kuping kiri

Belajar Al Fateka: Spirit Mendoakan

Belajar Al Fateka: Spirit Mendoakan

Oleh: Kang Lukman (Ketua STID Al Biruni Cirebon)

BARU-BARU ini ada diskursus yang cukup hangat di dunia maya tentang diksi Al Fateka. Kata yang kemudian menjadi polemik itu muncul saat Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) dalam pidato pembukaan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional di Medan menyampaikan tentang bencana yang terjadi di negeri ini, lalu ia mengajak untuk turut mendoakan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah.

Diawali dengan redaksi penggalan kalimat ‘ala hadihinniyyat alfateka, dengan harapan para hadirin secara serentak mau membaca surah Al Fatihah, yang ditujukan untuk mendoakan para korban agar diberikan kesabaran dan ketabahan.

Yang menjadi ramai diperbincangkan adalah kata Al Fatihah yang bunyi pelafalannya yang keluar dari mulut Sang Presiden adalah Al Fateka. Inilah yang memicu perhatian publik dan viral di berbagai media sosial (medsos), mengingat yang mengucapkannya adalah seorang presiden. Kontan masyarakat dan para ahli dari berbagai bidang memberikan komentar.

Terlepas dari terminologi fasih tidak fasih, diksi Al Fateka itu muncul dalam kerangka spirit mendoakan para korban bencana. Doa adalah ikhtiar spiritual yang bisa memupuk keyakinan dan mensugesti apa yang menjadi harapan dan cita-cita. Berdoa itu mencerminkan kerendahan hati, karena kita hanyalah hamba yang butuh uluran anugerah dari Sang Maha Pemurah.

Berdoa itu media komunikasi antara manusia dengan Sang Pencipta, makanya berdoa dikategorikan sebagai amal ibadah. Oleh karena berdoa itu lahan amal, maka cara untuk menambahkannya bisa dengan turut mendoakan orang lain.

Ikhtiar saling mendoakan disamping bernilai ibadah, juga akan menambah energi perhatian dan kepedulian. Sebagai bentuk kepedulian kita terhadap para korban bencana, disamping membantu dari segi material, juga mendoakannya agar sabar dan tabah dalam menghadapi berbagai musibah ini. Dengan mendoakan, berarti kita telah memberikan dukungan moral agar para korban lebih cepat bangkit dan pulih.

Perhatian mendoakan ini akan lebih dahsyat andaikan tidak hanya dilakukan dalam konteks musibah saja, tapi diterapkan dalam aktivitas dan relasi kita sehari-hari. Keteladanan mendoakan ini juga dikenalkan dalam Al Qur’an, sebagaimana pernah dilakukan orang-orang pilihan.

NABI IBRAHIM

Nabi Ibrahim AS mendoakan agar negeri Mekkah dijadikan daerah yang aman dan penduduknya hidup berlimpah buah-buahan/sejahtera (lihat surat Al Baqarah ayat 126). Keteladan Nabi Ibrahim  ini layak menjadi inspirasi bagi kita dan para pemimpin di negeri tercinta Indonesia. Cita-cita Indonesia menjadi negara yang Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghofur, insya Allah bisa diwujudkan bilamana kita warga masyarakat dan para pemimpin bangsa ini mulai dari presiden, gubernur, bupati, camat hingga kepala desa turut bersama-sama mendoakan agar negara Indonesia, menjadi negeri yang aman dengan penduduk yang hidup rukun makmur.

Konteks lebih luas dari spirit ayat ini juga bisa diterapkan dalam posisi aktivitas kita. Jika kita seorang pemimpin perusahaan, maka sempatkanlah untuk mendoakan para karyawan agar keringatnya dinilai amal ibadah dan memperoleh derajat mulia. Jika kita berprofesi sebagai guru, maka doakanlah murid-murid kita agar memperoleh ilmu yang bermanfaat. Jika kita pedagang, maka doakanlah para konsumen kita agar memperoleh rezeki yang berkah.

NABI NUH

Nabi Nuh mendoakan agar diampuni dosa kedua orang tuanya dan siapa saja yang bertandang ke rumahnya dalam kondisi beriman, serta semua orang yang beriman (lihat Surat Nuh ayat 28).

NABI LUTH

Nabi Luth JUGA mendoakan keluarganya agar diselamatkan dari perbuatan keji kaumnya. Lihat Surat AsySyu’ara ayat 169.

Contoh-contoh ayat di atas adalah inspirasi supaya kita berdoa tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan juga mendoakan untuk orang lain.

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshowab

Related posts