Home NgopiToday Kenapa Kang Tarmadi Tak Masuk Daftar?

Kenapa Kang Tarmadi Tak Masuk Daftar?

by Redaktur Cirebon Plus
0 comment

ADA pertanyaan dari teman. Merespons tulisan saya berjudul PKB (Seharusnya) Menang Pilkada. Katanya, kenapa H Tarmadi tidak masuk dalam daftar nama tokoh yang layak diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) versi saya? Seharusnya, Kang Tarmadi bisa dimasukkan dari jalur struktural atau kultural NU. Apalagi, saat ini tokoh asal Gebang itu sudah tidak masuk kepengurusan PDIP. Kata temanku itu.

Saya tidak langsung menjawabnya. Jawabannya akan saya jabarkan lewat tulisan ini. Karena jawaban dari pertanyaan ini, juga bisa menjawab sengkarut yang pernah terjadi beberapa tahun lalu. Antara internal PKB, NU, dan H Tarmadi soal dinamika politik menjelang Pemilihan Bupati (Pilbup) 2019 lalu. Dinamika yang sempat  membuat banyak pihak salah paham.

Cerita berawal dari kegelisahan para kiai terhadap masa depan Kabupaten Cirebon. Kepemimpinan Sunjaya Purwadisastra di periode pertama dianggap mengecewakan. Saya tidak perlu menjelaskan detil bagaimana kekecewaan para kiai. Karena banyak orang juga merasakan hal yang sama, dan tahu soal itu.

Saat itu, para kiai sepakat untuk mencari sosok yang dianggap mampu mengalahkan Sunjaya di Pilkada 2018. Sunjaya, dengan kekuatan finansial dan menguasai birokrasi, dianggap butuh lawan sepadan dan berpotensi menumbangkannya. Para kiai punya pandangan dan pilihan yang sama. Sosok itu adalah Kang Tarmadi.

Untuk mengalahkan Sunjaya, dibutuhkan sosok yang punya “pengaruh” di internal dan eksternal NU, punya irisan dengan basis dukungan Sunjaya dari simpatisan PDIP, serta potensial didukung elemen lain. Dan yang terpenting, untuk mengalahkan Sunjaya dibutuhkan dana “tak terbatas” sebagai cost politik Pilkada. Itulah argumentasi kenapa Kang Tarmadi dianggap pilihan tepat dan realistis.

Baca juga: PKB (Harusnya) Menang Pilkada

Sejumlah langkah dilakukan untuk menyokong Kang Tarmadi agar bisa direkomendasikan DPP PKB. Tak tanggung-tanggung, untuk mendekati sekaligus mendapatkan tanda tangan (rekomendasi) HA Muhaimin Iskandar (Gus Ami), para kiai minta bantuan Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj.

Tak banyak pertimbangan, karena juga sudah sangat mengenal sosok Kang Tarmadi, Kiai Said tandang dewek. Bersama para kiai dari Cirebon menghadap langsung Gus Ami. Padahal, biasanya Gus Ami sendiri yang sowan ke kantor PBNU.

Dari sinilah “kisruh” dimulai. Hanya beberapa saat setelah pertemuan, foto kiai-kiai NU Cirebon bersama Kiai Said dan Kang Tarmadi menghadap Gus Ami, tersebar dengan cepat ke media sosial. Di sinilah kesalahpahaman muncul. Ia dianggap ingin “mencuri” rekomendasi.

Saya tidak akan panjang lebar soal itu. Selain bisa meciptakan kondisi ketidaknyamanan satu sama lain dan dianggap persoalan itu sudah berlalu, juga karena pembahasan kali ini saya spesifikkan pada Kang Tarmadi. Lebih tepatnya, merasionalisasikan alasan kenapa juragan empang itu tidak masuk daftar nama yang saya sebutkan dalam tulisan kemarin.

Insya Allah saya mengikuti betul prosesnya saat itu. Dalam beberapa pembahasan bersama para kiai, saya ikut. Bahkan beberapa kali terlibat diskusi personal dengan Kang Tarmadi. Sangat personal. Hingga larut malam. Bahkan kadang sampai terbit matahari.

Yang saya tahu, Kang Tarmadi tidak menghadiri dua kali panggilan DPP PKB. Ia memilih melakukan itu, atas pertimbangan yang matang.

Setiap malam, ia gelisah. Sangat gelisah. Di satu sisi, ia mendapatkan “perintah” para kiai untuk maju lewat PKB. Ia berusaha takdzim. Tapi di sisi lain, ia tidak bisa mengingkari perasaan tidak enak. Tidak hanya terhadap orang-orang PKB, utamanya pendukung bakal calon lain yang lebih berhasrat, tapi juga kepada orang-orang PDIP. Bagaimanapun ia sudah sangat dekat dengan orang Banteng, dari atas hingga bawah. Ia tidak ingin hubungan dengan kedua pihak menjadi buruk.

Kebingungan itu berlangsung berhari-hari. Beruntung, hampir setiap malam ada salahsatu kiai yang ikut membantu Kang Tarmadi keluar dari kebingungannya. Menyampaikan pandangan-pandangan. Akhirnya, ia pun bulat untuk tidak maju. Ia merasa harus menjaga perasaan banyak pihak. Apalagi, sedari awal, sejak gagal maju Pilkada lewat PDIP, dia mengaku sama sekali tidak minat mencalonkan diri. Ia sudah benar-benar menjauhi area politik praktis.

Meski sudah memutuskan tak maju, namun dinamika tidak berhenti di situ. Saya ingat betul, malam injury time, hari terakhir pendaftaran, sekitar pukul 02.00 lebih, kiai yang (sangat) dekat dengan Kang Tarmadi mengabarkan bahwa bakal calon bupati yang sudah dapat rekomendasi PKB mengibarkan bendera putih. Menyerah. Sebab, hingga H-1 PKB tidak dapat mitra koalisi. Sehingga ditawarkan kepada Kang Tarmadi agar mau menggantikannya sebagai calon bupati. Karena memang, sedari awal ada dua partai yang siap pindah dukungan bila PKB mengusung H Tarmadi.

Kita berbagi tugas. Sang kiai “membujuk” Kang Tarmadi dan berkomunikasi dengan tokoh yang akan menjadi calon wakil bupati. Saya dan salahsatu orang dapat tugas berkomunikasi dengan kedua partai. Namun sayang, sejak dini hari hingga menjelang siang, kiai tidak berhasil membujuknya. Kang Tarmadi keukeuh tak mau maju sebagai calon bupati.

Dari real history ini, ada tiga poin yang bisa disampaikan. Pertama, para kiai rela turun gelanggang untuk kemaslahatan Kabupaten Cirebon. Kedua, loyalitas yang besar dari para kiai terhadap PKB.

Ketiga, Kang Tarmadi tidak punya hasrat apalagi syahwat politik seperti dugaan sejumlah pihak. Tak punya ambisi. Ia lebih mendahulukan hubungan baik dengan semua pihak, ketimbang kepentingan politiknya.

Dari sini, saya dapat menyimpulkan bahwa Kang Tarmadi tidak akan mau maju lewat PKB. Karena itulah, saya tidak memasukkan Namanya dalam daftar tokoh yang layak diusung PKB dalam Pilkada 2024.

Selain menjawab pertanyaan teman saya di atas, cerita ini penting untuk disampaikan. Untuk meluruskan banyak dugaan yang bengkok. Saya yakin tidak banyak yang tahu hal sesungguhnya. Ketidaktahuan tersebut bisa “memformalin” kesalahpahaman. Sebab, ia tidak layak untuk disalahpahami. Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran. (*)

Related Articles