Home NgopiToday Luthfi Lagi

Luthfi Lagi

by Redaktur Cirebon Plus
0 comment

Oleh: Kalil Sadewo

HARI ini Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Cirebon mengadakan Musyawarah Cabang (Muscab). Salahsatu agendanya mengukuhkan ketua dan jajarannya. Struktur baru PKB.

Kalau dilihat agenda acaranya, tidak ada tahapan pemilihan ketua Dewan Tanfidz DPC PKB. Dalam edaran, pada Pleno VI tertulis penetapan pengurus, sekaligus pengukuhan. Muscab hanya diberikan kewenangan untuk melengkapi struktur.

Memang, sesuai dengan hasil Muktamar PKB di Bali, ada revisi aturan mendasar dalam hal pemilihan ketua DPC. Tidak ada pemilihan seperti dulu-dulu. Di mana, suara DPAC PKB sangat menentukan. Kali ini PKB menentukan ketua lewat “penunjukan langsung” atau juksung oleh DPP. Dibantu oleh DPW, terutama untuk menilai kualitas nama-nama yang muncul. Saya kasih tanda petik, karena tidak 100 persen juksung. Masih ada peran DPAC dalam menentukan namanya. Utamanya dalam menentukan 10 besar hingga 5 besar dari nama-nama yang diajukan ke DPW dan DPP PKB.

Pemilihan sistem juksung lebih terarah, ketimbang oleh DPC. Asalkan penunjukan dilakukan dengan mempertimbangkan banyak hal. Lebih komprehensif. Menurut saya, beberapa poin yang bisa menjadi variabel DPP dalam menentukan struktur baru, terutama ketuanya, di antaranya pertimbangan kebutuhan sesuai petapolitik Kabupaten Cirebon saat ini dan relasi produktif dengan Nahdlatul Ulama (NU), baik struktural maupunkultural.

Kita melompat saja dulu ke poin yang kedua. Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, dari 10 nama dan disaring menjadi 5, hemat saya hanya dua nama saja “bertarung” sungguhan. Yakni Mohammad Luthfi (ketua DPC PKB saat ini) dan Wakil Ketua I Waswin Janata. Karena manuvernya kebaca, saya meyakini nama lain yang beredar target utamanya bukan ketua, tapi posisi sekretaris. Jabatan yang dianggap memiliki “seperempat” power. Katanya, setengahnya milik ketua. Seperempatnya milik ketua Dewan Syuro, Wakil Ketua I dan lainnya.

Katakanlah prediksi (bacaan) saya melenceng. Kita tambahkan saja menjadi lima nama yakni Luthfi, Waswin, A Mohammad Rifki, M Affan Hidayat, dan MF Fahrurrozi. Dua nama terakhir manuvernya tidak santer. Affan misalnya, berpeluang besar masuk 10 hingga 5 besar, bila dilihat dari komposisi ketua DPAC PKB hasil musyawarah anak cabang (muscancab) yang sebagian di antaranya adalah aktivis Pendamping Desa. Untuk nama yang terakhir, MF Fahrurrozi, ngacak saja. Peluang didapat karena ia memiliki koneksi ke atas dan beberapa kali optimis masuk bursa.

Dari kelima nama itu, hanya MF Fahrurrozi yang punya hubungan lebih baik dengan NU. Meski saya memprediksi peluangnya sangat tipis untuk masuk bursa dua pilihan utama. Saya menduga, dua pilihan utama DPP adalah Luthfi dan Waswin. Jika benar, maka keduanya tidak ada yang memiliki hubungan lebih baik dengan NU, terutama struktural  dan tokoh-tokoh berpengaruh. Artinya, sama-sama minus. Kedekatan mereka hanya dengan tokoh tertentu, dan kelompok kultural tertentu. Dengan kata lain, untuk poin kedua, posisinya imbang.

Solusi yang bisa diambil dalam menjaga hubungan dengan NU, jika satu dari dua nama itu terpilih, maka posisi ketua Dewan Syuro atau sekretarisnya haruslah representasi NU. Syukur-syukur nama hasil rekomendasi NU struktural dan kultural.

Kembali pada poin pertama, pertimbangan kebutuan sesuai dengan peta politik hari ini. Sebelum menentukan nama, paling tidak ada lima hal yang harus dimiliki seorang ketua partai yakni (aura) leadership, skill komunikasi, kemampuan finansial, keterampilan bermanuver, dan jago memengaruhi (menguasai) orang lain. Katakanlah syarat tersebut dianggap normatif dan semua merasa dapat memenuhinya, maka masuk pada fase berikutnya menentukan nama yang sesuai untuk menghadapi realitas (fakta) politik hari ini, internal dan eksternal.

Realitas internal, PKB Kabupaten Cirebon adalah partai pemenang dan berhak atas kursi DPRD yang dijabat Luthfi saat ini. Sebagai partai pemenang, PKB harus memperkuat internal. Jika mau kuat, maka seorang ketua DPRD harus bisa “menguasai” partai. Tidak bisa dibayangkan bila ketua DPC PKB diisi orang lain atau kader lain yang tidak sejalan. Partai ini akan rapuh, mudah berkonflik, berpotensi saling goyang (menjatuhkan), berpeluang masuknya banyak kepentingan politik untuk mengacak-acak internal, fraksi dan ketua  tidak akan solid, dan kelemahan-kelemahan lainnya yang dapat memperburuk kondisi. Dalam posisi ini, ada dua pilihan. Luthfi kembali memimpin DPC PKB atau nama lain yang punya komitmen untuk menjaga kondisi internal agar tetap stabil, sharing peran (power), tidak saling menjatuhkan, dan tidak terjerembab dalam konflik perebutan jabatan. Untuk pilihan kedua, menurut saya sulit diwujudkan, selain melihat persaingan personal hari ini, juga karena ini adalah area politik yang memiliki resistensi tinggi.

Realitas eksternal, pesaing PKB yang menjadi ancaman dalam rivalitas elektoral di Kabupaten Cirebon adalah PDI Perjuangan. Meski bukan partai pemenang, tapi Banteng menguasai eksekutif, karena posisi bupati dan wakil bupatinya adalah struktural PDI Perjuangan. Bupatinya ketua partai, wakilnya wakil ketua partai. Secara kepemimpinan sebagai eksekutif tidak (belum) ada yang menonjol. Tetapi kelebihan politik yang bisa mengganggu potensi elektoral PKB adalah keintiman bupatidaan wakil bupati dengan Nahdlatul Ulama (NU), baik struktural maupun kultural. Untuk mengatasi kondisi ini, semua nama kandidat ketua PKB yang muncul relatif minus.

So, prediksi saya peluang untuk mendapatkan rekomendasi dari DPP adalah Luthfi. Ini pilihan realistis dibanding nama-nama yang beredar, meski banyak kekurangannya. Tinggal DPP mencarikan sejumlah nama representasi NU struktural dan kultural untuk masuk “kabinet” inti dan punya tugas untuk menghindari dampak buruk akibat kemesraan bupati (PDI Perjuangan) dengan “NU”. Kecuali, DPP PKB sudah mengantongi nama kandidat di luar lima tadi, yang punya banyak kelebihan dan memiliki kemampuan untuk memperkuat PKB dari segala lini. (*)

Penulis Adalah Kader Biasa PKB

Related Articles