kuping kiri

Inovasi Terbaik Edisi 1: Kota Bandung Punya Minilab Food Security di Pasar-pasar, Ini Cara Kerjanya

Inovasi Terbaik Edisi 1: Kota Bandung Punya Minilab Food Security di Pasar-pasar, Ini Cara Kerjanya

ZAMAN terus berubah. Mulai dari perubahan sistem sentralisasi ke desentralisasi atau otonomi daerah. Dari agraris ke industrialisasi. Dari komputer-elektronik ke digitalisasi. Dan seterusnya.

Yang menarik dari perubahan ini adalah adanya kompetisi inovasi di tingkat daerah. Untuk tujuan yang sama, pelayanan terbaik bagi masyarakat, para kepala daerah seperti berlomba-lomba menciptakan kebijakan serta program yang kreatif dan baru. Daerah atau pemimpin yang minim bahkan nol inovasi dipastikan akan tertinggal.

Karena mahalnya harga sebuah inovasi, cirebonplus.com akan merangkum dan mem-publish ragam inovasi dari berbagai daerah di Indonesia. Bukan hanya untuk dibaca, tapi juga ditiru.

Untuk edisi pertama, cirebonplus.com akan membahas inovasi daerah dari Kota Bandung, Minilab Food Security di Pasar. Sebagai kota dengan tingkat konsumsi cukup tinggi, Bandung memerlukan pengawasan dan pemeriksaan pangan yang lebih intensif dan secara langsung sebagai upaya memberikan rasa aman masyarakat dalam memilih pangan yang akan dikonsumsi.

Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung membuat inovasi Minilab Food Security di pasar modern dan pasar tradisional untuk memfilter pangan yang akan dibeli konsumen sehingga terjaga kemurniannya. Melalui pemeriksaan Minilab Security, bahan pangan di 8 holding company pasar modern dan 36 pasar tradisional di Kota Bandung bisa dijamin keamanannya. Dengan menerapkan inovasi yang masuk Top 99 Iovasi Pelayanan Publik 2018 ini, dalam waktu yang singkat, konsumen bisa mengetahui kandungan yang ada di dalam bahan makanan.

“Kita cuma butuh waktu satu menit untuk mengetahui kandungan dari pangan tersebut,” ujar Walikota Bandung Ridwan Kamil saat presentasi dan wawancara tentang inovasinya itu sebagaimana dilansir portal Kemenpan RB.

Ridwan Kamil yang baru saja dilantik menjadi gubernur Jawa Barat ini mengatakan, Kota Bandung merupakan daerah pemasaran produk pangan segar terbesar di Jawa Barat. Sekitar 95-96 persen pangan segarnya didatangkan dari luar wilayah Kota Bandung, sehingga membutuhkan pengawasan dan pemeriksaan yang lebih intensif dalam hal keamanan pangannya untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat Kota Bandung.

Minilab merupakan tempat pemeriksaan percobaan dan pelatihan dengan mempergunakan peralatan dan bahan kimia untuk menguji keamanan pangan segar seperti daging, susu, telur, beras, ikan, sayuran dan buah-buahan dengan skala kecil dan pemeriksaan yang sederhana dan cepat.

Ridwan menjelaskan, pemeriksaan Minilab Security menggunakan 7 macam rapid test (tes cepat) yaitu uji klorin (pemutih) pada beras, residu pestisida pada sayuran dan buah, durante test (uji ayam bangkai) pada ayam, halal test (pork detection kit) pada daging sapi, perokside test pada kulit dan bagian lain dari sapi, borax test pada daging dan ikan, formaline test pada ikan dan buah.

Contohnya, halal test dalam 3 menit sudah dapat diketahui hasilnya. Apabila ditemukan hasil pemeriksaan yang positif pada Minilab Food Security, maka Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung wajib mengirimkan sampel bahan dimaksud kepada laboratorium terakreditasi.

“Hasil pemeriksaan dari laboratorium terakreditasi disampaikan oleh Dinas Pangan dan Pertanian kepada pasar modern dan pasar tradisional sebagai bahan pembinaan lanjutan,“ kata dia.

Ridwan berharap, inovasi ini dapat direplikasi pemerintah daerah lainnya, mengingat peralatan dan bahan kimia rapid test untuk Minilab Food Security tersedia dan mudah didapat. Selain itu, pemeriksaan mudah dipelajari.

“Pemeriksaan di Minilab Food Security cepat hasilnya. Penggunaan rapid test pada Minilab Food Security dapat dilihat di aplikasi e-wasmut http://dispangtan.bandung.go.id/e-wasmut/petunjuk-teknis-pengujian. (*)

Laporan: Redaksi C+

Foto: Internet

Related posts