainnya.    

Menyikapi hal itu, di tahun 2021 ini Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) KH Agus Salim HS berharap besar dakwah-dakwah yang menyejukkan dan tanpa narasi kebencian diperkuat. Tujuannya menciptakan kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan beragama di Indonesia.

Pesan tersebut disampaikan Agus dalam Refleksi Akhir Tahun Dakwah Tahun 2020 untuk Indonesia Aman dan Damai, di Gedung PBNU Jakarta Pusat, kemarin sebagaimana disadur dari website NU Online. Dalam kesempatan itu Agus lebih banyak menyampaikan tentang dakwah di medsos.

Dalam pandangannya, media dakwah harus beradaptasi dengan zaman. Salahsatunya, di era kemajuan teknologi seperti sekarang, terdapat media sosial yang dapat menjadi ruang dakwah baru. Dakwah di media sosial sangat penting sebagai tuntutan, kebutuhan, dan sekaligus tantangan.

“Dakwah di medsos itu ada dua hal, positif dan negatif. Positifnya karena terdapat kemudahan yang diperoleh. Negatifnya adalah tersebar berita bohong dan ujaran kebencian di sana. Maka perlu adanya upaya nyata untuk mengatasinya. Hal inilah yang perlu disikapi oleh para pendakwah NU di LD PBNU,” papar Abi Agus, sapaan akrabnya. 

Dikatakan, saat ini Islam kehilangan sifat Nabi Muhammad yang sangat santun dalam berbicara. Bahkan di Indonesia sendiri, telah hilang sikap menjunjung tinggi kepentingan sosial yang terbangun dari konsensus kolektif dari anak bangsa yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. Oleh karena itu, Kiai Agus berpesan jika ada yang berbicara atas nama bangsa dan umat jangan sampai mengubah dan merusak konsensus yang telah disepakati para pendiri bangsa.

Kiai Agus menegaskan, semua harus bersyukur karena telah menjadi warga negara Indonesia lantaran negeri ini dihuni beragam suku bangsa dan agama. Namun, sambungnya, keberagaman tersebut saat ini telah dicoreng oleh adanya polarisasi, kekerasan, dan terorisme.

“Hal itulah yang kini menjadi tantangan bagi para pendakwah NU. Kami berharap, para juru dakwah NU agar mampu menjawab segala tantangan yang ada,” sambungnya.

Lebih jauh ia menyampaikan, LD PBNU emban risalah dakwah Nabi Kiai Agus menegaskan pula bahwa LD PBNU merupakan penerus risalah kenabian. Sebab menurutnya, dakwah merupakan kewajiban umat Islam yang tersambung dari Nabi Muhammad, para sahabat, ulama, hingga saat ini berada di pundak NU. Oleh karena itu, para pendakwah NU harus betul-betul memahami Islam secara kaffah atau lengkap.

Kiai Agus pun mengutip Surat Al Jumuah ayat 2 yang artinya, Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Ia menjelaskan, ayat itu menunjukkan sebuah paradigma untuk memahami Islam sebagai agama yang kaffah. Sebab pada Islam sendiri, terdapat tiga komponen yang harus dipahami dan diamalkan bagi setiap Muslim. Di antaranya akidah, syariah, dan tasawuf. 

“Perspektif akidah mengajarkan soal konsep teologi keesaan Allah. Di tengah kaum jahiliyah dari suku Quraisy, Rasulullah berhasil memasukkan konsep teologi Laa Ilaaha Illallah dengan dakwah bil hikmah atau bijaksana,” tutur Kiai Agus. 

Perspektif kedua, kata dia, adalah syariat. Sebuah tuntunan hidup manusia dalam segala aspek mulai dari penegakan hukum, keadilan, kesejahteraan, dan menciptakan kemakmuran.

“Pada akhirnya, syariat ini akan menciptakan sumberdaya manusia yang berakhlak. Inti syariat adalah mengingat Allah Syariat ini dalam rangka mengenal Allah,” lanjutnya.

Untuk komponen tasawuf, menurut Kiai Agus, sangat penting untuk digunakan dalam berdakwah agar mampu mewujudkan misi kemanusiaan sebagai misi Islam yang bersifat holistik atau kaffah

“Praktiknya dalam sehari-hari diwujudkan dalam pola agama yang tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (berimbang), dan al adl (berprinsip). Hal inilah yang menjadi landasan etika sosial,” jelasnya.

Sementara itu terkait pentingnya sanad keilmuan, di acara yang sama Habib Jindan bin Novel bin Salim menegaskan bahwa sanad dalam keilmuan berdakwah merupakan hal penting. Sebab mampu membawa keberkahan. Jika seseorang belajar ilmu dan berdakwah tanpa sanad, maka akan melakukan sesuatu semaunya. 

Habib Jindan menegaskan, para kiai dan ulama di lingkungan NU adalah ahlussanad atau orang yang memiliki jalur sanad keilmuan sampai kepada Rasulullah. Bahkan Habib Jindan menuturkan, dulu pernah ada ulama Timur Tengah datang ke Indonesia untuk mengambil sanad dan berguru kepada ulama tanah air.

Ia mencontohkan, kakeknya yang bernama Habib Salim bin Ahmad bin Jindan berguru dan mengambil sanad keilmuan dari kiai di NU yakni Syekh Cholil Bangkalan, Madura.

Menurutnya, masih banyak ulama-ulama Timur Tengah lainnya yang berguru pada ulama Nusantara. Ia juga mengungkapkan, tidaklah metode dakwah yang memiliki silsilah atau sanad bersambung hingga Rasulullah masuk ke daerah mana pun kecuali menjadi solusi dari konflik yang ada di sana.

“Namun kenapa tiba-tiba negeri yang tidak ada konflik, dimasukkan dengan suatu dakwah yang katanya dakwah Islam, tahu-tahu berubah menjadi konflik. Pertanyaannya, apakah agamanya beda?” Tanya dia terkait muncul adanya fenomena dakwah di Indonesia saat ini yang tidak mencontoh Rasulullah.

Habib Jindan menambahkan, hal itu bukan karena agamanya yang berbeda. Namun lantaran pemahaman dalam cara berdakwah yang tidak sama. Dengan kata lain, alih-alih mengikuti apa yang didakwahkan, malah menimbulkan perpecahan di tengah-tengah masyarakat.

“Sudah seharusnya para pendakwah mencontoh kesuksesan Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara. Keberhasilan mereka adalah berasal dari metode yang digunakan Nabi Muhammad dalam berdakwah,” kata dia.

Para Wali Songo, ujar Habib Jindan, telah menunjukkan bahwa dakwah dengan penuh kedamaian menjadi kunci suksesnya mereka menjadikan Indonesia negara dengan mayoritas beragama Islam saat ini. Berkat peran Wali Songo, dakwah Islam di Indonesia menjadi berhasil. “Sebuah kesuksesan yang tidak ada di negeri mana pun juga. Di negeri mana pun juga,” tegasnya.

Para Wali Songo, jelasnya, tidak menggunakan kekerasan dalam berdakwah tapi justru sangat luwes dalam berdakwah dan tidak menggunakan senjata tajam untuk memaksa penduduk Nusantara memeluk Islam. Para Wali Songo memiliki sesuatu yang lebih tajam dari senjata. “Apa senjata mereka? Akhlak, adab, ilmu, istiqamah, tawadlu, amanah, kejujuran, kesantunan,” terangnya.

Habib Jindan pun mengingatkan umat Islam yang hidup di Indonesia harus bersyukur. Sebab negara selalu mendukung kegiatan umat beragama. Setiap pemeluk agama di Indonesia juga diberikan kebebasan yang tidak dimiliki di negara mana pun. “Bahkan di Saudi Arabia nggak punya kebebasan seperti kita. Bahkan di Timur Tengah tidak punya kebebasan seperti kita, negeri Indonesia ini,” pungkas dia. (C+/06)

Ilustrasi: NU Online

Related Articles