kuping kiri

Keraton Kanoman Berbagi Sedekah Tawurji dan Ngapem di Rebu Wekasan Sebelum Muludan

Keraton Kanoman Berbagi Sedekah Tawurji dan Ngapem di Rebu Wekasan Sebelum Muludan

Cirebonplus.com (C+) – Ribuan warga datang ke Keraton Kanoman, kemarin (7/11). Mereka mengikuti prosesi tradisi Tawurji dan Ngapem yang bertepatan dengan Rabu akhir bulan atau Rebu Wekasan.

Tawurji dan ngapem adalah tradisi yang tidak dapat dipisahkan dengan acara ritual Muludan di Keraton Kanoman Cirebon. Kedua tradisi ini sudah ada sejak zaman Wali Songo dan keberlangsungan kedua tradisi itu tidak lepas dari pengaruh ajaran Islam dan misi Islamisasi pada saat itu.

“Tradisi Tawurji dan ngapem sendiri diperingati setiap hari Rebo Wekasan yang artinya hari Rabu pamungkas (terahir hari Rabu dan spesial) di bulan Safar. Karena mempunyai nilai kekeramatan dan dipercayai merupajan hari turunnya banyak musibah,” papar Ratu Arimbi Nurtinah, juru bicara Kesultanan Kanoman.

Maka, lanjut dia, Keraton Kanoman pada setiap Rebo Wekasan selalu mengadakan tradisi Tawurji dan Ngapem. Kehadiran ribuan warga dari wilayah III Cirebon itu berharap mendapatkan barokah dari tradisi warisan leluhur itu.

Tawurji, katanya, dapat dimaknai sodakoh uang koin yang dibagikan secara masal kepada Magersari, (warga) dan biasanya diikuti oleh abdi dalem, juga masyarakat lainnya.

Tawurji berasal dari suku kata tawur (melempar uang koin/sejenisnya) dan aji (tuan haji/orang yang mampu),” ungkapnya.

Menyinggung soal apem atau cimplo, Ratu Arimbi menyampaikan, makanan itu merupakan salahsatu bentuk sodakoh dalam bentuk yang lain, yaitu makanan yang terbuat dari bahan beras yang sudah dihaluskan dan disandingkan dengan gula merah.

“Tradisi Tawurji dan Ngapem ini pada intinya merupakan bentuk sodakoh keluarga keraton di hari Rabu terahir bulan Safar sebagai upaya untuk menolak segala jenis mara bahaya atau musibah,” lanjut dia.

Informasi yang dihimpun Suara Cirebon, hingga saat ini, di lingkungan Keraton Kanoman, tradisi Tawurji bermula dari upaya perlindungan murid-murid Syekh Lemahabang yang dianggap sesat disertai nasib mereka yang terlunta-lunta.

Sehingga, oleh Sunan Gunung Jati mereka dilindungi dengan memberikan uang koin sebagai bekal untuk bertahan hidup. Peristiwa itu tepat pada hari Rabu terakhir bulan Safar.

Pada hari itu juga, berbarengan dengan tradisi ritual di Bangsal Paseban Keraton Kanoman dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT dan tawasul kepada para wali dan leluhur raja-raja Keraton Kanoman.

“Jadi kedua tradisi ini diawali dengan berkumpulnya para pinengeran dan abdi dalem di Pendopo Djinem sebari menunggu Sultan Raja Muhammad Emirudin (Sultan Kanoman XII) keluar dari kediamanya di Kaputren dengan membawa satu kotak uang koin yang sudah didoakan,” sebutnya.

Seluruh uang koin itu dibagikan kepada masyarakat dan abdi dalem yang bertempat di Pendopo Djinem, lalu dilanjutkan dengan memanjatkan doa di Bangsal Paseban untuk meminta pertolongan dan keselamatan dengan cara membagi-bagikan apem secara sukarela. (Ril/C+2)

Related posts