kuping kiri

Bahasa Cirebon dan Idiom Khasnya

Bahasa Cirebon dan Idiom Khasnya

MAURICE Merleau-Ponty, fenomenolog kenamaan Prancis mengatakan bahwa kemajuan peradaban manusia diawali dengan terciptanya suatu bahasa. Bahasa adalah warisan terciamik dari manusia. Mungkin Ponty sedikit menukil Descartes dalam mengutarakan hal itu. Karena senada dengan Ponty, jauh-jauh hari, Descartes sudah lebih dulu berujar bahwa bahasa adalah kekhasan yang dimiliki oleh manusia.

Dengan bahasa, mahluk bernama manusia bisa saling memahami keinginan manusia lainnya. Melalui media bahasa, manusia bisa saling bertukar informasi tentang hal-hal yang sebelumnya musykil diutarakan. Di Indonesia, bahkan, bahasa menjadi media yang mempersatukan semangat kebangsaan dari ujung Sabang hingga Merauke.

Namun bahasa, sama dengan penemuan lainnya, juga memiliki problem. Antropolog menilai bahwa bahasa terpengaruh oleh sistem bahasa dan sistem sosio-budaya. Semisal bahasa formal suatu negara biasanya terbatas pada teritori bangsa. Sedangkan bahasa adat, laiknya Jawa, Batak, dan Sunda, terpaku pada kesepakatan masyarakat adat. Contohnya adalah gedang di dalam bahasa Jawa memiliki arti pisang. Sedangkan di Sunda berarti pepaya. Ringkasnya, problem bahasa itu berpusat pada kepiawaian penutur perihal apa yang hendak disampaikan harus pula dipahami oleh penerima tutur. Itu kata Gillian Brown dan Yule dalam discourse analysis halaman 23.

Selain bahasa yang lumrah atau dipahami umum, adapula bahasa-bahasa kiasan (figurative language). Salahsatu yang dikenal –disamping sinekdot, metafor, simile– adalah idiom. Idiom secara leterlek berarti ungkapan khusus atau lebih spesifik apabila diindonesiakan menjadi makna kiasan.

Idiom, dalam beberapa hal, dipakai untuk mempersingkat yang rumit. Seperti andaikakata kita ingin menjelaskan; orang yang pandai tetapi kepandaianya itu digunakan secara negatif, maka dengan idiom, kita perkecil saja itu dengan kiasan orang berakal bulus. Atau juga, manakala kita pergi jalan-jalan hanya untuk sekadar menghilangkan penat, kita bisa mengungkapkannya dengan “cuci mata”.

Memang, jika melihat contoh di atas, kita akan menemukan kebingungan dan ketidaknyambungan. Apa pasal? kita tidak pernah tahu akal atau bahkan maksud daripada perilaku seekor bulus (binatang sejenis kura-kura yang punggungnya lunak) itu. Dan kita, pasti bertanya-tanya, sejak kapan mencuci mata bisa dilakukan tanpa menggunakan air? Untuk itulah, Martin Davies, dalam Idiom and Methapor (Prosiding masyarakat Aristotelian, hlm 68), menjustifikasi bahwa idiom tidak bisa diartikan kata per kata (word by word).

Dari perjalanan bahasa hingga sampai pada per-misal-an yang kadang hanya dimengerti oleh sebagian orang saja (baca: idom), penulis tergelitik untuk memamparkan beberapa idiom yang khas Cirebon. Di bawah ini, meskipun berangkat dari kegelian, penulis akan sajikan beberapa idom yang biasa diutarakan oleh wong tua di Kota Cirebon.

AJA GAWE RUSIA

Jikalau kita membuat jengkel atau bertingkah hasud yang kemungkinan menyulut keributan, orang tua kita hampir sebagian besar berkata “aja gawe Rusia” (jangan membuat Rusia). Oleh orang tua kita, Rusia dijadikan indikator ‘ribut’ karena pada waktu itu sedang gencar-gencarnya perang antara Amerika dan Rusia. Dan Rusia, yang menjadi antitesis dari negara-negara liberal, dipersepsikan sebagai komunis. Tentu kita paham, komunis sangat dibenci pada masa yang lampau itu.

 KARI MEREM

Pada suatu kesempatan, sadar atau tidak sadar, kita tidak jarang mengatakan kari merem (tinggal memejamkan mata). Ungkapan tersebut biasanya keluar setiap kali kita memperoleh suatu tantangan yang teramat mudah bagi kita. Contoh percakapannya: Coba jawab 2+2 itu berapa? Dijawab: Ah soal begitu mah, kari merem! Maksud daripada itu ialah kita tidak perlu repot-repot membuka mata untuk melakukan hal yang sudah menjadi kebiasaan, ataupun hal yang sangat bisa dikerjakan tanpa susah payah.

ORA IYA ORA EMBUH

Dalam ilmu sosial, manusia yang tidak peduli terhadap lingkungan dan juga tidak memiliki keterlibatan politik, disebut sebagai apatis. Dalam bahasa idiom Cirebonan, apatis bertransformasi menjadi: ora iya ora mbuh (tidak iya, tidak juga tidak). Misal: A bertanya pada B mengenai C. “B, si C itu gimana sih? Pemilu ini mau milih siapa?”, lalu B, karena ketidak mafhuman-nya, menjawab “C itu orangnya ora iya ora mbuh”.

Ketiga idom tadi hanyalah contoh, yang tentunya di luaran sana masih banyak idiom-idom khas Cirebon lain yang berserakan. Seperti semisal entut imbreng, cil-iwil-iwil, tek belek dan sebagainya, yang juga tak kalah menarik untuk diurai maknanya dengan lebih mendalam.

Jikalau seni dianggap sebagai ibu yang melahirkan bahasa, maka bahasa bisalah kita sebut dengan alter-ego (diri yang lain) daripada sastra. Izinkanlah saya menamai idiom yang melimpah ruah dari kebiasaan adat yang ringan dan jenaka, dalam konteks ini Cirebonan, dengan sebutan sastra Wong Dewek. (*)

Penulis: Bakhrul Amal (Dosen Ilmu Hukum Unusia Jakarta asal Cirebon)

Related posts