Home Headline Terpilih, Ini Harapan Ulama Muda Buntet Ikut Pelatihan Dakwah di Mesir

Terpilih, Ini Harapan Ulama Muda Buntet Ikut Pelatihan Dakwah di Mesir

by Redaktur Cirebon Plus
0 comment

Cirebonplus.com (C+) – Sebanyak 12 ulama muda asal Cirebon mendapatkan kesempatan berharga untuk menimba ilmu tentang dakwah masa kini di Universitas Al Azhar Kairo Mesir. Bersama seratusan dai muda se-Indonesia, mereka akan menggali ilmu tentang strategi dan konten dakwah dari para ulama terkemuka di negara Egypt selama dua bulan lebih.

Salahsatu ulama muda yang dapat kesempatan itu adalah KH Ahmad Syauqi Chowas. Pengasuh salahsatu pondok pesantren di Buntet, Astanajapura, Cirebon mengaku sangat senang sekaligus bangga, karena tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan baik ini.

“Seleksi dilakukan pada bulan November. Senang akhirnya lolos,” kata pria yang akrab disapa Kang Ugi itu seraya mengaku hanya berbekal semangat dan keberanian untuk mengikuti pelatihan di negara Timur Tengah itu.

Menurutnya, di Universitas Al Azhar para peserta akan mengikuti pelatihan dai dan imam selama dua bulan. Materi yang akan diterima seputar dakwah dan syariat Islam dari dosen-dosen Al Azhar University.

“Tentunya kami bukan hanya akan mendapatkan ilmu pengetahuan dari pusat pendidikan tertua di dunia itu, tetapi juga pengalaman yang sangat berharga,” sambung dia Kamis (20/2/2020).

Kenapa Al Azhar University yang dipilih sebagai tempat untuk menggembleng ulama muda tentang dakwah? Yang pertama, beber dia, karena Al Azhar adalah pusat pendidikan terbesar dan tertua di dunia yang telah banyak mencetak ulama besar. Yang kedua, karena Al Azhar ada di Mesir, sebagaimana dalam ayat Alquran yang menyebutkan; Datanglah ke Mesir karena kalian akan mendapatkan apa yang kalian cari.

Yang ketiga, lanjut dia, Al Azhar mempunya visi dan misi yang sejalan dengan Nahdlatul Ulama (NU) dalam dakwah Islam, dakwah moderat dengan prinsip T3 yakni tasamuh atau toleransi, tawasut atau moderat, dan tawazun yaitu seimbang atau balance. “Selain tentu Mesir mempunyai kesamaan dengan Indonesia yang multietnis dan multiagama,” tambah dia.

Lebih jauh Kang Ugi menampaikan, persoalan yang dihadapi saat ini adalah tantangan dakwah yang semakin dahsyat, baik internal maupun eksternal. Kemajuan teknologi menjadi tantangan tersebesar dalam berdakwah, karena masyarakat dari semua kalangan, mulai balita sampai lansia dapat dengan mudah meakses informasi.

Namun demikian, ia menyarankan untuk tidak menutup sebelah mata, karena teknologi pun bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai media dakwah. Melalui teknologi, semua bisa menyampaikan pesan-pesan moral seluas-luasnya kepada umat dengan metode yang telah disampaikan dalam Alquran yakni bilhikmati wal mauidzotil hasanah, tanpa meninggalkan dakwah konvensional yang sudah lama dilakukan para ulama.

“Itu sejalan dengan motto NU, almuhafadzotu ‘alal qadimi al sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah,” tutur ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCNU Kabupaten Cirebon itu.

Apakah diperlukan perubahan strategi dakwah NU pasca pelatihan? Kang Ugi berpandangan, dakwah yang dilakukan para ulama NU harus dipertahankan, karena terbukti telah mengakar pada masyarakat khususnya indonesia.

“Ini adalah warisan leluhur, dalam hal ini para Wali Songo telah melakukan hal terbaik untuk bangsa ini dengan memadukan budaya dan agama sebagai metode dakwah yang efektif menurut saya. Tentunya dengan melakukan inovasi yang tidak bertentangan dengan syariat,” tukasnya menutup wawancara bersama cirebonplus.com. (Dewo)

Related Articles