Home Headline Jangan Bandingkan Kasus Covi-19 Indonesia dengan Negara Tetangga! Ini Alasannya

Jangan Bandingkan Kasus Covi-19 Indonesia dengan Negara Tetangga! Ini Alasannya

by Redaktur Cirebon Plus
0 comment

CirebonPlus (C+) – Grafik kasus Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) terus meninggi. Banyak pihak menyoroti tingginya kasus Corona di Indonesia. Mereka membandingkan kasus di dalam negeri dengan negara lain, terutama di kawasan ASEAN.

Namun, pandangan berbeda disampaikan Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Dr Deni Kurniadi Sunjaya dr DESS. Ia berpendapat, kasus Covid-19 di Indonesia jangan dibandingkan secara apple to apple dengan negara tetangga, seperti Thailand atau Vietnam.

“Kita banyak berasumsi, berspekulasi, tetapi jarang evidence based (berdasarkan bukti ilmiah),” ungkap Deni dalam diskusi Satu Jam Berbincang Ilmu: Outlook Kesehatan Indonesia 2021 yang digelar Dewan Profesor Unpad secara virtual, akhir pekan lalu.

Peneliti kebijakan kesehatan ini menuturkan, pandemi Covid-19 tidak hanya dilihat dari skala struktural saja. Secara teori, derajat kesehatan diukur berdasarkan faktor struktural, kohesi dan kapital sosial, perilaku masyarakat, hingga sistem kesehatan.

Dari banyak faktor itu, Deni menilai tidak adil bila asumsi terkait tingginya kasus kematian Covid-19 di Indonesia dibandingkan dengan Thailand hanya dilihat dari faktor struktural saja, salahsatunya dari kebijakan pemerintah. Faktor lain juga turut memengaruhi peningkatan kasus Covid-19.

Hal itu Deni temukan dari hasil penelitiannya bersama peneliti di Pusat Studi Ekonomi dan Pembangunan Unpad, saat awal pandemi Covid-19 melanda Indonesia.

 “Kita melihat sekitar 20-30% masyarakat kita masyarakat bedegong (angkuh). Mereka tidak mau pakai protokol kesehatan. Sekarang saja, ada 30 persenan yang tidak mau divaksin,” ungkao Deni dalam rilis yang dimuat di web resmi Unpad.

Jika dihitung dari jumlah penduduk Jawa Barat sebesar hampir 50 juta, ini berarti ada 10 juta penduduk yang tidak mau menerapkan protokol kesehatan.

“Artinya, kita menghadapi permasalahan yang tidak hanya berkaitan dengan kebijakan pemerintah atau pelayanan kesehatan,” pungkasnya. (C+/06)

Ilustrasi: suara.com

Related Articles