Home Ekobisnis 3 Modal Utama Pengembangan Pariwisata

3 Modal Utama Pengembangan Pariwisata

by Redaktur Cirebon Plus
0 comment

CirebonPlus (C+) – Mengembangkan pariwisata ternyata tidak mudah dan tidak bisa asal-asalan. Tak cukup modal gagasan dan produk kreatif. Selain hal itu, ternyata dibutuhkan modal sosial.

Hal itu muncul dalam Seminar Series Nasional Kepariwisataan Program Studi Kajian Pariwisata, Sekolah Pascasarjana UGM, kemarin. Seminar kali ini banyak mengulas perlunya modal sosial dalam pengembangan pariwisata.

“Modal terbentuk karena adanya kesamaan nilai dan tujuan yang hendak dicapai sehingga unsur kepercayaan, jaringan dan norma menjadi penting dalam pembentukan modal sosial,” ujar salahsatu pembicara  seminar Dr Bakri MM yang juga alumni doktoral Program Kajian Pariwisata UGM .

Menurutnya, sektor pariwisata terbilang unik, karena dijalankan dengan kerjasama seluruh lapisan masyarakat yang secara sosial memberikan ruang gerak bagi perkembangannya. Hampir tidak mungkin pariwisata tumbuh tanpa keikutsertaan masyarakat secara aktif dalam mempersiapkan destinasi, menjaga keamanan, melayani wisatawan, dan melakukan promosi.

Narasumber sendiri mengaku telah melakukan pendampingan dan riset di Desa Wisata Dieng, Jawa Tengah. Dengan parameter itu, ia menganalisis modal sosial di Desa Wisata Dieng dan menemukan bahwa dengan kepercayaan dan mandat yang diberikan kepada masyarakat, mereka berhasil mengembangkan Desa Wisata sejak 2009.

Masyarakat, terangnya, berhasil mengubah potensi alam dan budaya menjadi produk wisata, seperti paket wisata, 120 homestay, makanan khas, dan Festival Budaya Dieng.

“Bahkan masyarakat pengelola homestay mampu mendapatkan penghasilan hingga 4,3 juta rupiah. Hal itu didukung oleh peningkatan jumlah kunjungan wisata sejak 2011-2016,” sambungnya.

Pembahas lain, Prof Heddy Shri Ahimsaputra menyampaikan, selain modal sosial, dalam pengembangan pariwisata diperlukan pula modal budaya dan modal ekonomi. Ketiganya harus ada dan berjalan dengan beriringan.

“Meski demikian, di banyak destinasi seringkali ada ketimpangan dan keduanya tidak sejalan, misalnya modal sosial tinggi tetapi modal ekonomi rendah,” ungkapnya.

Heddy juga menggarisbawahi peran agen eksternal dalam pengembangan pariwisata Dieng yang juga dikonstruksi dari peningkatan dan perluasan jaringan yang dibentuk oleh Desa Wisata.

Seminar kali ini turut menghadirkan salahsatu penggerak Desa Wisata Dieng, Alif yang juga anggota Pokdarwis Dieng Pandawa. Ali mengatakan, meski masyarakat Dieng memiliki modal sosial, dukungan dari pemerintah dan akademisi khususnya pendampingan UGM dirasa sangat membantu.

Dalam kondisi pandemi Covid-19, pengunjung Desa Wisata Dieng tetap tinggi, meski pada hari-hari tertentu jumlah pengunjung relatif sepi.

“Bagi masyarakat, hari-hari sepi mereka manfaatkan untuk beristirahat dan merefleksikan ulang dengan melakukan penataan-penataan yang diperlukan. Artinya, baik Dieng sepi maupun ramai masyarakat mengambil hikmah,” lanjut dia. (C+/06)

Ilustrasi: Net

Related Articles