Home NgopiToday Kiat Berpuasa di Tengah Wabah

Kiat Berpuasa di Tengah Wabah

by Redaktur Cirebon Plus
0 comment

Oleh: Syekh Muh Alcaff

SEPERTI dilaporkan laman Worldometers, real time pukul 22, 2020, 01:12 GMT pada Rabo (22/4/2020) menunjukkan angka kasus di seluruh dunia sebanyak 2,556,515. Dari angka tersebut, sejumlah 690,265  adalah pasien yang telah mengalami kesembuhan, dan pasien meninggal dunia berjumlah  177,608 jiwa.

Pandemi corona menempatkan umat beragama di dunia dalam situasi bingung dan linglung. Ibadah Ramadan tahun ini diyakini akan berlangsung  lengang, tanpa interaksi sosial. Umat Islam menantikan datangnya bulan Ramadan dengan sikap waswas dan khawatir. Pasalnya wabah COVID-19 bisa berarti tertundanya ibadah puasa. Haiah Kibar al-Ulama (Dewan Ulama Tertinggi) Saudi menyerukan supaya umat Islam melaksanakan shalat tarawih di rumah masing-masing dan menghindari kerumunan massa.

Dar al-Ifta  Al-Azhar Mesir  sudah menyiapkan ragam fatwa untuk menyesuaikan praktik ibadah di bulan Ramadan dengan arahan badan kesehatan dunia tersebut. Jika WHO menganjurkan orang tidak berpuasa lantaran bisa memperlemah sistem kekebalan tubuh, “maka umat harus membayar puasa yang tertinggal setelah krisis berlalu,” tegas Syeikh Khaled Omran, Sekretaris Jendral Majelis Fatwa al-Azhar Dar- al-Ifta.

“Kami menunggu apa yang diputuskan Kementerian Kesehatan dan para dokter. Artinya kami juga menunggu keputusan WHO,“ kata Syeikh Omran dalam sebuah laporan eksklusif stasiun berita Jerman, ARD.

Meski berdampak baik untuk daya tahan tubuh dalam jangka panjang, puasa dikhawatirkan akan memperbesar peluang penularan dalam situasi wabah.

Di Indonesia, Abdul Moqsith Ghazali, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, menilai puasa tetap wajib, kecuali uzur. Pengecualian diberikan bagi pasien COVID-19, di luar pengecualian berpuasa pada umumnya.

Selanjutnya, bagaimana kiat berpuasa di tengah wabah? Ada dua kiat yang bisa kita terapkan saat berpuasa di tengah himpitan dan penyebaran wabah.

1. Bersikap rasional dengan bertanya dan mengikuti petunjuk ahli kesehatan.

Alquran memerintahkan: Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS. An Nahl: 43) Jadi, bertanya dan mengikuti petunjuk dokter serta memperhatikan protokoler ksehatan dalam kondisi wabah adalah misdhaq (bukti konkrit) pengamalan ayat tersebut.

Sayangnya, ada sikap irasional dalam menyikapi wabah ini dan terkadang menggunakan teks-teks agama dan pemahaman religi untuk membenarkannya. Misalnya, salah kaprah dalam memahami takdir. Kaum konservatif (bersikap mempertahankan keadaan, kebiasaan, dan tradisi yang berlaku) beralasan bahwa terkena dan tertular wabah itu merupakan takdir yang mesti diterima, baik seseorang memperhatikan anjuran dokter maupun tidak; baik sedang berada di masjid maupun di rumah.

Gerakan ifrath (ekstrem dan ngawur) dalam menghadapi korona tampak pada sikap tahajjur (kolot) melalui perobekan resep dokter dan menolak sosial distancing seperti yang dilakukan oleh Abbas Tabriziyan yang mengusung aliran Thibb Islami (kedokteran Islami). Tabriziyan mengajak masyarakat saling berkunjung dan menghadiri perkumpulan publik dan mengklaim bahwa wabah ini bisa diobati dengan madu dan kayu manis. Menurutnya, wabah ini sengaja dibesar-besarkan dan dijadkan dalih untuk menjauhkan sesama kita dan “merampok” agama dari kita.

Wabah penyakit juga pernah terjadi di masa Umar bin Khattab. Umar sempat berdebat dengan Abu Ubaidah, Gubernur Syam soal wabah penyakit dan takdir. Bahkan perdebatan begitu panjang hinga melibatkan tokoh-tokoh senior Muhajirin dan Anshar. Ada yang menyarankan agar Umar tetap melanjutkan perjalanan ke Syam, tak sedikit yang meminta supaya Umar kembali ke Madinah. Hingga akhirnya Umar menuruti pendapat sesepuh Quraisy yang menyarankan agar mengurungkan niat untuk mendatangi Syam mendatangi daerah yang terkena wabah penyakit. Umar sepakat dan kembali ke Madinah. Abu Ubaidah bin Al-Jarrah yang bersikap konservatif tak sepakat dengan keputusan Umar tersebut dan mengatakan. “Apakah Engkau ingin lari dari takdir?” “Ya, kita akan lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lainnya,” Jawab Umar bin Khattab.

2. Urgensi doa, tawasul dan tawakal saat wabah

Saat menjelaskan urgensi doa, Allah berfirman: Katakanlah “Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu, kalau tidak karena ibadahmu (doamu).” (QS. Al-Furqan: 77). Nabi saw bersabda: Doa adalah saripati ibadah. Doa adalah kesadaran tentang kedudukan manusia sebagai hamba dan merasakan kefakiran abadi. Sedangkan tawasul adalah ikatan spiritual dengan aulia guna mendapatkan percepatan dalam turunnya rahmat dan inayah Ilahiah. Adapun tawakal adalah keyakinan sepenuhnya terhadap kekuasaan dan keagungan Allah dan bahwa sebab-sebab lahiriah dan material tumpul dan tidak efektif di hadapan Mahasebab, Musabbibul Asbab, Gusti Allah. Hakikat Yang Menyembuhkan dan Memberi Rezeki adalah Allah dan kita tidak memuja dan mengkultuskan sebab-sebab medis dan lahiriah dalam kesembuhan dan perolehan rezeki kita.

Penulis Adalah Founder Chanel Manazila TV di YouTube & Pengasuh Kajian Makrifat di MT Baitul Ma’rif Perbutulan Cirebon

Referensi:

https://www.worldometers.info

https://rumahkitab.com/tag/ramadan

https://quran.kemenag.go.id

Related Articles