Home NgopiToday Menjaga Keseimbangan Lingkungan Melalui Sadar Bahaya Sampah

Menjaga Keseimbangan Lingkungan Melalui Sadar Bahaya Sampah

by Redaktur Cirebon Plus
0 comment

Oleh: Dr Siti Fatimah MHum

SAMPAH merupakan dilema besar dan persoalan bersama yang sering luput dari perhatian kita. Sampah berupa material yang biasanya masyarakat merasa sudah tidak membutukannya lagi, berasal dari produk-produk yang dihasilkan baik dari proses alam, dalam kehidupan sering disebut lingkungan, maupun  hasil kegiatan manusia. Jenis-jenis sampah bisa diidentifikasi dari mana sumbernya, seperti apa sifatnya, padat atau cair, sampah alam atau dari manusia, sampah dari konsumsi atau limbah radioaktif.

Sampah sering dianggap menjadi sumber masalah, karena dampak keberadaannya. Misalnya, dampak terhadap kesehatan, terhadap lingkungan, maupun terhadap sosial dan ekonomi. Tulisan ini akan fokus pada tercemarnya sungai-sungai di Cirebon dan sekitarnya, akibat dari berbagai sumber yang menyebabkannya. Sumber tersebut misalnya sampah alam, sampah manusia, sampah konsumsi, sampah industri, maupun sampah pertambangan.

Di Cirebon, penulis belum menemukan sampah yang berasal dari sumber industri nuklir. Dilihat dari sifatnya, sampah terdiri dari sampah organik yang mudah terurai, sampah an-organik yang sulit untuk terurai, dan sampah beracun. Sampah organik jika diolah dapat menjadi pupuk kompos, semisal sampah daun, kulit telur, kardus, dsb. Sampah an-organik, misalnya plastik, botol, kaleng, kaca dan sebagainya. Sampah beracun berasal dari limbah bahan berbahaya, misal dari rumah sakit, pabrik, dan lain-lain. Sampah nuklir berupa hasil fusi dan fisi nuklir, yang dapat menghasilkan uranium dan thorium. Zat ini sangat berbahaya karena merusak lingkungan hidup dan manusia.

Kondisi Sungai di Cirebon

Di Jawa Barat, khususnya wilayah III Cirebon atau Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning), hampir seluruh sungainya sudah tercemari oleh sampah. Hal ini sangat memprihatinkan karena akan berdampak buruk pada lingkungan dan masyarakat pengguna sungai. Seharusnya sungai menjadi sumber primer bagi kebutuhan dan keberlangsungan kehidupan, baik bagi manusia maupun lingkungannya. Namun sangat disayangkan, hampir semua sungai airnya keruh, penuh sampah, limbah, bahkan beracun.

Masyarakat akan terkurangi beban hidupnya seandainya air sungai jernih, tanpa sampah, tanpa limbah, karena bisa dipergunakan untuk keperluan sehari-hari. Sebagaimana disampaikan seorang filosof Yunani abad 6 SM, Thales bahwa air adalah hakikat kehidupan. Tanpa air, maka kehidupan mahkluk akan menghadapi kematian. Seluruh masyarakat harus memiliki rasa tanggung jawab atas sudah rusaknya lingkungan, khususnya tercemarnya sungai-sungai yang ada di Jawa Barat ini.

Dampak Terhadap Kesehatan

Pencemaran limbah, apalagi limbah beracun di sungai, tentu menciptakan masalah bagi kesehatan masyarakat. Misalnya bisa menimbulkan berbagai penyakit bila airnya digunakan untuk keperluan rumah tangga, mengairi sawah, dan mencuci berbagai peralatan rumah tangga. Limbah air juga menimbulkan bau yang mengganggu kenyamanan masyarakat, serta sangat mungkin mengandung racun dan berbagai bakteri yang membahayakan kesehatan masyarakat.

Membuang sampah yang kurang tepat akan memberi tempat bagi organisme dan berbagai binatang seperti lalat, kecoa, dan tikus yang dapat menimbulkan penyakit. Potensi bahayanya bagi kesehatan misalnya menyebabkan penyakit diare, kolera, tifus dan akan dapat menyebar cepat bila bercampur air untuk keperluan rumah tangga. Dampak lainnya, munculnya penyakit demam berdarah dan menyebarnya jamur yang dapat menyerang kulit. Sampah juga bisa menjadi media cacing pita yang dimakan ayam lalu ke manusia, menyebar melalui rantai makanan.

Bahayanya sampah, terutama yang beracun, pernah terjadi di Jepang yang menyebabkan kurang lebih 40 ribu orang meninggal akibat mengonsumsi ikan yang telah terkontaminasi raksa (Hg). Pabrik baterai dan akumulator membuang sampahnya ke laut yang membuat ikan terkontaminasi.

Dampak Terhadap Ekosistem

Sampah yang dibuang secara sembarangan, baik di jalan, kebun, dan tempat lainnya ketika hujan akan terbawa aliran air dan memadati sungai. Berbagai dampaknya antara lain, sampah organik dapat mengurangi kadar oksigen di dalam lingkungan perairan. Tentu hal ini bisa mengurangi kualitas air. Sementara sampah anorganik bisa menghalaangi sinar matahari yang masuk ke dalam lingkungan perairan. Hal ini menyebabkan terhambatnya proses esensial dalam ekosistem di sungai, misalnya fotosintesis menjadi terganggu.

Mengutip Wikipedia, baik sampah organik maupun anorganik akan mengganggu organisma yang hidup di sungai, sehingga populasi hewan kecil-kecil akan terganggu. Pencemaran sungai lainnya disebabkan oleh rembesan cairan yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan tercemari. Berbagai limbah, baik rumah tangga maupun industri, yang merembes ke sungai juga akan mengganggu seluruh kehidupan di air, seperti ikan akan terkontaminasi dan mati, bahkan beberapa spesies ikan bisa musnah. Hal ini akan mengubah kondisi ekosistem perairan secara biologis.

Penguraian Sampah yang dibuang secara langsung ke sungai akan terurai, dan menciptakan asam organik juga gas cair organik, misalnya metana. Selain itu juga menimbulkan gas yang menimbulkan bau, dan jika gas ini dengan konsentrasi yang tinggi bisa menimbulkan peledakan.

Dampak Terhadap Persawahan

Sampah plastik yang mengapung di sungai-sungai, baik sungai kecil maupun besar, pada gilirannya banyak yang terbuang ke persawahan. Hal ini jelas sangat mengganggu aktivitas pertanian yang di;akukan oleh para petani. Sebagaimana hasil pengamatan penulis di sejumlah tempat yang ada di Cirebon, biasanya, oleh para petani sampah dipinggirkan, ditumpuk di pinggir-pinggir sawah, banyak terlihat pemandangan seperti ini. Bagaimana cara mengatasi masalah sampah dipersawahan ini, sepertinya belum dilakukan oleh semua pihak. Dan hal ini akan menimbulkan bahaya besar jika tidak diatasi.

Mengatasi dan Mengelola Sampah Sungai

Butuh pemikiran mendasar, bagaimana cara mengatasi sampah di sungai. Berbicara mengatasi sampah, maka di benak kita akan selalu ingat tentang beberapa hal ini antara lain bak sampah, tempat penampungan sampah, serta pengolahan dan pengelolaan sampah

Ketiga hal di atas akan tidak ada gunanya bila bak sampah kosong, tempat penampungan sampah kosong, apalagi tempat pengelolaan sampah. Hal yang paling substansial adalah, etiket baik masyarakat, kebiasaan baik masyarakat, kesadaran positif masyarakat untuk sadar sampah, sadar bahaya sampah jika tidak dikelola dengan baik. Jika seluruh individu dan masyarakat memiliki kesadaran untuk tidak sembarangan membuang sampah, sehingga sampah tidak ada dipinggir sawah, sungai, pingir-pinggir jalan, kebun, dan lain sebagainya, maka akan mengurangi potensi banjir dan berbagai penyakit bahaya lainnya.

Lalu bagaimana agar setiap individu dan masyarakat memiliki kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan, menurut penulis, pemerintah harus turun tangan, membuat kebijakan yang menegaskan bahwa individu dan masyarakat tidak boleh membuang sampah selain di tempat sampah. Pemerintah juga harus mengontrol penerapan kebijakan ini secara serius, dan memberi sanksi edukatif pada masyarakat yang melanggar. Di samping itu, pemerintah juga melakukan edukasi pada masyarakat tentang bahaya sampah, baik secara regional, nasional, maupun internasional, karena membuat kerusakan lingkungan. (*)

Penulis Adalah Dosen Tetap Jurusan Akidah Filsafat Islam (AFI) dan Pengelola Prodi Doktor PAI Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Ilustrasi Foto: Radarcirebon.com

Related Articles