kuping kiri

Gembyung Gunungjati, Media Budaya Penyebaran Agama Islam di Tatar Cirebon

Gembyung Gunungjati, Media Budaya Penyebaran Agama Islam di Tatar Cirebon

Cirebonplus.com (C+) – Gembyung, merupakan salah satu music khas asal Cirebon. Perannya juga cukup besar dalam perkembangan Islam di Kota Udang.

Ketua Gembyung Gunung Jati, H Hasan mengatakan, gembyung jaman dulu digunakan sebagai salahsatu alat penyebaran ajaran Islam. Hal tersebut dikarenakan syair-syair yang ada dalam gembyung lebih banyak berisi tentang ajakan ibadah dan masalah ketuhanan.
Hasan menjelaskan, ketika zaman Sunan Gunung Jati, music yang serupa juga sudah ada, yaitu terbang. Alat music terbang dibuat dari kulit dan kayu sebagai wadahnya. Sama dengan rebana, namun dalam ukuran yang besar. Suaranya juga lebih nyaring ketika dibunyikan dan membutuhkan tenaga yang cukup kuat untuk menabuhnya.
Dikatakan Hasan, perbedaan Terbang dan Gembyung terdapat pada syair yang dibacakannya. Jika Terbang, syair-syairnya masih diambil dari debaan dan barzanji dan tidak terdapat syair-syair berbahasa jawa. Sedangkan gembyung, memiliki syiar khusus berbahasa Jawa Cirebon, sehingga mudah untuk difahami oleh masyarakat.
Dalam satu group gembyung, terdapat 13 orang personil. Mereka memiliki peran yang berbeda-beda. Ada sejumlah nama alat music yang dimainkan dalam gembyung, seperti pengalin, kempeng, kemplang, kendang dan pengageng. Gembyung ini bisa dimainkan dengan berdiri maupun duduk.
Hasan juga menyampaikan, groupnya sudah sering diundang oleh Keraton untuk memainakn gembyung dalam acara-acara penyambutan tamu kehormatan. Jika di masyarakat umum, gembyung biasanya diundang untuk mengisi acara khitanan atau puputan.
Saat ini, Hasan menjadi penerus ketiga dari pencipta gembyung gunung jati. Ia merasa prihatin dengan kondisi saat ini, dimana para remaja sudah enggan dan tidak tertarik untuk melestarikan music gembyung. Ia juga berharap, adanya dorongan dari pemerintah untuk bisa bersama menjaga music gembyung agar tidak punah. (SWA)

Related posts