Home Headline Densus 99 Endus Pemulangan Eks ISIS, Minta Pemerintah Transparan

Densus 99 Endus Pemulangan Eks ISIS, Minta Pemerintah Transparan

by Redaktur Cirebon Plus
0 comment

Cirebonplus.com (C+) – Ratusan kombatan Islamic State Irak and Suriah (ISIS) di Timur Tengah menyampikan keinginannya untuk kembali ke Tanah Air. Meski mereka sempat membakar paspor Indonesia dan menganggap pemerintahan yang ada sebagai thogut, tetapi tak sedikit elemen bangsa ini yang setuju untuk memulangkan mereka.

Namun, Komandan Densus 99 Pengurus Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor HM Nuruzzaman MSi menyampaikan penolakannya terhadap keinginan para loyalis pemberontak ISIS.Menurutnya, pemerintah harus memahami bahwa semua orang terusik dengan wacana pemulangan mereka. Bahkan keresahan makin besar karena disinyalir sudah ada yang dipulangkan.

Menurutnya, transparansi pemerintah penting terhadap dugaan pemulangan dua gelombang WNI eks ISIS yang telah dilakukan. “Ini gak ada kabarnya kan atau gak ada yang tahu? Bagaimana kondisinya? Apa yang dilakukan pemerintah terhadap mereka?” ungkap pria yang konsen pada isu-isu radikalisme dan terorisme ini.

Pemerintah diharapkan tidak terkecoh dengan keberadaan anak-anak dan perempuan yang dijadikan alat masuk untuk mereka bisa pulang. Meskipun jumlah anak-anak dan perempuan lebih banyak di antara 600-an WNI eks ISIS, namun Indonesia juga punya pengalaman pelaku teror dari perempuan dan anak-anak.

“Ingat keluarga pelaku bom bunuh diri di Surabaya? Anak-anak dan perempuan juga pernah tinggal di Syiria, mungkin bergabung ISIS,” tandas pria asal Cirebon ini, Kamis (13/2).

Lebih lanjut Kang Zaman, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa WNI eks ISIS adalah bukti bahwa intoleransi dan radikalisme di Indonesia menjadi masalah serius. Namun wacana mengantisipasi dan melawan kelompok ini dari pemerintah tidak ada yang konkret, bahkan terkesan membiarkan atau lebih tepatnya hanya jadi konsumsi politik.

“Semua orang kembali terusik atas pemulangan eks WNI ISIS, bener kan? Kita lupa, terorisme tidak ujug-ujug jadi begitu saja. Tapi ada proses dan tahapan yang dilalui, harusnya kita fokus di ranah penyebab yakni ideologi dan/atau pemahaman yang intoleran,” sambungnya.

Kang Zaman menyampaikan, proses radikalisme menjadi teroris berawal dari intolernsi atau menganggap orang lain yang berbeda adalah salah. Mereka dianggap benar apabila sesuai dengan dirinya. Paham ini masuk NKRI sejak tyahun 80-an melalui paham Salafi Wahabi yang muda membid’ahkan dan memusyrikkan kepada yang berbeda.

“Paham atau ideologi Salafi Wahabi disebar ke seluruh dunia tidak hanya di Indonesia. Paham inilah yang menjadi bahan baku bagi munculnya kelompok radikal dan teroris. Paham skriptualistik dengan menggunakan argumentasi kembali ke Alquran dan Hadits,” lanjut kang Zaman.

Lebih jauh ia memaparkan, Salafi Wahabi terbagi menjadi tiga kelompok, pertama Salafi dakwah yang di mana pun mereka tinggal tidak akan melawan pemerintah, namun ajarannya jelas intoleran. Di Indonesia Salafi ini populer di kalangan para artis dan Islam kota dengan ciri berjenggot, celana cingkrang, dan jidat hitam.

Kedua, kata dia, Salafi Wahabi Sururi, di mana pada tahun 1979 terjadi penguasaan Masjidil Haram oleh Juhaiman Atuwaibi dengan cara kekerasan senjata. Mereka protes terhadap Kerajaan Saudi karena dianggap sudah keluar dari nilai-nilai akidah murni Salafi Wahabi.

“Tujuannya politiknya mendirikan negara Salafi Wahabi. Di Indonesia semacam itu ada,” tukasnya.

Yang ketiga, Salafi Wahabi jihad yang representasinya adalah Al Qaida, Jamaah Islamiyah di Indonesia, dan saat ini ISIS. Akidahnya jelas takfiri dan jihad qital kepada orang yang menolak dan berbeda dengan mereka.

“Atas dasar itu, seharusnya pemerintah tidak hanya fokus terhadap wacana pemulang eks ISIS, tapi juga mewaspadai dan menghambat perkembangan paham intoleran dan radikal di Indonesia. Kalau akarnya dibirkan, maka akan semakin banyak ISIS lahir dari bumi pertiwi,” pungkas Kang Zaman. (Ayub)

Foto: Net

Related Articles

Leave a Comment