Home Headline Deforestasi, Degradasi DAS, Lalu Banjir Besar

Deforestasi, Degradasi DAS, Lalu Banjir Besar

by Redaktur Cirebon Plus
0 comment

CIREBONPLUS – Cuaca ekstrim sering terjadi. Di banyak daerah. Imbasnya, hujan, angin, panas dan lainnya berdampak cukup serius. Apalagi, banyak infrastruktur tidak siap menghadapi efek berlebih akibat ekstrimnya cuaca.

Tak sedikit pula, banjir, besar atau kecil, diakibatkan buruknya kondisi sungai. Dari hulu hingga hilir banyak masalah. Sehingga tak aneh bila banyak daerah yang dilanda bencana banjir, baik luapan biasa maupun bandang.

Sebagai informasi untuk bahan evaluasi daerah-daerah yang mengalami banjir akibat dampak kondisi sungai, analisa Pakar Kebencanaan Universitas Gadja Mada (UGM), Prof Dr Suratman MSc berikut bisa menjadi perhatian.

Baca juga: Dangkal Sungainya atau Pejabatnya?

Menurut Prof Suratman, bencana banjir bandang yang melanda berbagai daerah, terutama terbaru di pulau-pulau kecil di Nusa Tenggara Timur seperti Lembata, Alor dan Flores Timur menandakan bahwa ketahanan bentang alam dan Daerah Aliran Sungai (DAS) di pulau kecil terdegradasi akibat deforestasi dan alih fungsi lahan. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah untuk memperhatikan pengelolaan kondisi dan daya dukung DAS terhadap program pembangunan sebaran pemukiman.

“Tipe DAS dengan pulau kecil itu harus khusus penanganannya. Terutama persebaran pola pemukiman. Jadi, memang Indonesia perlu mulai berpikir mengelola das-das di pulau kecil. Ini peringatan untuk bangsa kita. Banjir tidak hanya terjadi pada DAS besar tapi DAS kecil di pulau kecil apalagi terjadi anomali iklim seperti sekarang ini bisa mengerikan,” kata Suratman, Jumat (9/4).

Dalam analisis Suratman, banjir bandang yang terjadi di NTT memang disebabkan oleh jumlah curah hujan akibat anomali iklim dengan siklon tropis seroja. Namun, banjir bandang juga tergantung dari sisi ketahanan bentang alam, kondisi hutan dan lereng di sekitar aliran sungai. Apabila daya dukung semakin minim maka ketangguhan sungai dalam menahan jumlah curah hujan yang tinggi di hulu sungai akan menurun.

”Selain karena cuaca yang ekstrem, pulau-pulau kecil ini saya lihat jarak lintas sungai jaraknya pendek. Diperkirakan sekitar empat kilometer dari hulu hingga sampai ke laut, material vulkanik, dan datanya hutannya juga ada pengurangan,” paparnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, bencana banjir bandang umumnya kejadiannya sangat mendadak. Dengan lintas sungai yang pendek ini menurutnya waktu evakuasi saat terjadi sangat singkat sekali meski sudah ada peringatan dini. Apalagi kejadian berlangsung di malam hari.

Dikatakan, masyarakat perlu membaca akan tanda banjir bandang dengan melihat kondisi curah hujan selama tiga hari berturut-turut. “Bila tiga hari hujan berturut-turut maka bisa berisiko banjir sehingga harus waspada,” katanya.

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengantisipasi banjir bandang dan luapan air di sekitar sungai, ia mengusulkan perlu dilakukan edukasi melalui pembentukan Srikandi Sungai dan Sekolah Sungai.

Sebagai inisiator program Srikandi Sungai di Indonesia, Suratman menuturkan program ini difokuskan pada daerah yang memiliki DAS yang panjang dan di pulau-pulau besar. Adanya kejadian banjir di pulau-pulau kecil di wilayah NTT pihaknya akan menggandeng universitas lokal untuk bekerja sama.

“Lewat Srikandi Sungai dan Sekolah Sungai kita akan membentuk relawan rakyat untuk pencegahan bencana banjir melalui kegiatan edukasi dan penyadaran, aksi konservasi, kegiatan ekonomi kreatif di sekitar sungai,” paparnya.

Program pembentukan relawan Srikandi Sungai dan Sekolah Sungai ini menurut Suratman masih terbatas pada daerah-daerah tertentu di Indonesia. Ia mengharapkan dukungan dari pemerintah pusat dan daerah agar program pembentukan relawan sungai bisa tersebar di seluruh daerah. (UGM)

Related Articles